Rabu, 26 Februari 2014
Jumat, 21 Februari 2014
Belajar Bahasa
Saya prihatin ketika membuka buku
paket pelajaran bahasa Indonesia. Ketika saya dengan sengaja ingin tahu
beberapa buku dari penerbit yang berbeda, saat itu pula keprihatinan saya
bertambah. Sewaktu tahu bagaimana soal-soal ujian, saya bukan hanya prihatin.
Saya sedih. Bingung, apa sebenarnya tujuan pembelajaran bahasa Indonesia?
Bahasa merupakan cara berkomunikasi. Yang namanya cara tentu saja bukan hanya satu jumlahnya,
tetapi sangat banyak. Cara berkomunikasi dengan orang tua tentu saja akan
berbeda dengan cara berkomunikasi sesama teman. Cara berkomunikasi juga
menunjukkan tingkat keakraban, kepribadian, bahkan emosi seseorang.
Sayangnya, dalam pelajaran bahasa Indonesia
cara berkomunikasi yang diajarkan adalah komunikasi formal yang kaku. Hanya bahasa baku-lah yang boleh dipakai. Silahkan bertanya pada diri
sendiri, berapa persen bahasa baku yang kita pakai dalam sehari? Berapa lama
waktu yang kita pakai untuk berbahasa secara formal?
Kamis, 20 Februari 2014
Rabu, 19 Februari 2014
Lakukan dan Mereka Akan Mengikuti
Cerita klise guru-guru di republik
ini adalah betapa banyak nasihat-nasihat bijak yang mereka telah berikan kepada
murid-muridnya. Tapi apa yang terjadi? Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri
begitu kita punya ibarat. Ribuan kalimat itu ternyata tidak mempunyai daya yang
cukup besar untuk menggerakkan hati. Ini bisa jadi cerita klise ataupun
anekdot, mungkin juga drama melankolis, tergantung bagaimana kita memandangnya.
Pasti ada yang salah. Apa? Bukankah nasihat-nasihat itu begitu bagusnya? Bukankah seharusnya guru itu digugu (didengar) dan ditiru? Ini! Digugu dan ditiru. Supaya didengar seorang guru harus berbicara. Lalu supaya ditiru, guru harus melakukan sesuatu. Artinya, nasihat saja tidak cukup. Anak perlu melihat contoh dari gurunya. Guru jangan hanya jadi tong kosong. Nanti bisa jadi seperti peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Mau?
OK, mari kita balik cara berpikirnya. Bukan seharusnya guru itu digugu dan ditiru, tapi bagaimana supaya guru bisa digugu dan ditiru. Tentu saja itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Digugu dan ditiru berarti menuntut orang lain. Menuntut orang lain (anak) supaya mau mendengarkan apa yang dikatakan guru, kemudian melakukannya. Dalam kasus tertentu hal ini bisa bersifat pemaksaan.
Pasti ada yang salah. Apa? Bukankah nasihat-nasihat itu begitu bagusnya? Bukankah seharusnya guru itu digugu (didengar) dan ditiru? Ini! Digugu dan ditiru. Supaya didengar seorang guru harus berbicara. Lalu supaya ditiru, guru harus melakukan sesuatu. Artinya, nasihat saja tidak cukup. Anak perlu melihat contoh dari gurunya. Guru jangan hanya jadi tong kosong. Nanti bisa jadi seperti peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Mau?
OK, mari kita balik cara berpikirnya. Bukan seharusnya guru itu digugu dan ditiru, tapi bagaimana supaya guru bisa digugu dan ditiru. Tentu saja itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Digugu dan ditiru berarti menuntut orang lain. Menuntut orang lain (anak) supaya mau mendengarkan apa yang dikatakan guru, kemudian melakukannya. Dalam kasus tertentu hal ini bisa bersifat pemaksaan.
Selasa, 18 Februari 2014
Sudah Melakukan Hal yang Benar?
Sebagai guru saya tentu saja mengajar. Ya, pasti dong. Itu kan tugas saya. Berarti saya sudah melakukan hal yang benar. Ya, memang benar saya mengajar. Saya sangat yakin Anda pun sudah melakukannya. Apakah saya mengajar dengan benar? Wah, saya sendiri tidak berani menjawabnya. Apakah Anda sudah mengajar dengan benar? Semoga saja.
Tetapi ingatlah Saudara-saudara, kita selama ini sering terjebak pada mengajar. Ingatlah Saudara-saudara bahwa kita seharusnya membelajarkan! Maafkan, sebenarnya kalimat-kalimat itu lebih tepat untuk saya sendiri.
Nah, di titik inilah kita mulai bimbang. Sudahkah kita melakukan sesuatu yang benar? Apakah kita mengajar karena tugas? Sebagai sebuah rutinitas? Dirasakan sebagai beban? Apakah karena sudah membuat RPP, menyiapkan lembar kerja, mengobservasi setiap anak selama beraktivitas, membuat aktivitas belajar yang menyenangkan, membuat penilaian, dan menyampaikan laporan berarti sudah melakukan hal yang benar?
Bukankah semua itu tugas mulia seorang guru? Betul, tapi semua hal tadi baru dalam tataran mengajar, belum membelajarkan. Guru akan lebih mulia kalau mampu membelajarkan. Dan ini yang seharusnya dilakukan semua guru. Jadi bolehlah saya bertanya lagi, sudahkah kita melakukan hal yang benar?
Senin, 17 Februari 2014
Persiapan Mengajar
Mengajar
adalah melayani. Sebuah pelayanan yang baik tentu saja membutuhkan persiapan
yang matang. Apa yang dipersiapkan? Materi dan kegiatan tentu saja menjadi
komponen utamanya. Yang lainnya adalah kondisi fisik dan emosi. Dua hal ini
sangat penting untuk diperhatikan.
a. Materi
Ada dua sudut pandang terhadap materi pembelajaran. Yang pertama sebagai sebuah tujuan. ini berhubungan dengan penguasaan konten materi. Yang kedua, materi pembelajaran merupakan sarana untuk mengembangkan softskills dan keterampilan belajar (how to learn). Softskills dan keterampilan belajar dikembangkan dalam proses penguasaan materi.
Ada dua sudut pandang terhadap materi pembelajaran. Yang pertama sebagai sebuah tujuan. ini berhubungan dengan penguasaan konten materi. Yang kedua, materi pembelajaran merupakan sarana untuk mengembangkan softskills dan keterampilan belajar (how to learn). Softskills dan keterampilan belajar dikembangkan dalam proses penguasaan materi.
Kamis, 13 Februari 2014
Sepatu Baru Rudi
Pagi begitu ceria.
Matahari bersinar sempurna. Rudi sudah sejam yang lalu memakai sepatu barunya
ketika mobil jemputan tiba di depan rumahnya yang bercat biru. Sekali lagi Rudi
melihat ke cermin yang bingkainya kayu bercat hitam mengkilat. Rambut sudah
rapi. Seragam putih-merah, tas punggung, semua sudah oke. Dan sepatunya, oh, ya
sepatu baru. Ini yang membuat Rudi tersenyum lebar.
“Ma, Rudi berangkat.” Rudi mencium
tangan Mamanya. “Assalamu’alaikum…” Rudi berlari keluar dengan penuh semangat.
Mobil jemputan masih kosong. Maklum saja, karena memanag Rudi yang pertama kali
dijemput.
“Pak Wawan, apa kabar?” Tanya Rudi
berbasa-basi.
“Alhamdulillah, Rud, Bapak sehat”
Pak Wawan tetap konsentrasi di belakang setir. “Kamu kelihatan bahagia banget,
dapat tambahan uang saku, ya?” Rudi tersenyum saja, berharap Pak Wawan melihat
sepatu barunya. Tapi Rudi kan duduk dibelakang, susah bagi Pak Wawan untuk
melihat sepatu baru Rudi. Rudi diam saja, berharap teman-teman satu jemputannya
nanti akan melihat dan mengagumi sepatu barunya.
Beni masuk jemputan. Rudi bersiap menerima
pujian. Seperti biasanya, Beni asyik dengan majalah gamenya. Rudi hanya gigit
jari, Beni tidak bisa diganggu kalau sudah baca majalah game.
Sebentar lagi sampai di rumah Shela. Setiap hari Shela makan pagi di
jemputan. Ah, ga mungkin juga Shela melihat sepatu baru Rudi. Rudi coba mencari
perhatian, “Shel, sarapan pake apa?” “Ya
pake nasi, la yaw!” Shela cepat menyahut. Bibirnya manyun, sepertinya ia tidak
mau makan paginya terganggu. Rudi memesorotkan tubuhnya.
Vivi, Mulki, Sentot, Rika, dan Idun, tak
ada yang memperhatikan sepatu baru Rudi. Rudi semakin tenggelam di jok mobil
jemputan.
Sampai di sekolah, Rudi malas
melangkah masuk kelas. Masak tak seorangpun melihat dia memakai sepatu baru.
Habis sudah keriangan seperti yang terlihat ketika mau berangkat tadi.
Rudi duduk di deretan bangku paling
belakang, di pojok kelas. Ia ingin mengasingkan diri. Kaki kanannya
menghentak-hentak kecil sepatu barunya kelantai. Sedangkan kaki kirinya lemah
bergerak ke kiri-kanan dengan telapak menempel kuat dilantai. Badannya bungkuk
hampir menyentuh meja. Tangan kanan memegang pensil yang diketuk-ketukkan
perlahan di meja. Tangan kirinya entah
sudah berapa kali berganti posisi.
Itu yang dilakukan Rudi sampai
bel istirahat berbunyi. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dipelajari
tadi. Sengaja Rudi tidak ke perpustakaan atau kantin seprti biasanya. Ia takut
kalau nggak ada satupun orang yang melihat sepatu barunya.
Taman di samping perpustakaan yang
selalu sepi jadi tujuan Rudi. Rudi duduk di kursi panjang dari kayu. Kursi itu
bersandarkan papan kayu yang dipasang secara melintang. Tepat di belakang kursi
terdapat sebuah pohon jambu yang cukup tua. Rudi duduk bersandar. Kepalanya
menengadah, melihat daun-daun jambu yang tertiup angin.
“Rudi!” panggilan ini mengagetkan
Rudi. “Kok, melamun?” ternyata Mang Daman, tukang kebun sekolah. “Dimarahin
guru, ya?” Mang Daman melanjutkan sebelum Rudi menjawab.
“Makanya jangan ribut aja kalau di kelas.” Rudi mulai memajukan
bibirnya, Mang Daman semakin sok tahu. “Kasihan orangtua dong. Coba kamu pikir,
mereka kan berharap kamu serius kalau belajar, bukan hanya main saja.”
“Mang, Daman…!”teriak Rudi nggak
bisa nahan kesal.
“E…, dibilangin kok malah
teriak-teriak. Tidak sopan, tahu nggak?” Mang Daman ikut-ikutan kesal.
“Maafin Rudi, Mang.” Rudi menyadari
kesalahannya. “Tapi bukan yang Mang Daman katakan tadi yang membuat Rudi ada
disini.”
“Iya, deh Mang Daman maafin..” Mang
Daman tersenyum. “Asal kamu juga mau memaafkan Mang Daman.”
Rudi tersenyum menjabat tangan Mang
Daman.
“Eh, sepatumu baru, ya Rud? Bagus
sekali, pasti harganya mahal.”
“Iya, ini sepatu baru. Tapi nggak
mahal kok Mang.” Rudi menjawab gembira. Ahkirnya ada juga yang memperhatikan
sepatunya. “Eh, Mang Daman tahu nggak, sepatu ini……….” Tet……..! waktunya masuk
kelas lagi. Rudi belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Siang ini Bu Fina memberi tugas untuk menceritakan
kemandirian yang pernah dilakukan. Satu per satu menceritakan di depan kelas.
Giliran Rudi.
“Teman-teman, kemarin aku membeli
sepatu baru.” Teman-teman Rudipun serentak melihat ke kaki Rudi, memperhatikan
sepasang sepatu berwarna hitam dengan dua garis perak di sisi luarnya. Bagian
dalamnya berwarna merah, sebagian terlihat dari luar.. sepasang sepatu itu
tampak serasi dengan tubuh Rudi.
Rudi jadi grogi. Kini ia jadi pusat
perhatian. Perlahan-lahan keringat mulai membasahi wajahnya. Ia kuatkan pijakan
untuk menahan getaran di kakinya.
“Sepatu ini aku beli dari hasil
menjual koran bekas” Rudi berhenti sebentar, mengumpulkan kekuatannya. “Sebenarnya
aku bisa saja meminta sepatu baru ke orangtuaku. Apalagi papaku sedang ke luar
negeri.” Suara Rudi semakin pelan. Buat apa aku ceritan ayahku, pikirnya.
“Aku…..aku….,” Rudi mulai kehilangan
kata. Keringat kini telah membuat bajunya basah. Seluruh kelas yang
memperhatikan dirinya membuat Rudi semakin gugup. Ia tidak bisa lagi menahan
getaran kakinya. Tubuhnya juga ikut bergetar.
“Aku….,” mata Rudi berkaca-kaca. Ia
tidak berani melihat ke depan. Rudi tertunduk melihat lantai kelas.
“Hebat, bagus sekali, Rudi.” Kata bu
Fina. “Benar sekali, meskipun orangtua mampu memenuhi kebutuhan kita, tapi
bukan berarti kita hanya bisa meminta.” Bu Fina berhenti sebentar, lalu menoleh
ke Rudi.”Rudi contohnya” tepuk tangan meriah menemani Rudi menuju tempat duduknya
lagi.
Tepuk tangan itu tak membuat Rudi
bahagia. Ternyata menjadi pusat perhatian tidak seenak yang dibayangkan
sebelumnya.
“Amir, kamu mau menceritakan
kemandirianmu?” Bu Fina mempersilakan
Amir ke depan.
“Saya menjahit sendiri sepatu yang
telah lepas alasnya. Ini hal kecil yang bisa say lakukan sendiri.” Amir berkata
dengan tidak ragu-ragu. Tidak ada yang ditutupi atau dilebihkan.
Amir anak yang sederhana. Sepatunya hanya sepasang, itupun terpaksa
ia jahit sendiri karena sudah terbuka. Tasnya sudah tiga tahun belum
diganti. Padahal orangtuanya adalah
salah satu anggota dewan di kota itu. Aku bukan orangtuaku, kata Amir. Ke
sekolahpun ia memilih jalan kaki. Rudi semakin diam.
Pulang sekolah, Rudi langsung berganti baju. Tak lama ia berpamitan
pada mamanya. “Makan dulu, Nak.” Kata mamanya. “Iya, Ma. Tapi Rudi buru-buru,
nih. Ntar aja.” Rudi menenteng keresek hitam yang tidak terlihat apa isinya.
“Tenang, Ma. Nggak lama, kok. Rudi pergi dulu, ya.” Sambil lari
keluar dan cepat-cepat mengayuh sepedanya.
Besok paginya, Rudi berdendang naik sepeda menuju sekolahnya. Tak
ada sepatu baru di kakinya. Tapi ia bahagia, sebab ketika melintasi rel kereta
dia melihat seorang anak seusianya dengan sepatu yang mirip sepatunya. Bukan
mirip, itu memang sepatu baru Rudi.
Rabu, 12 Februari 2014
Langganan:
Komentar (Atom)




