Apa
yang terlintas dalam pikiran Anda saat mendengar kata belajar? Buku, menghafal,
atau membosankan dan menyebalkan? Jangan khawatir, Anda tidak salah. Belajar
selalu diidentikkan dengan belajar dan menghafal.
Lalu kenapa? Tidak ada masalah kan
dengan semua itu? Eit, tunggu dulu. Pengidentikkan belajar seperti itu ternyata
membawa kita ke ‘jalan sesat’! Ah, masa, sih? Ya, tentu saja Anda berhak untuk
setuju atau tidak.
Otak kita merupakan sebuah sistem
yang super super canggih. Ia mampu bekerja begitu hebatnya. Seluruh aktivitas
tubuh kita dikendalikan otak. Tapi lebih hebatnya lagi, ternyata itu hanya
sebagian kecil kemampuan otak. Pernahkah kita merenungi dan mensyukuri hal ini?
Kalau mempelajari atau paling tidak mengetahuinya, saya yakin kita pernah
melakukannya.
Lalu kalau kita pernah mempelajari
atau mengetahuinya, kenapa kita tidak membawanya dalam ranah yang lebih tinggi?
Mengapa kita tidak mampu menginternalisasikannya sehingga menjadi sebuah nilai
yang membuat kita bersyukur?
Saya yakin hal tersebut terjadi karena
ada sebuah sistem yang tidak mengantarkan kita sampai ke sana. Sistem yang saya maksud adalah cara belajar
kita. Kita belajar hanya sebatas menghafal. Kita menghafal karena itu yang akan
ditanyakan di ujian. Mengapa yang diuji hanya hafalan saja? Berapa banyak, sih
guru yang menguji siswanya dengan soal analisa atau kemampuan mengevaluasi?
Apakah kompetensi itu sama dengan
kemampuan menghafal? Apakah banyaknya hafalan menunjukkan tingkat
kompetensi? Apakah perlu menghafal semua
materi yang ada dalam kurikulum? Apa manfaatnya di kemudian hari?
Ada tiga ranah dalam kompetensi;
kognitif, psikomotor, dan afektif. Artinya kompetensi tidak bisa disamaartikan
dengan pemahaman, penguasaan materi semata. Ada perilaku yang harus
ditunjukkan. Lebih tepat kalau kompetensi disandingkan dengan kemampuan memecahkan
masalah. Ada pemahaman masalah, alternatif solusi, referensi pengambilan
keputusan, serta tindakan yang bertanggung jawab dan rasional.
So, belajar harus bisa lebih jauh
dari sekedar menghafal. Memori otak kita terlalu sia-sia kalau hanya dipenuhi dengan
hafalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar