Minggu, 23 Oktober 2016

FIRST Untuk Berpikir Kreatif

                Ketika semua kemudahan -sebagai ekses kemajuan teknologi- tidak disertai kesadaran bahwa ada sisi lain yang siap menggerus kemampuan potensial manusia, maka sebenarnya kita sedang menggali kuburan untuk diri sendiri. Serem? Ah, tidak juga.
                Katanya, manusia baru menggunakan sekitar 10% kapasitas kemampuan otak. Itu dulu, belasan dan puluhan tahun yang lalu, masa ketika manusia belum dimanjakan dengan dunia digital.  Saat dimana segala informasi masih mengandalkan otak sebagai tempat penyimpanan utama. Saat . dimana otak sangat diandalkan untuk merimajinasi dan mengkreasi hal-hal baru.
                Sekarang, masa kini, kita lebih sangat tergantung pada koneksi internet, baik untuk mengakses informasi, menyimpan data, atau pun mencari ide (baca: lihat ide yang sudah ada sebelumnya). Jelas sudah, otak semakin kita kurangi bebannya. Maksudnya kapasitas otak yang kita pakai semakin berkurang. Celakanya, otak bukan barang buatan manusia yang kalau sering dipakai akan semakin aus atau usang. Otak semakin sering dipakai ia akan semakin kuat dan cemerlang. Sama dengan otot.
                Dan kita pun semakin terlena dan kian manja. Sedikit-sedikit googling. Banyak solusi di sana, kenapa harus capek-capek mikir? Tanpa disadari, cara bertindak seperti ini membuat kita menumpulkan kemampuan (potensi) berpikir kreatif yang kita punya. Ketika menulis ini saya juga sadar, bahwa dunia virtual juga membuat orang terpacu untuk berpikir kreatif.
                Apakah berpikir kreatif itu? Berani keluar dari kebiasaan atau cara berpikir yang kita miliki selama ini, itulah kemampuan berpikir kreatif.  Intinya adalah keberanian berpikir bebas dan mengambil risiko. Sama sekali bukan masalah tentang mainstream atau anti mainstream.
                Pikiran yang positif adalah modal utama. Dr. John Langrehr mempunyai formula untuk berpikir positif dengan akronim FIRST. F adalah fantasi. Anak kecil umumnya lebih kuat daya fantasinya dibandingkan dengan orang dewasa. Kenapa? Salah satunya karena orang dewasa sudah terkontaminasi oleh pendidikan formal yang kurang menghargai fantasi.
                Selanjutnya adalah I: inkubasi. Orang yang kreatif itu tidak buru-buru. Ia akan membiarkan ide-idenya mengendap untuk beberapa waktu, sambil memikirkan solusi kreatif lainnya yang bisa jadi lebih baik. Kalau Anda terbiasa menggunakan mind mapping, sangat mudah memahami bahwa satu ide akan memantik ide-ide lainnya.
                R adalah risiko. Bisa jadi ide kreatif akan mengalami kegagalan atau tidak diterima orang lain. Orang yang kreatif harus berani mengambil risiko. Sesuatu yang hebat tidak tercipta begitu saja, ia akan menempuh masa kegagalan dan perbaikan. Dan yang pasti sesuatu tidak akan pernah menjadi kenyataan kalau tidak pernah dibuat, baik itu benda atau ide pemikiran.
                S, sensitivitas. Seorang pemikir kreatif sering mengamati benda, baik yang dibuat manusia atau yang alami. Ia selalu mengajukan pertanyaan kenapa bentuk, bahan, desaainnya seperti itu. Mengapa susunan huruf di keyborad seperti itu? Kenapa tulisan hurufnya tidak di tengah, tapi di sisi kiri atas? Mengapa tombol hurufnya berentuk persegi yang sudutnya tidak tajam? Biasakan menganalisa desain kreatif yang ada di sekitar kita.
                Terakhir T: titillate (bergairah). Ide kreatif akan mengalir saat kita dalam kondisi penuh semangat. Otak memerlukan suasana yang rileks agar dapat berpikir kreatif secara efektif. Dalam keadaan rileks, gelombang yang mengalir dalam otak adalah gelombang theta, dan otak menghasilkan endorfin (molekul bahagia). Dua faktor ini diperlukan saat kita konsentrasi tinggi untuk menghasilkan pemikiran kreatif.
                Kelima hal tersebut dibangun bukan hanya untuk kita sendiri. Ketika kita bekerja sebagai sebuah tim atau kita sedang melatihkan pemikiran kreatif kepada anak-anak kita, maka jadikan kelimanya sebagai fondasi kokoh bagi berdirinya bangunan kreatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar