Selasa, 10 November 2015

Tak Perlu Menjadi Besar Untuk Menjadi Seorang Pahlawan

Ah, otak kita, betapa banyak ia terbelenggu. Tanpa disadari otak kita sudah tersekat-sekat oleh yang namanya definisi, arti kata, pengalaman, doktrin, pendapat, asumsi, ataupun namanya. Contoh sederhananya kalau mendengar kata pahlawan pasti otak kita dengan segera mengakses nama-nama seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Bung Tomo, atau Jendral Besar Soedirman. Begitu kata pahlawan disebut dengan segera imajinasi kita melyang ke medan juang pertempuran melawan tirani penjajahan. Begitu kata pahlawan disebut dengan segera kita menghubungkannya dengan seseorang yang gagah berani menggerakkan orang lain untuk menganbkat senjata.
                Ya, pahlawan adalah orang besar. Bahkan nyata-nyata begitu besar badannya. Pahlawan adalah orang kekar, pandai dalam olah kanuragan, piawi menjatuhkan lawan.
                Eit, tunggu dulu! Apakah ini adil? Lalu bagaimana nasib orang-orang yang memang tidak dikaruniai kemampuan beladiri sehingga bisa membela yang tertindas? Bagaimana nasib wong cilik (ehm..) yang tidak punya kuasa untuk menggerakkan orang lain? Bagaimana pula dengan orang susah yang waktunya dihabiskan untuk memcukupi kebutuhan hidup yang ternyata tak tercukupi?
                Sejatinya pahlawan adalah orang yang memberi jasa. Bukan sekedar jasa saja, tetapi juga pengaruh besar terhadap kehidupan. Bisa kehidupan seseorang ataupun banyak orang. Nah, sampai di sini rasanya ada titik terang: siapa saja bisa dan berhak menjadi pahlawan.
                Mari lihat di sekitar kita, berapa banyak yang berjasa bagi kita. Yang pertama tentu saja adalah orangtua kita. Saya yakin semua sepakat bahwa jasa orangtua begitu besar terhadap kehidupan kita, terlepas dari semua ketidaksempurnaan. Dan memang tidak perlu sempurna untuk menjadi pahlawan. Lagi pula, saat ini siapakah sih manusia sempurna?
                Kita lihat orang yang lain. Tukang sampah misalnya, profesi yang sering dipandang sebelah mata. Tapi coba kalau tidak ada tukang sampah, bagaimana dengan sampah kita? Tukang parkir, tukang pangkas rambut, petani, penjahit, guru, dan masih banyak lagi orang yang layak kita sebut pahlawan.
                Itu semua tentang orang lain. Pernahkah kita menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri? Memang bisa, ya?
                Memang, sih kita sebagai manusia yang disebut sebagai makhluk sosial selalu butuh orang lain. Tapi tidak semua tergantung pada orang lain. Banyak hal yang harus dan bisa dilakukan sendiri supaya maju dan berkembang.
                Nah, ketika berusaha menolong diri sendiri dan berhasil, saat itulah kita menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Oh, ternyata menjadi pahlawan tidaklah rumit. Cukup lakukan lakukan yang terbaik, tanpa memusingkan apakah kita akan disebut  pahlawan atau tidak. Yang lebih penting bukan gelar pahlawan, melainkan tindak kepahlawanan.
                Yang terpenting dan harus selalu diingat adalah niat. Berbuat baik jangan diniatkan supaya jadi (atau disebut) pahlawan. Berbuat baik diniatkan sebagai bentuk ibadah dan kepatuhan kita pada Sang Khalik, Allah SWT.

Bandung Barat, 10 Nopember 201