Senin, 27 Januari 2014

Belajar

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda saat mendengar kata belajar? Buku, menghafal, atau membosankan dan menyebalkan? Jangan khawatir, Anda tidak salah. Belajar selalu diidentikkan dengan belajar dan menghafal.
            Lalu kenapa? Tidak ada masalah kan dengan semua itu? Eit, tunggu dulu. Pengidentikkan belajar seperti itu ternyata membawa kita ke ‘jalan sesat’! Ah, masa, sih? Ya, tentu saja Anda berhak untuk setuju atau tidak.
            Otak kita merupakan sebuah sistem yang super super canggih. Ia mampu bekerja begitu hebatnya. Seluruh aktivitas tubuh kita dikendalikan otak. Tapi lebih hebatnya lagi, ternyata itu hanya sebagian kecil kemampuan otak. Pernahkah kita merenungi dan mensyukuri hal ini? Kalau mempelajari atau paling tidak mengetahuinya, saya yakin kita pernah melakukannya.
            Lalu kalau kita pernah mempelajari atau mengetahuinya, kenapa kita tidak membawanya dalam ranah yang lebih tinggi? Mengapa kita tidak mampu menginternalisasikannya sehingga menjadi sebuah nilai yang membuat kita bersyukur?
            Saya yakin hal tersebut terjadi karena ada sebuah sistem yang tidak mengantarkan kita sampai ke sana.  Sistem yang saya maksud adalah cara belajar kita. Kita belajar hanya sebatas menghafal. Kita menghafal karena itu yang akan ditanyakan di ujian. Mengapa yang diuji hanya hafalan saja? Berapa banyak, sih guru yang menguji siswanya dengan soal analisa atau kemampuan mengevaluasi?
            Apakah kompetensi itu sama dengan kemampuan menghafal?  Apakah  banyaknya hafalan menunjukkan tingkat kompetensi? Apakah perlu  menghafal semua materi yang ada dalam kurikulum? Apa manfaatnya di kemudian hari?
            Ada tiga ranah dalam kompetensi; kognitif, psikomotor, dan afektif. Artinya kompetensi tidak bisa disamaartikan dengan pemahaman, penguasaan materi semata. Ada perilaku yang harus ditunjukkan. Lebih tepat kalau kompetensi disandingkan dengan kemampuan memecahkan masalah. Ada pemahaman masalah, alternatif solusi, referensi pengambilan keputusan, serta tindakan yang bertanggung jawab dan rasional.
            So, belajar harus bisa lebih jauh dari sekedar menghafal. Memori otak kita terlalu sia-sia kalau hanya dipenuhi dengan hafalan. 
           
           
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar