Ah, otak kita, betapa banyak ia terbelenggu. Tanpa disadari
otak kita sudah tersekat-sekat oleh yang namanya definisi, arti kata,
pengalaman, doktrin, pendapat, asumsi, ataupun namanya. Contoh sederhananya
kalau mendengar kata pahlawan pasti otak kita dengan segera mengakses nama-nama
seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Bung Tomo, atau Jendral Besar
Soedirman. Begitu kata pahlawan disebut dengan segera imajinasi kita melyang ke
medan juang pertempuran melawan tirani penjajahan. Begitu kata pahlawan disebut
dengan segera kita menghubungkannya dengan seseorang yang gagah berani
menggerakkan orang lain untuk menganbkat senjata.
Ya,
pahlawan adalah orang besar. Bahkan nyata-nyata begitu besar badannya. Pahlawan
adalah orang kekar, pandai dalam olah kanuragan, piawi menjatuhkan lawan.
Eit,
tunggu dulu! Apakah ini adil? Lalu bagaimana nasib orang-orang yang memang tidak
dikaruniai kemampuan beladiri sehingga bisa membela yang tertindas? Bagaimana
nasib wong cilik (ehm..) yang tidak punya kuasa untuk menggerakkan orang lain?
Bagaimana pula dengan orang susah yang waktunya dihabiskan untuk memcukupi
kebutuhan hidup yang ternyata tak tercukupi?
Sejatinya
pahlawan adalah orang yang memberi jasa. Bukan sekedar jasa saja, tetapi juga
pengaruh besar terhadap kehidupan. Bisa kehidupan seseorang ataupun banyak
orang. Nah, sampai di sini rasanya ada titik terang: siapa saja bisa dan berhak
menjadi pahlawan.
Mari lihat
di sekitar kita, berapa banyak yang berjasa bagi kita. Yang pertama tentu saja
adalah orangtua kita. Saya yakin semua sepakat bahwa jasa orangtua begitu besar
terhadap kehidupan kita, terlepas dari semua ketidaksempurnaan. Dan memang
tidak perlu sempurna untuk menjadi pahlawan. Lagi pula, saat ini siapakah sih
manusia sempurna?
Kita lihat
orang yang lain. Tukang sampah misalnya, profesi yang sering dipandang sebelah
mata. Tapi coba kalau tidak ada tukang sampah, bagaimana dengan sampah kita?
Tukang parkir, tukang pangkas rambut, petani, penjahit, guru, dan masih banyak
lagi orang yang layak kita sebut pahlawan.
Itu semua
tentang orang lain. Pernahkah kita menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri? Memang
bisa, ya?
Memang,
sih kita sebagai manusia yang disebut sebagai makhluk sosial selalu butuh orang
lain. Tapi tidak semua tergantung pada orang lain. Banyak hal yang harus dan
bisa dilakukan sendiri supaya maju dan berkembang.
Nah,
ketika berusaha menolong diri sendiri dan berhasil, saat itulah kita menjadi
pahlawan untuk diri sendiri. Oh, ternyata menjadi pahlawan tidaklah rumit. Cukup
lakukan lakukan yang terbaik, tanpa memusingkan apakah kita akan disebut pahlawan atau tidak. Yang lebih penting bukan
gelar pahlawan, melainkan tindak kepahlawanan.
Yang terpenting
dan harus selalu diingat adalah niat. Berbuat baik jangan diniatkan supaya jadi
(atau disebut) pahlawan. Berbuat baik diniatkan sebagai bentuk ibadah dan
kepatuhan kita pada Sang Khalik, Allah SWT.









