Kamis, 05 Desember 2013

Belajar Itu Bisa Menyenangkan

Anak-anak duduk diam dalam deretan meja yang tidak pernah berganti susunannya dari tahun ke tahun, dari pagi sampai siang. Inilah pemandangan umum kelas-kelas sekolah di Indonesia. Ini baru pemandangan sepintas. Kalau lebih diperhatikan, akan tampak wajah-wajah tegang menanti berbunyinya bel tanda pulang, dan...bebas!
            Mengapa demikian? Karena mereka sedang belajar. Belajar itu tidak boleh main-main. Harus serius. Materi yang dipelajari begitu banyak. Yang harus dihafalkan tentu saja tak kalah banyak. Kalau main-main pasti ketinggalan.
            Memang benar, yang namanya belajar itu harus serius. Tapi serius bukan berarti kaku, penuh larangan dan peraturan. Apalagi dalam belajar. Belajar merupakan kegiatan yang menggunakan banyak aspek. Ada emosi yang bermain disana. Emosi positif terbukti mendukung efektivitas belajar. Rasa takut, cemas, dan ketegangan tidak bisa memaksimalkan potensi otak.
            Bagaimana belajar bisa menyenangkan? Sebagai orang yang berinteraksi dengan anak, guru harus bisa melepaskan semua ketegangan anak. Tidak perlu ragu untuk bercanda dan bermain-main dengan mereka. Ini sama sekali tidak menurunkan wibawa guru. Cobalah untuk lebih terbuka, dekat, dan akrab dengan mereka. Menanyakan kabar atau ngobrol tentang kegemaran bisa jadi salah satu caranya.
            Selain itu, simpanlah dulu buku paket. Buat kegiatan belajar yang tidak biasa, bukan hanya ceramah, mengerjakan tugas atau membaca. Misalnya bermain drama atau game. Pada awalnya (mungkin) anak akan canggung atau ragu-ragu. Tidak apa-apa, karena nanti mereka akan minta lagi. Kegiatan belajar lain yang menantang juga harus dicoba.

Lingkungan yang Kondusif Untuk Belajar

Lingkungan belajar tidak terbatas pada lingkungan fisik saja. Atmosfer yang dibangun juga merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh cukup besar terhadap suasana pembelajaran. Suasana kelas merupakan pencerminan gaya manajemen kelas yang diterapkan guru.
Gaya manejemen yang permisif membiarkan anak melalukan apapun yang diinginkan tanpa ada kontrol yang kuat, serta tidak ada dukungan untuk mengembangkan keterampilan belajar. Akibatnya anak secara akademis kurang menguasai dan mempunyai kontrol diri yang lemah.
Gaya manejemen kelas yang otoritarian menekankan pada ‘ketertiban’, suasana yang kaku dan jalinan komunikasi yang buruk. Relasi guru-murid seperti halnya penguasa-rakyat, atasan-bawahan. Dalam kelas seperti ini anak-anak tidak berkembang kemampuan berpikir kreatif karena selalu dibatasi. Cenderung pasif dan tidak percaya diri. Kemampuan berkomunikasi dan mengekspresikan diri juga kurang berkembang.
Gaya manajemen kelas yang lebih baik adalah gaya otoritatif. Dalam gaya ini, anak memperoleh kebebasan tetapi masih ada kontrol-kontrol yang sifatnya tidak membatasi. Guru membuat aturan ataupun prosedur berdasarkan masukan dari anak, serta memberi penjelasan logis kenapa aturan tersebut dibuat.
Suasana kelas dibuat nyaman, dimana anak terbebas dari perasaan tertekan, cemas, dan takut, sekaligus penuh dengan tantangan. Kenyamanan dibangun oleh adanya penerimaan dan perasaan dipahami oleh orang lain. Dalam hal ini, guru memberi teladan bagaimana menerima orang lain apa adanya serta menunjukkan empati dan simpati kepada orang lain. 
Penerimaan dan empati melahirkan rasa percaya diri dan menumbuhkan kepercayaan pada orang lain. Selanjutnya, hal ini akan mengangkat harga diri sang anak sehingga bisa mengaktualisasikan kemampuan dengan lebih baik. Ini adalah modal yang sangat berharga bagi kemajuan pembelajaran dan perkembangan kepribadian.

Selasa, 03 Desember 2013

Sekolah Sebagai Lahan Bersemainya Kreativitas

                   Meski tidak mutlak, tapi tak dapat pula disangkal bahwa kreativitas merupakan salah satu penggerak kemajuan. Dengan demikian seharusnya kreativitas memperoleh perhatian yang cukup. Namun ternyata banyak yang salah memahami kreativitas. Kreativitas dimaknai sebuah karya seni yang indah. Padahal definisi kreativitas tidak seperti itu. Kreativitas adalah bagaimana kita bisa berpikir luas, banyak opsi, dan memutuskan pilihan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Di sekolah pun kreativitas tidak dipandang penting. Guru dan orangtua lebih mementingkan anaknya mendapatkan nilai yang bagus daripada terasah keterampilannya. Ini bukan berarti anak yang kraetif nilainya akan jelek. Bahkan sebaliknya. Seharusnya sekolah mengembangkan kreativitas anak melalui kegiatan belajar.
                   Bagaimana caranya supaya kreatititas bisa tumbuh dengan baik di sekolah? Yang terlebih dahulu dibangun adalah lingkungan yang memungkinkan kreatifitas bisa berkembang. Inilah suasana sekolah yang memperhatikan kebutuhan berkembangnya kreatifitas. Kreativitas akan berkembang dalam suasana yang terbebas dari rasa cemas dan tekanan.
                   Yang kedua adalah jadwal yang fleksibel. Keteraturan memang penting. Tapi harus diingat pula bahwa anak perlu ruang dan waktu untuk berekspresi. Bisa jadi sebuah kegiatan membuat anak begitu asyik dan lancar dalam mengalirkan ide-idenya, sehingga melebihi waktu yang sudah ditentukan. Inilah pentingnya kegiatan belajar mengajar tidak harus selalu sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat.
                    Ketiga, dukungan teman. Anak-anak hendaknya selalu didorong untuk berbagi ide dengan temannya, bukan hanya dengan guru. Mereka juga diajarkan cara memberikan umpan balik sehingga ide semakin berkembang, bukan memberikan tanggapan yang negatif yang mematikan berkembangnya ide.                            Yang keempat, fokus pada proses. Kreativitas adalah bagaimana menghasilkan ide-ide baru. Di dalamnya ada proses mengamati, berpikir, mencari cara baru, dan mengambil keputusan. Semua hal itu terjadi karena ada proses berkreasi. Keterampilan proses inilah uyang seharusnya dikembangkan. Selanjutnya adalah menghilangkan kompetisi dan iming-iming hadiah.
                    Kreativitas dipupuk ketika anak menikmati kegiatan dengan dorongan yang murni untuk berkreasi, tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan, tanpa ambisi untuk jadi juara. Ketika mengikuti perlombaan, setidaknya ada tiga hal yang dirasakan anak. Pertama, anak-anak berhati-hati dan “bermain aman”. Mereka mengurangi keberanian untuk bereksplorasi.
                     Kedua, anak-anak mempunyai beban untuk menyenangkan orang lain dan kehilangan motivasi intrinsiknya. Ketiga, anak-anak cendrung terburu-buru. Semua hal tersebut mengakibatkan karya yang dihasilkan kurang spontan,kurang kompleks, dan kurang variasi. Dengan kata lain kurang kreatif. Cara menumbuhkan kreativitas di sekolah selanjutnya adalah adanya apresiasi atas ide kreatif anak. Guru tidak perlu takut bila ide-ide anak mengalir ke berbagai arah. Dunia anak adalah dunia imajinatif yang penuh dengan ide-ide orisinal yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Guru sebagai orang dewasa dengan pemikiran yang lebih matang hendaknya mengarahkan ide-ide anak sehingga membantu anak untuk berpikir secara sistematis.
                       Demikianlah, mendidik anak menjadi kreatif membutuhkan keberanian. Keberanian untuk keluar dari praktik pengajaran konvensional yang hanya mengandalkan hafalan. Keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Keberanian untuk memberikan ruang lebih lapang kepada anak berkreasi. Keberanian membebaskan anak mengungkapkan gagasan, ide, dan pendapat. Lebih dari itu, dan yang paling penting adalah gurunya harus kreatif. Kalau guru tidak kreatif, lalu anak mendapatkan contoh dari siapa?