Jumat, 21 Februari 2014

Belajar Bahasa

         

           Menjadi guru bahasa Indonesia menjadi pengalaman yang penuh dengan keprihatinan.  Bukan prihatin pada kemampuan berbahasa anak-anak. Mereka mampu menggunakan bahasa dengan tepat. Ya, TEPAT. Bukan ’baik dan benar’. Bukan prihatin karena kurang fasilitas, tidak ada sarana dan prasarana audio visual yang representatif.
            Saya prihatin ketika membuka buku paket pelajaran bahasa Indonesia. Ketika saya dengan sengaja ingin tahu beberapa buku dari penerbit yang berbeda, saat itu pula keprihatinan saya bertambah. Sewaktu tahu bagaimana soal-soal ujian, saya bukan hanya prihatin. Saya sedih. Bingung, apa sebenarnya tujuan pembelajaran bahasa Indonesia?
            Bahasa merupakan cara berkomunikasi. Yang namanya cara tentu saja bukan hanya satu jumlahnya, tetapi sangat banyak. Cara berkomunikasi dengan orang tua tentu saja akan berbeda dengan cara berkomunikasi sesama teman. Cara berkomunikasi juga menunjukkan tingkat keakraban, kepribadian, bahkan emosi seseorang.
            Sayangnya, dalam pelajaran bahasa Indonesia cara berkomunikasi yang diajarkan adalah komunikasi formal yang kaku. Hanya bahasa baku-lah yang boleh dipakai. Silahkan bertanya pada diri sendiri, berapa persen bahasa baku yang kita pakai dalam sehari? Berapa lama waktu yang kita pakai untuk berbahasa secara formal?

Rabu, 19 Februari 2014

Keberagaman Suku Bangsa

Video Tentang Keberagaman Suku Bangsa. Sumber: Sekolah Damarwulan




Silakan didownload 

Lakukan dan Mereka Akan Mengikuti

         
 
          Cerita klise guru-guru di republik ini adalah betapa banyak nasihat-nasihat bijak yang mereka telah berikan kepada murid-muridnya. Tapi apa yang terjadi? Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri begitu kita punya ibarat. Ribuan kalimat itu ternyata tidak mempunyai daya yang cukup besar untuk menggerakkan hati. Ini bisa jadi cerita klise ataupun anekdot, mungkin juga drama melankolis, tergantung bagaimana kita memandangnya.
            Pasti ada yang salah. Apa? Bukankah nasihat-nasihat itu begitu bagusnya? Bukankah seharusnya guru itu digugu (didengar) dan ditiru? Ini! Digugu dan ditiru. Supaya didengar seorang guru harus berbicara. Lalu supaya ditiru, guru harus melakukan sesuatu. Artinya, nasihat saja tidak cukup. Anak perlu melihat contoh dari gurunya. Guru jangan hanya jadi tong kosong. Nanti bisa jadi seperti peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Mau?
            OK, mari kita balik cara berpikirnya. Bukan seharusnya guru itu digugu dan ditiru, tapi bagaimana supaya guru bisa digugu dan ditiru. Tentu saja itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Digugu dan ditiru berarti menuntut orang lain. Menuntut orang lain (anak) supaya mau mendengarkan apa yang dikatakan guru, kemudian melakukannya. Dalam kasus tertentu hal ini bisa bersifat pemaksaan.

Selasa, 18 Februari 2014

Sudah Melakukan Hal yang Benar?

   
     Ah, terus terang saya tidak tahu, apakah kita sudah melakukan sesuatu yang benar? Bertahun- tahun menjadi guru, apa yang saya hasilkan? Bagaimana dengan Anda? Apakah seperti saya? Saya berharap jangan.
      Sebagai guru saya tentu saja mengajar. Ya, pasti dong. Itu kan tugas saya. Berarti saya sudah melakukan hal yang benar. Ya, memang benar saya mengajar. Saya sangat yakin Anda pun sudah melakukannya. Apakah saya mengajar dengan benar? Wah, saya sendiri tidak berani menjawabnya. Apakah Anda sudah mengajar dengan benar? Semoga saja.
      Tetapi ingatlah Saudara-saudara, kita selama ini sering terjebak pada mengajar. Ingatlah Saudara-saudara bahwa kita seharusnya membelajarkan! Maafkan, sebenarnya kalimat-kalimat itu lebih tepat untuk saya sendiri.
      Nah, di titik inilah kita mulai bimbang. Sudahkah kita melakukan sesuatu yang benar? Apakah kita mengajar karena tugas? Sebagai sebuah rutinitas? Dirasakan sebagai beban? Apakah karena sudah membuat RPP, menyiapkan lembar kerja, mengobservasi setiap anak selama beraktivitas, membuat aktivitas belajar yang menyenangkan, membuat penilaian, dan menyampaikan laporan berarti sudah melakukan hal yang benar?
      Bukankah semua itu tugas mulia seorang guru? Betul, tapi semua hal tadi baru dalam tataran mengajar, belum membelajarkan. Guru akan lebih mulia kalau mampu membelajarkan. Dan ini yang seharusnya dilakukan semua guru. Jadi bolehlah saya bertanya lagi, sudahkah kita melakukan hal yang benar?


Senin, 17 Februari 2014


Persiapan Mengajar

 



Kamis, 13 Februari 2014

Sepatu Baru Rudi

             Pagi begitu ceria. Matahari bersinar sempurna. Rudi sudah sejam yang lalu memakai sepatu barunya ketika mobil jemputan tiba di depan rumahnya yang bercat biru. Sekali lagi Rudi melihat ke cermin yang bingkainya kayu bercat hitam mengkilat. Rambut sudah rapi. Seragam putih-merah, tas punggung, semua sudah oke. Dan sepatunya, oh, ya sepatu baru. Ini yang membuat Rudi tersenyum lebar.
            “Ma, Rudi berangkat.” Rudi mencium tangan Mamanya. “Assalamu’alaikum…” Rudi berlari keluar dengan penuh semangat. Mobil jemputan masih kosong. Maklum saja, karena memanag Rudi yang pertama kali dijemput.
            “Pak Wawan, apa kabar?” Tanya Rudi berbasa-basi.
            “Alhamdulillah, Rud, Bapak sehat” Pak Wawan tetap konsentrasi di belakang setir. “Kamu kelihatan bahagia banget, dapat tambahan uang saku, ya?” Rudi tersenyum saja, berharap Pak Wawan melihat sepatu barunya. Tapi Rudi kan duduk dibelakang, susah bagi Pak Wawan untuk melihat sepatu baru Rudi. Rudi diam saja, berharap teman-teman satu jemputannya nanti akan melihat dan mengagumi sepatu barunya.
            Beni masuk jemputan. Rudi bersiap menerima pujian. Seperti biasanya, Beni asyik dengan majalah gamenya. Rudi hanya gigit jari, Beni tidak bisa diganggu kalau sudah baca majalah game.
Sebentar lagi sampai di rumah Shela. Setiap hari Shela makan pagi di jemputan. Ah, ga mungkin juga Shela melihat sepatu baru Rudi. Rudi coba mencari perhatian, “Shel, sarapan pake apa?”  “Ya pake nasi, la yaw!” Shela cepat menyahut. Bibirnya manyun, sepertinya ia tidak mau makan paginya terganggu. Rudi memesorotkan tubuhnya.
               Vivi, Mulki, Sentot, Rika, dan Idun, tak ada yang memperhatikan sepatu baru Rudi. Rudi semakin tenggelam di jok mobil jemputan.
            Sampai di sekolah, Rudi malas melangkah masuk kelas. Masak tak seorangpun melihat dia memakai sepatu baru. Habis sudah keriangan seperti yang terlihat ketika mau berangkat tadi.
            Rudi duduk di deretan bangku paling belakang, di pojok kelas. Ia ingin mengasingkan diri. Kaki kanannya menghentak-hentak kecil sepatu barunya kelantai. Sedangkan kaki kirinya lemah bergerak ke kiri-kanan dengan telapak menempel kuat dilantai. Badannya bungkuk hampir menyentuh meja. Tangan kanan memegang pensil yang diketuk-ketukkan perlahan  di meja. Tangan kirinya entah sudah berapa kali berganti posisi.
            Itu yang dilakukan Rudi  sampai  bel istirahat berbunyi. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dipelajari tadi. Sengaja Rudi tidak ke perpustakaan atau kantin seprti biasanya. Ia takut kalau nggak ada satupun orang yang melihat sepatu barunya.
            Taman di samping perpustakaan yang selalu sepi jadi tujuan Rudi. Rudi duduk di kursi panjang dari kayu. Kursi itu bersandarkan papan kayu yang dipasang secara melintang. Tepat di belakang kursi terdapat sebuah pohon jambu yang cukup tua. Rudi duduk bersandar. Kepalanya menengadah, melihat daun-daun jambu yang tertiup angin.
            “Rudi!” panggilan ini mengagetkan Rudi. “Kok, melamun?” ternyata Mang Daman, tukang kebun sekolah. “Dimarahin guru, ya?” Mang Daman melanjutkan sebelum Rudi menjawab.
“Makanya jangan ribut aja kalau di kelas.” Rudi mulai memajukan bibirnya, Mang Daman semakin sok tahu. “Kasihan orangtua dong. Coba kamu pikir, mereka kan berharap kamu serius kalau belajar, bukan hanya main saja.”
            “Mang, Daman…!”teriak Rudi nggak bisa nahan kesal.


            “E…, dibilangin kok malah teriak-teriak. Tidak sopan, tahu nggak?” Mang Daman ikut-ikutan kesal.
            “Maafin Rudi, Mang.” Rudi menyadari kesalahannya. “Tapi bukan yang Mang Daman katakan tadi yang membuat Rudi ada disini.”
            “Iya, deh Mang Daman maafin..” Mang Daman tersenyum. “Asal kamu juga mau memaafkan Mang Daman.”
            Rudi tersenyum menjabat tangan Mang Daman.
            “Eh, sepatumu baru, ya Rud? Bagus sekali, pasti harganya mahal.”
            “Iya, ini sepatu baru. Tapi nggak mahal kok Mang.” Rudi menjawab gembira. Ahkirnya ada juga yang memperhatikan sepatunya. “Eh, Mang Daman tahu nggak, sepatu ini……….” Tet……..! waktunya masuk kelas lagi. Rudi belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
            Siang ini Bu  Fina memberi tugas untuk menceritakan kemandirian yang pernah dilakukan. Satu per satu menceritakan di depan kelas. Giliran Rudi.
            “Teman-teman, kemarin aku membeli sepatu baru.” Teman-teman Rudipun serentak melihat ke kaki Rudi, memperhatikan sepasang sepatu berwarna hitam dengan dua garis perak di sisi luarnya. Bagian dalamnya berwarna merah, sebagian terlihat dari luar.. sepasang sepatu itu tampak serasi dengan tubuh Rudi.
            Rudi jadi grogi. Kini ia jadi pusat perhatian. Perlahan-lahan keringat mulai membasahi wajahnya. Ia kuatkan pijakan untuk menahan getaran di kakinya.
            “Sepatu ini aku beli dari hasil menjual koran bekas” Rudi berhenti sebentar, mengumpulkan kekuatannya. “Sebenarnya aku bisa saja meminta sepatu baru ke orangtuaku. Apalagi papaku sedang ke luar negeri.” Suara Rudi semakin pelan. Buat apa aku ceritan ayahku, pikirnya.
            “Aku…..aku….,” Rudi mulai kehilangan kata. Keringat kini telah membuat bajunya basah. Seluruh kelas yang memperhatikan dirinya membuat Rudi semakin gugup. Ia tidak bisa lagi menahan getaran kakinya. Tubuhnya juga ikut bergetar.
            “Aku….,” mata Rudi berkaca-kaca. Ia tidak berani melihat ke depan. Rudi tertunduk melihat lantai kelas.
            “Hebat, bagus sekali, Rudi.” Kata bu Fina. “Benar sekali, meskipun orangtua mampu memenuhi kebutuhan kita, tapi bukan berarti kita hanya bisa meminta.” Bu Fina berhenti sebentar, lalu menoleh ke Rudi.”Rudi contohnya” tepuk tangan meriah menemani Rudi menuju tempat duduknya lagi.
            Tepuk tangan itu tak membuat Rudi bahagia. Ternyata menjadi pusat perhatian tidak seenak yang dibayangkan sebelumnya.
            “Amir, kamu mau menceritakan kemandirianmu?”  Bu Fina mempersilakan Amir ke depan.
            “Saya menjahit sendiri sepatu yang telah lepas alasnya. Ini hal kecil yang bisa say lakukan sendiri.” Amir berkata dengan tidak ragu-ragu. Tidak ada yang ditutupi atau dilebihkan.
Amir anak yang sederhana. Sepatunya hanya sepasang, itupun terpaksa ia jahit sendiri karena sudah terbuka. Tasnya sudah tiga tahun belum diganti.  Padahal orangtuanya adalah salah satu anggota dewan di kota itu. Aku bukan orangtuaku, kata Amir. Ke sekolahpun ia memilih jalan kaki. Rudi semakin diam.
Pulang sekolah, Rudi langsung berganti baju. Tak lama ia berpamitan pada mamanya. “Makan dulu, Nak.” Kata mamanya. “Iya, Ma. Tapi Rudi buru-buru, nih. Ntar aja.” Rudi menenteng keresek hitam yang tidak terlihat apa isinya.
“Tenang, Ma. Nggak lama, kok. Rudi pergi dulu, ya.” Sambil lari keluar dan cepat-cepat mengayuh sepedanya.
Besok paginya, Rudi berdendang naik sepeda menuju sekolahnya. Tak ada sepatu baru di kakinya. Tapi ia bahagia, sebab ketika melintasi rel kereta dia melihat seorang anak seusianya dengan sepatu yang mirip sepatunya. Bukan mirip, itu memang sepatu baru Rudi.


Rabu, 12 Februari 2014

OUT of SIGHT


Video yang bisa dijadikan sumber pembelajaran. Penasaran? Silakan klik gambar di bawah.