Ada hal satu hal
menarik –diantara banyak hal menarik- yang selalu saja muncul setiap tahun. Momen
ketika anak bertanya: “Pak, kapan belajarnya?”
Momen seperti itu
adalah saat yang menggelitik, membuat saya tersenyum. Bukan hanya senyum geli,
tapi juga getir. Geli karena anak-anak tidak sadar bahwa mereka sedang belajar.
Getir, begitu sadar betapa frame yang kurang pas tentang belajar sudah terpatri
di benak anak-anak kelas bawah, anak-anak yang baru masuk dunia sekolah.
Ternyata baru dikatakan
belajar kalau mengerjakan tugas atau mencatat. Belajar itu tempatnya di ruang
kelas. Sehingga kalau belajar dikemas dalam bentuk yang berbeda, maka bukan
lagi belajar namanya, tapi bermain.
Kalau sudah seperti
ini, apa yang kita lakukan? Bagi saya ini adalah saat yang tepat untuk merubah
paradigma anak tentang belajar. Biarlah paradigma anak yang berubah duluan,
sementara (bisa jadi) paradigma orangtua masih belum berubah.
Paradigma seperti apa?
Bahwa belajar itu bisa dilakukan dengan banyak cara, di mana saja, kapan saja,
dan dengan siapa pun. Saya tanyakan, dari sebuah kegiatan yang baru saja
dilakukan adakah hal baru yang mereka dapatkan? Hal baru seperti apa? Ketika
kita mendapatkan sesuatu yang baru, itu artinya kita sudah belajar.
Tentu saja tidak
selalu belajar itu di luar kelas. Anak-anak juga mendapatkan pengalaman belajar
di kelas, dengan beragam metode yang bisa dilakukan.
Kata kuncinya adalah anak tidak hanya sekedar
duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, menghafal paket materi
yang telah dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru. Tetapi mereka harus
berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat menuliskannya, mengaitkan
dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari mereka.
Mereka harus
menjadikan apa yang mereka pelajari sebagai bagian dari dirinya
sendiri. Belajar bukanlah seperti
sedang menonton pertandingan olahraga atau pertunjukkan film.
