Selasa, 10 November 2015

Tak Perlu Menjadi Besar Untuk Menjadi Seorang Pahlawan

Ah, otak kita, betapa banyak ia terbelenggu. Tanpa disadari otak kita sudah tersekat-sekat oleh yang namanya definisi, arti kata, pengalaman, doktrin, pendapat, asumsi, ataupun namanya. Contoh sederhananya kalau mendengar kata pahlawan pasti otak kita dengan segera mengakses nama-nama seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Bung Tomo, atau Jendral Besar Soedirman. Begitu kata pahlawan disebut dengan segera imajinasi kita melyang ke medan juang pertempuran melawan tirani penjajahan. Begitu kata pahlawan disebut dengan segera kita menghubungkannya dengan seseorang yang gagah berani menggerakkan orang lain untuk menganbkat senjata.
                Ya, pahlawan adalah orang besar. Bahkan nyata-nyata begitu besar badannya. Pahlawan adalah orang kekar, pandai dalam olah kanuragan, piawi menjatuhkan lawan.
                Eit, tunggu dulu! Apakah ini adil? Lalu bagaimana nasib orang-orang yang memang tidak dikaruniai kemampuan beladiri sehingga bisa membela yang tertindas? Bagaimana nasib wong cilik (ehm..) yang tidak punya kuasa untuk menggerakkan orang lain? Bagaimana pula dengan orang susah yang waktunya dihabiskan untuk memcukupi kebutuhan hidup yang ternyata tak tercukupi?
                Sejatinya pahlawan adalah orang yang memberi jasa. Bukan sekedar jasa saja, tetapi juga pengaruh besar terhadap kehidupan. Bisa kehidupan seseorang ataupun banyak orang. Nah, sampai di sini rasanya ada titik terang: siapa saja bisa dan berhak menjadi pahlawan.
                Mari lihat di sekitar kita, berapa banyak yang berjasa bagi kita. Yang pertama tentu saja adalah orangtua kita. Saya yakin semua sepakat bahwa jasa orangtua begitu besar terhadap kehidupan kita, terlepas dari semua ketidaksempurnaan. Dan memang tidak perlu sempurna untuk menjadi pahlawan. Lagi pula, saat ini siapakah sih manusia sempurna?
                Kita lihat orang yang lain. Tukang sampah misalnya, profesi yang sering dipandang sebelah mata. Tapi coba kalau tidak ada tukang sampah, bagaimana dengan sampah kita? Tukang parkir, tukang pangkas rambut, petani, penjahit, guru, dan masih banyak lagi orang yang layak kita sebut pahlawan.
                Itu semua tentang orang lain. Pernahkah kita menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri? Memang bisa, ya?
                Memang, sih kita sebagai manusia yang disebut sebagai makhluk sosial selalu butuh orang lain. Tapi tidak semua tergantung pada orang lain. Banyak hal yang harus dan bisa dilakukan sendiri supaya maju dan berkembang.
                Nah, ketika berusaha menolong diri sendiri dan berhasil, saat itulah kita menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Oh, ternyata menjadi pahlawan tidaklah rumit. Cukup lakukan lakukan yang terbaik, tanpa memusingkan apakah kita akan disebut  pahlawan atau tidak. Yang lebih penting bukan gelar pahlawan, melainkan tindak kepahlawanan.
                Yang terpenting dan harus selalu diingat adalah niat. Berbuat baik jangan diniatkan supaya jadi (atau disebut) pahlawan. Berbuat baik diniatkan sebagai bentuk ibadah dan kepatuhan kita pada Sang Khalik, Allah SWT.

Bandung Barat, 10 Nopember 201

Rabu, 18 Maret 2015

HP yang Hilang


> Skenario 1:
Andaikan Anda sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, Anda berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Anda tidak menyadari handphone Anda terjatuh. Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada Anda.
"Pak/ Bu, handphone Anda barusan jatuh nih," kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik Anda.
Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.
> Skenario 2:
Handphone Anda terjatuh dan ada orang yang melihat dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik Anda tetapi tidak langsung memberikannya. Hingga tiba saatnya Anda akan turun dari kereta dan baru menyadari handphone Anda hilang. Sesaat sebelum Anda turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone sambil berkata,
"Pak/ Bu, handphone bapak barusan jatuh nih." Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut. Rasa terima kasih yang Anda berikan akan lebih besar daripada rasa
terima kasih yang Anda berikan pada orang di skenario pertama (orang
yang langsung memberikan handphone itu kepada Anda).
> Skenario 3
Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, hingga Anda menyadari handphone tidak ada di kantong saat Anda sudah turun dari kereta. Anda pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone Anda, berharap ada orang baik yang menemukan handphone Anda dan bersedia mengembalikannya kepada Anda.
Orang yang sejak tadi menemukan handphone Anda (namun tidak
memberikannya) menjawab telepon.
"Halo, selamat siang, Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," Anda mencoba bicara kepada orang yang sangat Anda harapkan berbaik hati mengembalikanhandphone tersebut.
Orang yang menemukan handphone Anda berkata, "Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya."
Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, Anda pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut. Orang itu pun memberikan handphone Anda yang telah hilang. Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Satu hal yang pasti, Anda akan mengucapkan terima kasih, dan sepertinya
akan lebih besar daripada rasa terima kasih Anda pada skenario kedua
bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini Anda akan memberikan hadiah kecil kepada
orang yang menemukan handphone tersebut.
> Skenario 4
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun
dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita
mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Jumat, 13 Maret 2015

10 Keterampilan Anak yang Harus Diasah

Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting, menekankan pentingnya menguasai keterampilan dasar akademis yang tepat, sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. “Jika anak dipaksakan belajar dengan cara dan di waktu yang tidak tepat, bisa jadi ia belum siap, jadi cepat jenuh, tidak percaya diri, dan menjadi pribadi yang kaku.”


Ia mencontohkan metode belajar calistung (baca-tulis-hitung) di usia dini. “Belajar calistung di usia dini harusnya mengajarkan konsep, bukan cara menulis atau praktek berhitung. Misalnya, konsep letak, bentuk, ukuran, dan volume. Jadi,anak diajari kanan dan kiri, bentuk persegi atau lingkaran, besar dan kecil, serta banyak atau sedikit.”

Belajar keterampilan yang tepat di tahap perkembangan yang tepat akan membantu anak memupuk minat terhadap bidang akademis. Selain fisiknya yang lebih mendukung, ia juga akan memiliki modal kognitif yang membantunya lebih mudah menguasai keterampilan.

Apakah ada keterampilan lain yang dianggap penting untuk anak? World Health Organization (WHO) menyebutkan, ada 10 keterampilan hidup utama (core life skills) yang perlu dimiliki seseorang untuk mampu menjawab tantangan hidup sehari-hari, yaitu:
- Problem solving
- Critical thinking
- Effective sommunication
- Decision-making
- Creative thinking
- Interpersonal relationship
- Self-awareness building
- Empathy
- Coping with stress and emotions

Seluruh keterampilan hidup di atas saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Seorang anak yang memiliki self-awareness, self-esteem, dan self-confidence yang baik akan mampu menelaah kekuatan dan kelemahan pada dirinya.

Sehingga, ia akan mampu mengenali kesempatan yang terdapat di hadapannya, sekaligus menyiapkan dirinya untuk menghadapi ancaman dari luar. Pada akhirnya,anak bisa mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul dalam lingkungan dan menemukan pemecahan masalah yang tepat. Jadi, kenali keterampilan yang dimiliki anak, lalu kembangkan secara optimal.

www.parenting.co.id

Rabu, 04 Maret 2015

Agar Anak Cerdas dan Pintar, Jadilah Orangtua yang Sabar Menjawab Pertanyaan

Mengasuh anak adalah pekerjaan yang luar biasa seru dan menantang. Ya, karena kita dihadapkan pada seorang makhluk hidup yang terkadang membuat kepala berdenyut, mempunyai beragam kemauan dengan sedikit permakluman.  Mereka bisa bertingkah laku seperti nyamuk,  makhluk kecil yang menyebalkan, atau bisa seperti boneka teddy yang lucu dan menggemaskan. Mengasuh mereka menjadi menyenangkan apabila dilakukakan dengan sabar, penuh cinta. Tapi, ketika mereka mulai ‘memberikan serangan’ bagaimana kita menyikapinya?
Pertanyaan yang mengejutkan
            “Bunda, kenapa air jatuhnya cepat?’ Tanya seorang bocah berusia 3,5 tahun kepada ibunya. Untuk menjawab ‘o itu karena gaya gravitasi nak,’ sepertinya malah akan menambah waktu untuk menjawab pertanyaan selanjutnya. Dengan sekenanya ibu menjawab “kan dari atas ke bawah, Dek!”
            “Tapi pesawat dari atas ke bawah kok nggak jatuh jatuh, Bunda?” tanyanya lagi sambil bergumam.  “Mmmh, kenapa ya?’ ibu balik bertanya. Sekian detik terdiam, tiba tiba dia berteriak, “Adek tau...! pasti karena ada pak pilot dan mesinnya!’ Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum. Sang bocah pun merasa puas dan bangga bisa menemukan  jawabannya.
            Ada lagi pertanyaan dari seorang anak perempuan berusia 5 tahun. “Kenapa kakak (perempuan) nggak boleh tidur bareng ayah? Kan anak sendiri? Kenapa Ibu boleh?”  Atau berbagai bentuk protes seperti “Aku kesal Bunda nggak ijinin aku ke rumah Ando sendirian.”  “Ayah orangnya nggak asyik, masa pulang kerja langsung tidur!”
            Berbagai serangan pertanyaan dan protes itu tentu tidak bisa didiamkan begitu saja. Adalah kewajiban orangtua untuk ‘memfasilitasi’ mereka menemukan jawaban dan menangani protes-protes yang muncul di benaknya. 
Ini kiatnya
            Pertama, ajarkan mereka berpikir sebab akibat dan melingkar. Sesuaikan pola dengan kapasitas usia dan berpikir anak. Jawaban yang terlalu lurus memang biasanya akan segera menyudahi rasa keingintahuan anak, tapi itu juga akan ‘mematikan’ daya kreatifitas dan ingin tahu mereka.
          

Sabtu, 28 Februari 2015

17 RAHASIA BESAR ANAK

Kepada orangtuaku tersayang, Aku ingin sekali berbagi rahasia denganmu, tentang apa yang membuatku, sebagai anak, merasa nyaman, bisa selalu tersenyum, dan bahagia menjalani hidupku. Aku harap, semua orangtua di seluruh dunia membaca ini!
1. Ketika kau katakan padaku bahwa kau mencintaiku, aku merasa aman.
2. Ketika kau membuktikan cintamu padaku, aku tumbuh dengan percaya diri.
3. Aku merasa dicintai saat kau memberiku perhatian.
4. Ketika kau memilih tidak mengangkat telpon demi menikmati waktu bersamaku, aku merasa lebih penting dari apapun dan siapapun di dunia ini.
5. Ketika kau mengingat ha-hal kecil, seperti ukuran sepatuku, warna favoritku, hobiku, makanan kesukaanku, aku merasa berharga meski kau juga sayang pada kakak dan adik. Selalu ada beribu cara yang membuatku merasa sangat spesial.
6. Aku ingin sekali membahagiakanmu dan membuatmu bangga. Berikanlah pujian dan pengakuan padaku. Aku sangat bahagia ketika aku tau kau menyukai apa yang kulakukan.
7. Aku nyaman sekali jika kau memelukku beberapa menit sebelum aku tidur. Peluklah aku 4 kali sehari, maka aku merasa ada. Jika kau memelukku 8 kali sehari, aku merasa diterima oleh dunia. Dan peluklah aku 12 kali sehari, maka aku akan merasa sangat berharga.
8. Aku membutuhkanmu mendengarkanku. Tugas sekolah dan teman mainku membuatku merasa stress. Ketika aku pulang sekolah, dengarkan aku dengan terbuka dan jangan menilai. Aku membutuhkan empatimu dan dukunganmu.
9. Jika aku melakukan kesalahan, tolong jangan salahkan aku. Aku sudah cukup merasa bersalah. Bantu aku dengan bertanya, "Apakah kamu bisa menyelesaikan ini dengan lebih baik?", dan "Bagaimana jika kamu selesaikan ini sekarang?"
10. Ketika kau berteriak kepadaku, duniaku seakan runtuh. Aku merasa takut. Yang aku pikirkan hanyalah, "Tolong berhenti berteriak". Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Aku betul-betul merasa terancam.
11. Aku menirumu ketika kau memperlakukan orang lain. Ketika kau menghargai oranglain, aku belajar menghargaimu. Ketika kau menyelesaikan masalah dengan cara yang baik, aku belajar menyelesaikan masalah tanpa marah.
12. Jangan membuatku bingung. Kadang kau bilang sayang padaku, tapi kadang kau bilang aku membuatmu gila. Kadang aku berpikir apakah kau bahagia aku terlahir di dunia ini?
13. Bersabarlah kepadaku. Tentu saja aku bukan manusia sempurna! Aku butuh belajar, tumbuh, dan mengatasi hal-hal buruk/negatif. Tolong bantu aku dengan menekankan nilai kebaikan padaku. Tunjukkan padaku dengan kasih sayang, bagaimana yang seharusnya kulakukan. Bersabarlah dan tetaplah menjadi orang dewasa dalam hal hubungan kita. Tolong ingat berubah itu sulit, maka bantu aku menyelesaikan satu hal dalam satu waktu. Aku tidak bisa memperbaiki kesalahanku sekaligus. Jika aku mulai memberontak, cari tau penyebabnya. sesuatu yang menggangguku mungkin telah terjadi.
14. Jangan merendahkanku dan memanggilku dengan sebutan-sebutan. Aku percaya padamu, maka jika kau panggil aku bodoh, tolol, durhaka, tidak bisa diatur, tidak bisa diandalkan, nakal, bahkan memanggilku dengan sebutan hewan, aku akan tumbuh sesuai dengan apa yang kau katakana.
15. Buatlah aku merasa cukup nyaman untuk melakukan kesalahan. Tolong jangan marah ketika aku menumpahkan sesuatu atau merusak sesuatu, karena tidak sengaja. Tidak sengaja tidaklah berdosa. Aku tidak ingin tumbuh menjadi seorang perfeksionis yang takut membuat kesalahan. Kita semua pasti pernah berbuat salah. Orang cerdas belajar dari kesalahan dan berusaha tidak mengulangi lagi
16. Aku membutuhkan konsistensi di duniaku. Ketika kau menerapkan peraturan yang sama, hidup menjadi lebih mudah diperkirakan. Aku merasa jauh lebih aman mengetahui disana ada orang dewasa yang menjagaku.
17. Kau boleh menuntutku hanya untuk hal-hal yang telah kau lakukan sendiri. Aku tidak belajar dari tukang ceramah, dan hukuman meninggalkan rasa benci. Aku tidak pernah berhenti memperhatikanmu dan menyerap apapun darimu. Jika yang kau tunjukkan padaku adalah cinta dan kebaikan, aku akan menjadi sepertimu.
Mungkin aku tidak selalu melakukan apa yang kau katakan, tapi aku akan mengatakan apa yang kau katakan dan akan melakukan apa yang kau lakukan.
Penuh Cinta, 
- Anakmu-

https://www.facebook.com/FamilyGuideIndonesia/posts/10153061863570891:0


Selasa, 24 Februari 2015


Yang Kecil Sebenarnya Besar, Yang Besar Sebenarnya Kecil

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?” “Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” “Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.
“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada
si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

https://motivationplannet.wordpress.com/2009/05/21/berani-mencoba/#more-80

Sabtu, 21 Februari 2015


10 Ribu Rupiah yang Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.

Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Minggu, 15 Februari 2015

:: Yuk, Ajak Anak Kita untuk Lebih Mudah Bersyukur! ::


Tips mengenai bagaimana caranya agar anak-anak bisa tumbuh menjadi anak yang bersyukur akan apa yang dimilikinya. Simak ya!
1. Beri apresiasi kepada anak, walaupun hanya sepenggal kalimat "terima kasih"
"Adik, terima kasih ya sudah menemani mama belanja.."
"Kakak, terima kasih ya sudah mau menemani adik.."
"Nak, terima kasih ya sudah membantu ibu mengelap meja.."
Ucapan terima kasih dari Anda, atas hal-hal yang mereka lakukan dengan baik, akan membuat anak merasa diapresiasi dan dihargai; dan Anda juga menunjukkan kepada anak bahwa bersyukur dapat dilakukan atas hal-hal kecil yang ada di sekeliling kita.
2. Selama masa pertumbuhan anak, orangtua adalah panutan terbesar yang dilihat oleh anak.
Tunjukkan apresiasi Anda terhadap lingkungan dan orang–orang di sekitar Anda. Memberitahu anak untuk bersyukur memang mudah, tapi ketika Anda menunjukkannya dalam tingkah laku Anda, maka anak akan lebih bisa mencontoh dan memahami bahwa bersyukur atau berterima kasih juga harus dilakukan terhadap orang lain.
3. Jangan selalu memberikan anak apa yang mereka INGINKAN. Berikanlah apa yang mereka BUTUHKAN.

Sabtu, 14 Februari 2015

Sekolah Sebagai Lahan Bersemainya Kreativitas

Meski tidak mutlak, tapi tak dapat pula disangkal bahwa kreativitas merupakan salah satu penggerak kemajuan.  Dengan demikian seharusnya kreativitas memperoleh perhatian yang cukup. Namun ternyata banyak yang salah memahami kreativitas. Kreativitas dimaknai sebuah karya seni yang indah. Padahal definisi kreativitas tidak seperti itu. Kreativitas adalah bagaimana kita bisa berpikir luas, banyak opsi, dan memutuskan pilihan terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Di sekolah pun kreativitas tidak dipandang penting.  Guru dan orangtua lebih mementingkan anaknya mendapatkan nilai yang bagus daripada terasah keterampilannya. Ini bukan berarti anak yang kraetif nilainya akan jelek. Bahkan sebaliknya. Seharusnya sekolah mengembangkan kreativitas anak melalui kegiatan belajar. Bagaimana caranya supaya kreatititas bisa tumbuh dengan baik di sekolah?
Yang terlebih dahulu dibangun adalah lingkungan yang memungkinkan kreatifitas bisa berkembang.  Inilah suasana sekolah yang memperhatikan kebutuhan berkembangnya kreatifitas. Kreativitas akan berkembang dalam suasana yang terbebas dari rasa cemas dan tekanan.
Yang kedua adalah jadwal yang fleksibel. Keteraturan memang penting. Tapi harus diingat pula bahwa anak perlu ruang dan waktu untuk berekspresi. Bisa jadi sebuah kegiatan membuat anak begitu asyik  dan lancar dalam mengalirkan ide-idenya, sehingga melebihi waktu yang sudah ditentukan. Inilah pentingnya kegiatan belajar mengajar tidak harus selalu sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat.
Ketiga, dukungan teman.  Anak-anak hendaknya selalu didorong untuk berbagi ide dengan temannya, bukan hanya dengan guru. Mereka  juga diajarkan cara memberikan umpan balik sehingga ide semakin berkembang, bukan memberikan tanggapan yang negatif yang mematikan berkembangnya ide.
Yang keempat, fokus pada proses. Kreativitas  adalah bagaimana menghasilkan ide-ide baru. Di dalamnya ada proses mengamati, berpikir, mencari cara baru, dan mengambil keputusan. Semua hal itu terjadi karena ada proses berkreasi.  Keterampilan proses inilah uyang seharusnya dikembangkan.
Selanjutnya adalah menghilangkan kompetisi dan iming-iming hadiah. Kreativitas dipupuk ketika anak menikmati kegiatan dengan dorongan yang murni untuk berkreasi, tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan, tanpa ambisi untuk jadi juara. Ketika mengikuti perlombaan, setidaknya ada tiga hal yang dirasakan anak. Pertama, anak-anak berhati-hati dan “bermain aman”. Mereka mengurangi keberanian untuk bereksplorasi. Kedua, anak-anak mempunyai beban untuk menyenangkan orang lain dan kehilangan motivasi intrinsiknya. Ketiga, anak-anak cendrung terburu-buru. Semua hal tersebut mengakibatkan karya yang dihasilkan kurang spontan,kurang kompleks, dan kurang variasi. Dengan kata lain kurang kreatif.
Cara menumbuhkan kreativitas di sekolah selanjutnya adalah adanya apresiasi atas ide kreatif anak. Guru tidak perlu takut bila ide-ide anak mengalir ke berbagai arah. Dunia anak adalah dunia imajinatif yang penuh dengan ide-ide orisinal yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Guru sebagai orang dewasa dengan pemikiran yang lebih matang hendaknya mengarahkan ide-ide anak sehingga membantu anak untuk berpikir secara sistematis.
Demikianlah, mendidik anak menjadi kreatif membutuhkan keberanian. Keberanian untuk keluar dari praktik pengajaran konvensional yang hanya mengandalkan hafalan. Keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Keberanian untuk memberikan ruang lebih lapang kepada anak berkreasi. Keberanian membebaskan anak mengungkapkan gagasan, ide, dan pendapat.

Lebih dari itu, dan yang paling penting adalah gurunya harus kreatif. Kalau guru tidak kreatif, lalu anak mendapatkan contoh dari siapa?

Suspended Coffees

Saya memasuki sebuah kedai kopi kecil bersama seorang teman dan memesan kopi. Ketika kami sedang menuju ke meja ada dua orang yang datang kemudian mereka pergi ke counter: ‘Kami pesan lima kopi, dua untuk kami dan tiganya “ditangguhkan (suspended)". Mereka membayar pesanan mereka, mengambil hanya dua gelas saja kemudian pergi.

Saya bertanya kepada teman saya: "Apa itu ‘ kopi ditangguhkan (suspended coffees)’?" Teman saya berkata: "Tunggu dan kamu akan lihat."

Beberapa orang lagi masuk. Dua gadis memesan masing-masing satu kopi, membayar dan pergi. Pesanan berikutnya adalah tujuh kopi yang dipesan oleh tiga orang pengacara - tiga untuk mereka dan empat 'ditangguhkan’.

Terus terang saya masih bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan transaksi -kopi ditangguhkan- tadi. Sementara saya menikmati cuaca cerah dan pemandangan yang indah ke arah alun-alun di depan kafe, tiba-tiba seorang pria berpakaian lusuh yang tampak seperti seorang pengemis masuk melalui pintu dan bertanya dengan sopan kepada pelayan “apakah Anda memiliki ‘kopi ditangguhkan’? “.

Ini sederhana - seseorang membayar di muka pesanan kopinya kemudian diniatkan untuk membantu orang yang tidak mampu membeli minuman hangat. Tradisi kopi ditangguhkan ini dimulai di Naples, dan sekarang telah menyebar ke seluruh dunia bahkan di beberapa tempat Anda dapat memesan tidak hanya kopi ditangguhkan, tetapi juga sandwich atau makanan.

Alangkah indahnya, bila pemilik kedai kopi atau toko di setiap kota melakukan hal ini sehingga mereka yang kurang beruntung dapat menemukan harapan dan dukungan. Jika Anda adalah pemilik bisnis coba tawarkan hal ini kepada konsumen Anda…, kami yakin banyak diantara mereka yang mendukung dan menyukainya.

“Berilah makan yang lapar, kunjungi yang sakit dan bebaskanlah budak” (HR. Bukhori).

copas dari: http://www.kisahinspirasi.com/2014/07/suspended-coffees.html

Jumat, 13 Februari 2015

Tip Menghapal Perkalian Dalam Seminggu

Adakah suatu keharusan mengajarkan suatu perkalian pada siswa secara berurutan ? Dalam mengajarkan perkalian kepada siswa kita tidak harus mengajarkan perkalian secara berurutan mulai dari perkalian 1, 2, 3, 4 ...... sampai 10. Sebaiknya kita memulai dari yang termudah. Perkalian 1 lalu 10 siswa akan lebih mudah dan cepat menghapalnya karena perkalian dengan angka 1 dan 10 hasilnya membentuk pola angka yang sama. (perlu diingatkan penanaman konsep pada siswa dalam mengajarkan perkalian bahwa 1 x 2 itu berbeda dengan 2 x 1, dimana 1 x 2 berarti ada 1 duanya (2), sedangkan 2 x 1 berarti ada dua satunya (1+1) sehingga tidak menjadi suatu polemik dalam berhitung nantinya. Tapi 1 x 2 dan 2 x 1 akan memberikan hasil yang sama yaitu 2) Sedangkan untuk perkalian 9 merupakan langkah 3 yang harus kita berikan. Beberapa siswa umumnya kesulitan dalam menghapalkan perkalian 9. INGAT KEMBALI PENJUMLAHAN 10 Pada postingan terdahulu akan sangat membantu dalam berlatih perkalian 9. Sama dengan perkalian 1 dan 10 perkalian 9 juga membentuk pola yang mudah untuk di ingat dalam otak mereka bahwa perkalian sembilan berarti di KURANG SATU LALU KAWANNYA, misalkan 9 x 4 berarti 4 - 1 berapa? (3) kawannya 4 berapa ? (6) jadi 36. dan seterusnya. Metode dengan jari boleh tapi sebagai pembuktian saja jangan dilakukan untuk waktu yang lama. Ingatlah bahwa kita sudah mengajarkan ANGKA pada siswa berarti kita sudah memberikasn suatu bentuk yang abstrak kepada otak mereka tentang jumlah. (Pelajaran TK dan awal-awal kelas satu). Dengan mengajarkan penggunaan jari tentunya kita membawa kembali bentuk yang abstrak ke bentuk nyata. Bukankah ini suatu langkah yang menghambat kemajuan siswa untuk hapal perkalian pada akhirnya. Tidak sulit mengajarkan perkalian pada siswa setelah memberikan konsep pada mereka bahwa jika bilangan dikali 2 berarti ditambah bilangan yang sama 2 x 3 berarti 2 kali tiganya ( 3 + 3) jika siswa sudah hapal penjumlahan 1 angka tentu mudah kita mengajarkannya bukan ???. Untuk itu saya mengharapkan sebelum naik ke kelas 2 siswa memiliki kematangan dalam penjumlahan atau sebaiknya diberikan waktu tambahan pada semester 1 kelas 2 sebelum kita mengajarkan perkalian di semester 2 kelas 2 SD. Pastikan kembali kemampuan penjumlahan yang mereka miliki. Perkalian dengan angka lima membentuk pola angka akhiran yang mudah di ingat kalau tidak 0 ya angka 5. Bisa di mulai dengan mengunakan tangan 10 x 5 berati ada 5 pasang jari (Tepuk Tangan) berarti 50 hasilnya sedangkan 5 x 7 berarti ada 3 jari berpasangan 30 dan 1 jari tidak berpasangan berarti 5 sehingga 35. Sekali lagi penggunaan alat bantu tangan ini hanya sementara setelah mereka mengenal bilangan ganjil dan genap ajarkan kembali bahwa jika bilangan genap dikali 5 pasti angka satuannya 0 dan jika bilangan ganjil di kali 5 pasti angka satuannya 5. Setelah siswa menguasai perkalian 1,10. 9, 2, dan 5 maka kita dapat memulai kembali pelajaran berhitung perkalian selanjutnya. Pada perkalian 3 dan empat, diperlukan kempuan perkalian 2. Seperti kita ketahui bahwa 3 adalah (2 +1) dan 4 dapat di artikan (2+2). sehungga suatu bilangan dikalikan dengan 3 berarti dikaliakan 2 lalu ditambah bilangan itu sendiri. Misalkan 3 x 4 kita dapat menentukan hasil perkalian tersebut 3 x 4 = (2 x 4) + 4 = 8 + 4 = 12. Sedangan mengakali bilangan dengan angka 4 berarti bilangan tersebut dikali 2 lalu ditambah hasi kali dari perkalian tersebut Misalkan 4 x 6 berarti (2 x6) + (2 x6) <--> 12 + 12 = 24 Kita dapat mengetahui apakah siswa sudah memiliki kematangan dalam berhitung perkalian dengan memberikan pertanyaan perkalian 6, 7 dan 8. Terdapat kecendrungan mereka menemui kesulitan dalam menghapal perkalian tersebut. Seperti halnya perkalian 3 dan 4 yang dipelajari dengan pendekatan perkalian 2, perkalian 6, 7 dan 8 juga dapat diajarkan melalui pendekatan perkalian 5. pada penjumlahan 6 = (5 +1), 7 = (5 + 2) dan 8 = (5 + 3). misalkan 6 x 7 berarti (7 x 5) + (7 x 1) <---> 35 + 7 = 42. atau  (6 x 5) + (6 x 2) <----> 30 + 12 = 42 untuk dapat menghapal perkalian tersebut diharapkan siswa harus sudah menguasai perkalian sebelumnya sehingga dihapkan tidak mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Pendekatan dengan menggunakan jari boleh-boleh saja dilakukan. Yang perlu ditekankan hanyalah batasan waktu yang harus diperjelas. Ketika sudah naik kelas 3 siswa penggunaan jari harus dikurangi bahkan dihilangkan sebagai proses latihan menghapal. Saya lebih suka menggunakan vedic system sebagai arternatif jika beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam perkalian 6, 7, dan 8 yang menggunakan basis 10. Dalam ilmu berhitung saat ini terkenal beberapa cara berhitung vedic dengan sytem vedicnya, Bill Handley dengan SPEED MATH, Athur Benyamin dengan Mental Math. Saya mengkombinasikan cara berhitung mereka dan menyesuaikan pemikiran-pemikiran tersebut dengan lebih menekankan fungsi dan cara kerja otak dalam berhitung. Kembali kepermasalahan untuk perkalian 6, 7 dan 8. Berikut ini contoh yang dapat saya berikan. 6 ---- - 4                          dimana 6 -3 = 3 (30) dan 4 x 3 = 12 x 7 ---- - 3 ---------------- 1 3          2 = 42 7 --- - 3                          8 - 3 = 5 (50) dan 3 x 2 = 6 x 8 --- - 2 --------------- 5 ----- 6 = 56 Penggunaan sesuai dengan tujuan awal saya membuat metode berhitung seperti menulis. Bahwa berhitung dan menulis adalah kesatuan fungsi dari otak kiri. Demikianlah sesi Metode menghapal Perkalian dalam satu minggu

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/supriyadi_supray/metode-menghapal-perkalian-dalam-1-minggu_54f8fc38a33311d33b8b4972