Ketika semua
kemudahan -sebagai ekses kemajuan teknologi- tidak disertai kesadaran bahwa ada
sisi lain yang siap menggerus kemampuan potensial manusia, maka sebenarnya kita
sedang menggali kuburan untuk diri sendiri. Serem? Ah, tidak juga.
Katanya, manusia baru
menggunakan sekitar 10% kapasitas kemampuan otak. Itu dulu, belasan dan puluhan
tahun yang lalu, masa ketika manusia belum dimanjakan dengan dunia digital. Saat dimana segala informasi masih mengandalkan
otak sebagai tempat penyimpanan utama. Saat . dimana otak sangat diandalkan
untuk merimajinasi dan mengkreasi hal-hal baru.
Sekarang, masa kini, kita lebih
sangat tergantung pada koneksi internet, baik untuk mengakses informasi,
menyimpan data, atau pun mencari ide (baca: lihat ide yang sudah ada
sebelumnya). Jelas sudah, otak semakin kita kurangi bebannya. Maksudnya kapasitas
otak yang kita pakai semakin berkurang. Celakanya, otak bukan barang buatan
manusia yang kalau sering dipakai akan semakin aus atau usang. Otak semakin
sering dipakai ia akan semakin kuat dan cemerlang. Sama dengan otot.
Dan kita pun semakin terlena dan
kian manja. Sedikit-sedikit googling. Banyak solusi di sana, kenapa harus
capek-capek mikir? Tanpa disadari, cara bertindak seperti ini membuat kita
menumpulkan kemampuan (potensi) berpikir kreatif yang kita punya. Ketika menulis
ini saya juga sadar, bahwa dunia virtual juga membuat orang terpacu untuk
berpikir kreatif.
Apakah berpikir kreatif itu? Berani
keluar dari kebiasaan atau cara berpikir yang kita miliki selama ini, itulah
kemampuan berpikir kreatif. Intinya adalah
keberanian berpikir bebas dan mengambil risiko. Sama sekali bukan masalah
tentang mainstream atau anti mainstream.
Pikiran yang positif adalah
modal utama. Dr. John Langrehr mempunyai formula untuk berpikir positif dengan
akronim FIRST. F adalah fantasi. Anak kecil umumnya lebih kuat daya fantasinya
dibandingkan dengan orang dewasa. Kenapa? Salah satunya karena orang dewasa sudah
terkontaminasi oleh pendidikan formal yang kurang menghargai fantasi.
Selanjutnya adalah I: inkubasi. Orang
yang kreatif itu tidak buru-buru. Ia akan membiarkan ide-idenya mengendap untuk
beberapa waktu, sambil memikirkan solusi kreatif lainnya yang bisa jadi lebih
baik. Kalau Anda terbiasa menggunakan mind mapping, sangat mudah memahami bahwa
satu ide akan memantik ide-ide lainnya.
R adalah risiko. Bisa jadi ide
kreatif akan mengalami kegagalan atau tidak diterima orang lain. Orang yang
kreatif harus berani mengambil risiko. Sesuatu yang hebat tidak tercipta begitu
saja, ia akan menempuh masa kegagalan dan perbaikan. Dan yang pasti sesuatu
tidak akan pernah menjadi kenyataan kalau tidak pernah dibuat, baik itu benda
atau ide pemikiran.
S, sensitivitas. Seorang pemikir
kreatif sering mengamati benda, baik yang dibuat manusia atau yang alami. Ia selalu
mengajukan pertanyaan kenapa bentuk, bahan, desaainnya seperti itu. Mengapa susunan
huruf di keyborad seperti itu? Kenapa tulisan hurufnya tidak di tengah, tapi di
sisi kiri atas? Mengapa tombol hurufnya berentuk persegi yang sudutnya tidak
tajam? Biasakan menganalisa desain kreatif yang ada di sekitar kita.
Terakhir T: titillate
(bergairah). Ide kreatif akan mengalir saat kita dalam kondisi penuh semangat. Otak
memerlukan suasana yang rileks agar dapat berpikir kreatif secara efektif. Dalam
keadaan rileks, gelombang yang mengalir dalam otak adalah gelombang theta, dan
otak menghasilkan endorfin (molekul bahagia). Dua faktor ini diperlukan saat
kita konsentrasi tinggi untuk menghasilkan pemikiran kreatif.
Kelima
hal tersebut dibangun bukan hanya untuk kita sendiri. Ketika kita bekerja
sebagai sebuah tim atau kita sedang melatihkan pemikiran kreatif kepada
anak-anak kita, maka jadikan kelimanya sebagai fondasi kokoh bagi berdirinya
bangunan kreatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar