Kamis, 13 Februari 2014

Sepatu Baru Rudi

             Pagi begitu ceria. Matahari bersinar sempurna. Rudi sudah sejam yang lalu memakai sepatu barunya ketika mobil jemputan tiba di depan rumahnya yang bercat biru. Sekali lagi Rudi melihat ke cermin yang bingkainya kayu bercat hitam mengkilat. Rambut sudah rapi. Seragam putih-merah, tas punggung, semua sudah oke. Dan sepatunya, oh, ya sepatu baru. Ini yang membuat Rudi tersenyum lebar.
            “Ma, Rudi berangkat.” Rudi mencium tangan Mamanya. “Assalamu’alaikum…” Rudi berlari keluar dengan penuh semangat. Mobil jemputan masih kosong. Maklum saja, karena memanag Rudi yang pertama kali dijemput.
            “Pak Wawan, apa kabar?” Tanya Rudi berbasa-basi.
            “Alhamdulillah, Rud, Bapak sehat” Pak Wawan tetap konsentrasi di belakang setir. “Kamu kelihatan bahagia banget, dapat tambahan uang saku, ya?” Rudi tersenyum saja, berharap Pak Wawan melihat sepatu barunya. Tapi Rudi kan duduk dibelakang, susah bagi Pak Wawan untuk melihat sepatu baru Rudi. Rudi diam saja, berharap teman-teman satu jemputannya nanti akan melihat dan mengagumi sepatu barunya.
            Beni masuk jemputan. Rudi bersiap menerima pujian. Seperti biasanya, Beni asyik dengan majalah gamenya. Rudi hanya gigit jari, Beni tidak bisa diganggu kalau sudah baca majalah game.
Sebentar lagi sampai di rumah Shela. Setiap hari Shela makan pagi di jemputan. Ah, ga mungkin juga Shela melihat sepatu baru Rudi. Rudi coba mencari perhatian, “Shel, sarapan pake apa?”  “Ya pake nasi, la yaw!” Shela cepat menyahut. Bibirnya manyun, sepertinya ia tidak mau makan paginya terganggu. Rudi memesorotkan tubuhnya.
               Vivi, Mulki, Sentot, Rika, dan Idun, tak ada yang memperhatikan sepatu baru Rudi. Rudi semakin tenggelam di jok mobil jemputan.
            Sampai di sekolah, Rudi malas melangkah masuk kelas. Masak tak seorangpun melihat dia memakai sepatu baru. Habis sudah keriangan seperti yang terlihat ketika mau berangkat tadi.
            Rudi duduk di deretan bangku paling belakang, di pojok kelas. Ia ingin mengasingkan diri. Kaki kanannya menghentak-hentak kecil sepatu barunya kelantai. Sedangkan kaki kirinya lemah bergerak ke kiri-kanan dengan telapak menempel kuat dilantai. Badannya bungkuk hampir menyentuh meja. Tangan kanan memegang pensil yang diketuk-ketukkan perlahan  di meja. Tangan kirinya entah sudah berapa kali berganti posisi.
            Itu yang dilakukan Rudi  sampai  bel istirahat berbunyi. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dipelajari tadi. Sengaja Rudi tidak ke perpustakaan atau kantin seprti biasanya. Ia takut kalau nggak ada satupun orang yang melihat sepatu barunya.
            Taman di samping perpustakaan yang selalu sepi jadi tujuan Rudi. Rudi duduk di kursi panjang dari kayu. Kursi itu bersandarkan papan kayu yang dipasang secara melintang. Tepat di belakang kursi terdapat sebuah pohon jambu yang cukup tua. Rudi duduk bersandar. Kepalanya menengadah, melihat daun-daun jambu yang tertiup angin.
            “Rudi!” panggilan ini mengagetkan Rudi. “Kok, melamun?” ternyata Mang Daman, tukang kebun sekolah. “Dimarahin guru, ya?” Mang Daman melanjutkan sebelum Rudi menjawab.
“Makanya jangan ribut aja kalau di kelas.” Rudi mulai memajukan bibirnya, Mang Daman semakin sok tahu. “Kasihan orangtua dong. Coba kamu pikir, mereka kan berharap kamu serius kalau belajar, bukan hanya main saja.”
            “Mang, Daman…!”teriak Rudi nggak bisa nahan kesal.


            “E…, dibilangin kok malah teriak-teriak. Tidak sopan, tahu nggak?” Mang Daman ikut-ikutan kesal.
            “Maafin Rudi, Mang.” Rudi menyadari kesalahannya. “Tapi bukan yang Mang Daman katakan tadi yang membuat Rudi ada disini.”
            “Iya, deh Mang Daman maafin..” Mang Daman tersenyum. “Asal kamu juga mau memaafkan Mang Daman.”
            Rudi tersenyum menjabat tangan Mang Daman.
            “Eh, sepatumu baru, ya Rud? Bagus sekali, pasti harganya mahal.”
            “Iya, ini sepatu baru. Tapi nggak mahal kok Mang.” Rudi menjawab gembira. Ahkirnya ada juga yang memperhatikan sepatunya. “Eh, Mang Daman tahu nggak, sepatu ini……….” Tet……..! waktunya masuk kelas lagi. Rudi belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
            Siang ini Bu  Fina memberi tugas untuk menceritakan kemandirian yang pernah dilakukan. Satu per satu menceritakan di depan kelas. Giliran Rudi.
            “Teman-teman, kemarin aku membeli sepatu baru.” Teman-teman Rudipun serentak melihat ke kaki Rudi, memperhatikan sepasang sepatu berwarna hitam dengan dua garis perak di sisi luarnya. Bagian dalamnya berwarna merah, sebagian terlihat dari luar.. sepasang sepatu itu tampak serasi dengan tubuh Rudi.
            Rudi jadi grogi. Kini ia jadi pusat perhatian. Perlahan-lahan keringat mulai membasahi wajahnya. Ia kuatkan pijakan untuk menahan getaran di kakinya.
            “Sepatu ini aku beli dari hasil menjual koran bekas” Rudi berhenti sebentar, mengumpulkan kekuatannya. “Sebenarnya aku bisa saja meminta sepatu baru ke orangtuaku. Apalagi papaku sedang ke luar negeri.” Suara Rudi semakin pelan. Buat apa aku ceritan ayahku, pikirnya.
            “Aku…..aku….,” Rudi mulai kehilangan kata. Keringat kini telah membuat bajunya basah. Seluruh kelas yang memperhatikan dirinya membuat Rudi semakin gugup. Ia tidak bisa lagi menahan getaran kakinya. Tubuhnya juga ikut bergetar.
            “Aku….,” mata Rudi berkaca-kaca. Ia tidak berani melihat ke depan. Rudi tertunduk melihat lantai kelas.
            “Hebat, bagus sekali, Rudi.” Kata bu Fina. “Benar sekali, meskipun orangtua mampu memenuhi kebutuhan kita, tapi bukan berarti kita hanya bisa meminta.” Bu Fina berhenti sebentar, lalu menoleh ke Rudi.”Rudi contohnya” tepuk tangan meriah menemani Rudi menuju tempat duduknya lagi.
            Tepuk tangan itu tak membuat Rudi bahagia. Ternyata menjadi pusat perhatian tidak seenak yang dibayangkan sebelumnya.
            “Amir, kamu mau menceritakan kemandirianmu?”  Bu Fina mempersilakan Amir ke depan.
            “Saya menjahit sendiri sepatu yang telah lepas alasnya. Ini hal kecil yang bisa say lakukan sendiri.” Amir berkata dengan tidak ragu-ragu. Tidak ada yang ditutupi atau dilebihkan.
Amir anak yang sederhana. Sepatunya hanya sepasang, itupun terpaksa ia jahit sendiri karena sudah terbuka. Tasnya sudah tiga tahun belum diganti.  Padahal orangtuanya adalah salah satu anggota dewan di kota itu. Aku bukan orangtuaku, kata Amir. Ke sekolahpun ia memilih jalan kaki. Rudi semakin diam.
Pulang sekolah, Rudi langsung berganti baju. Tak lama ia berpamitan pada mamanya. “Makan dulu, Nak.” Kata mamanya. “Iya, Ma. Tapi Rudi buru-buru, nih. Ntar aja.” Rudi menenteng keresek hitam yang tidak terlihat apa isinya.
“Tenang, Ma. Nggak lama, kok. Rudi pergi dulu, ya.” Sambil lari keluar dan cepat-cepat mengayuh sepedanya.
Besok paginya, Rudi berdendang naik sepeda menuju sekolahnya. Tak ada sepatu baru di kakinya. Tapi ia bahagia, sebab ketika melintasi rel kereta dia melihat seorang anak seusianya dengan sepatu yang mirip sepatunya. Bukan mirip, itu memang sepatu baru Rudi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar