Rabu, 18 Maret 2015

HP yang Hilang


> Skenario 1:
Andaikan Anda sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, Anda berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Anda tidak menyadari handphone Anda terjatuh. Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada Anda.
"Pak/ Bu, handphone Anda barusan jatuh nih," kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik Anda.
Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.
> Skenario 2:
Handphone Anda terjatuh dan ada orang yang melihat dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik Anda tetapi tidak langsung memberikannya. Hingga tiba saatnya Anda akan turun dari kereta dan baru menyadari handphone Anda hilang. Sesaat sebelum Anda turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone sambil berkata,
"Pak/ Bu, handphone bapak barusan jatuh nih." Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut. Rasa terima kasih yang Anda berikan akan lebih besar daripada rasa
terima kasih yang Anda berikan pada orang di skenario pertama (orang
yang langsung memberikan handphone itu kepada Anda).
> Skenario 3
Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, hingga Anda menyadari handphone tidak ada di kantong saat Anda sudah turun dari kereta. Anda pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone Anda, berharap ada orang baik yang menemukan handphone Anda dan bersedia mengembalikannya kepada Anda.
Orang yang sejak tadi menemukan handphone Anda (namun tidak
memberikannya) menjawab telepon.
"Halo, selamat siang, Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," Anda mencoba bicara kepada orang yang sangat Anda harapkan berbaik hati mengembalikanhandphone tersebut.
Orang yang menemukan handphone Anda berkata, "Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya."
Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, Anda pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut. Orang itu pun memberikan handphone Anda yang telah hilang. Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Satu hal yang pasti, Anda akan mengucapkan terima kasih, dan sepertinya
akan lebih besar daripada rasa terima kasih Anda pada skenario kedua
bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini Anda akan memberikan hadiah kecil kepada
orang yang menemukan handphone tersebut.
> Skenario 4
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun
dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita
mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Jumat, 13 Maret 2015

10 Keterampilan Anak yang Harus Diasah

Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting, menekankan pentingnya menguasai keterampilan dasar akademis yang tepat, sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. “Jika anak dipaksakan belajar dengan cara dan di waktu yang tidak tepat, bisa jadi ia belum siap, jadi cepat jenuh, tidak percaya diri, dan menjadi pribadi yang kaku.”


Ia mencontohkan metode belajar calistung (baca-tulis-hitung) di usia dini. “Belajar calistung di usia dini harusnya mengajarkan konsep, bukan cara menulis atau praktek berhitung. Misalnya, konsep letak, bentuk, ukuran, dan volume. Jadi,anak diajari kanan dan kiri, bentuk persegi atau lingkaran, besar dan kecil, serta banyak atau sedikit.”

Belajar keterampilan yang tepat di tahap perkembangan yang tepat akan membantu anak memupuk minat terhadap bidang akademis. Selain fisiknya yang lebih mendukung, ia juga akan memiliki modal kognitif yang membantunya lebih mudah menguasai keterampilan.

Apakah ada keterampilan lain yang dianggap penting untuk anak? World Health Organization (WHO) menyebutkan, ada 10 keterampilan hidup utama (core life skills) yang perlu dimiliki seseorang untuk mampu menjawab tantangan hidup sehari-hari, yaitu:
- Problem solving
- Critical thinking
- Effective sommunication
- Decision-making
- Creative thinking
- Interpersonal relationship
- Self-awareness building
- Empathy
- Coping with stress and emotions

Seluruh keterampilan hidup di atas saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Seorang anak yang memiliki self-awareness, self-esteem, dan self-confidence yang baik akan mampu menelaah kekuatan dan kelemahan pada dirinya.

Sehingga, ia akan mampu mengenali kesempatan yang terdapat di hadapannya, sekaligus menyiapkan dirinya untuk menghadapi ancaman dari luar. Pada akhirnya,anak bisa mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul dalam lingkungan dan menemukan pemecahan masalah yang tepat. Jadi, kenali keterampilan yang dimiliki anak, lalu kembangkan secara optimal.

www.parenting.co.id

Rabu, 04 Maret 2015

Agar Anak Cerdas dan Pintar, Jadilah Orangtua yang Sabar Menjawab Pertanyaan

Mengasuh anak adalah pekerjaan yang luar biasa seru dan menantang. Ya, karena kita dihadapkan pada seorang makhluk hidup yang terkadang membuat kepala berdenyut, mempunyai beragam kemauan dengan sedikit permakluman.  Mereka bisa bertingkah laku seperti nyamuk,  makhluk kecil yang menyebalkan, atau bisa seperti boneka teddy yang lucu dan menggemaskan. Mengasuh mereka menjadi menyenangkan apabila dilakukakan dengan sabar, penuh cinta. Tapi, ketika mereka mulai ‘memberikan serangan’ bagaimana kita menyikapinya?
Pertanyaan yang mengejutkan
            “Bunda, kenapa air jatuhnya cepat?’ Tanya seorang bocah berusia 3,5 tahun kepada ibunya. Untuk menjawab ‘o itu karena gaya gravitasi nak,’ sepertinya malah akan menambah waktu untuk menjawab pertanyaan selanjutnya. Dengan sekenanya ibu menjawab “kan dari atas ke bawah, Dek!”
            “Tapi pesawat dari atas ke bawah kok nggak jatuh jatuh, Bunda?” tanyanya lagi sambil bergumam.  “Mmmh, kenapa ya?’ ibu balik bertanya. Sekian detik terdiam, tiba tiba dia berteriak, “Adek tau...! pasti karena ada pak pilot dan mesinnya!’ Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum. Sang bocah pun merasa puas dan bangga bisa menemukan  jawabannya.
            Ada lagi pertanyaan dari seorang anak perempuan berusia 5 tahun. “Kenapa kakak (perempuan) nggak boleh tidur bareng ayah? Kan anak sendiri? Kenapa Ibu boleh?”  Atau berbagai bentuk protes seperti “Aku kesal Bunda nggak ijinin aku ke rumah Ando sendirian.”  “Ayah orangnya nggak asyik, masa pulang kerja langsung tidur!”
            Berbagai serangan pertanyaan dan protes itu tentu tidak bisa didiamkan begitu saja. Adalah kewajiban orangtua untuk ‘memfasilitasi’ mereka menemukan jawaban dan menangani protes-protes yang muncul di benaknya. 
Ini kiatnya
            Pertama, ajarkan mereka berpikir sebab akibat dan melingkar. Sesuaikan pola dengan kapasitas usia dan berpikir anak. Jawaban yang terlalu lurus memang biasanya akan segera menyudahi rasa keingintahuan anak, tapi itu juga akan ‘mematikan’ daya kreatifitas dan ingin tahu mereka.