Pagi begitu ceria.
Matahari bersinar sempurna. Rudi sudah sejam yang lalu memakai sepatu barunya
ketika mobil jemputan tiba di depan rumahnya yang bercat biru. Sekali lagi Rudi
melihat ke cermin yang bingkainya kayu bercat hitam mengkilat. Rambut sudah
rapi. Seragam putih-merah, tas punggung, semua sudah oke. Dan sepatunya, oh, ya
sepatu baru. Ini yang membuat Rudi tersenyum lebar.
“Ma, Rudi berangkat.” Rudi mencium
tangan Mamanya. “Assalamu’alaikum…” Rudi berlari keluar dengan penuh semangat.
Mobil jemputan masih kosong. Maklum saja, karena memanag Rudi yang pertama kali
dijemput.
“Pak Wawan, apa kabar?” Tanya Rudi
berbasa-basi.
“Alhamdulillah, Rud, Bapak sehat”
Pak Wawan tetap konsentrasi di belakang setir. “Kamu kelihatan bahagia banget,
dapat tambahan uang saku, ya?” Rudi tersenyum saja, berharap Pak Wawan melihat
sepatu barunya. Tapi Rudi kan duduk dibelakang, susah bagi Pak Wawan untuk
melihat sepatu baru Rudi. Rudi diam saja, berharap teman-teman satu jemputannya
nanti akan melihat dan mengagumi sepatu barunya.
Beni masuk jemputan. Rudi bersiap menerima
pujian. Seperti biasanya, Beni asyik dengan majalah gamenya. Rudi hanya gigit
jari, Beni tidak bisa diganggu kalau sudah baca majalah game.
Sebentar lagi sampai di rumah Shela. Setiap hari Shela makan pagi di
jemputan. Ah, ga mungkin juga Shela melihat sepatu baru Rudi. Rudi coba mencari
perhatian, “Shel, sarapan pake apa?” “Ya
pake nasi, la yaw!” Shela cepat menyahut. Bibirnya manyun, sepertinya ia tidak
mau makan paginya terganggu. Rudi memesorotkan tubuhnya.
Vivi, Mulki, Sentot, Rika, dan Idun, tak
ada yang memperhatikan sepatu baru Rudi. Rudi semakin tenggelam di jok mobil
jemputan.
Sampai di sekolah, Rudi malas
melangkah masuk kelas. Masak tak seorangpun melihat dia memakai sepatu baru.
Habis sudah keriangan seperti yang terlihat ketika mau berangkat tadi.
Rudi duduk di deretan bangku paling
belakang, di pojok kelas. Ia ingin mengasingkan diri. Kaki kanannya
menghentak-hentak kecil sepatu barunya kelantai. Sedangkan kaki kirinya lemah
bergerak ke kiri-kanan dengan telapak menempel kuat dilantai. Badannya bungkuk
hampir menyentuh meja. Tangan kanan memegang pensil yang diketuk-ketukkan
perlahan di meja. Tangan kirinya entah
sudah berapa kali berganti posisi.
Itu yang dilakukan Rudi sampai
bel istirahat berbunyi. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dipelajari
tadi. Sengaja Rudi tidak ke perpustakaan atau kantin seprti biasanya. Ia takut
kalau nggak ada satupun orang yang melihat sepatu barunya.
Taman di samping perpustakaan yang
selalu sepi jadi tujuan Rudi. Rudi duduk di kursi panjang dari kayu. Kursi itu
bersandarkan papan kayu yang dipasang secara melintang. Tepat di belakang kursi
terdapat sebuah pohon jambu yang cukup tua. Rudi duduk bersandar. Kepalanya
menengadah, melihat daun-daun jambu yang tertiup angin.
“Rudi!” panggilan ini mengagetkan
Rudi. “Kok, melamun?” ternyata Mang Daman, tukang kebun sekolah. “Dimarahin
guru, ya?” Mang Daman melanjutkan sebelum Rudi menjawab.
“Makanya jangan ribut aja kalau di kelas.” Rudi mulai memajukan
bibirnya, Mang Daman semakin sok tahu. “Kasihan orangtua dong. Coba kamu pikir,
mereka kan berharap kamu serius kalau belajar, bukan hanya main saja.”
“Mang, Daman…!”teriak Rudi nggak
bisa nahan kesal.
“E…, dibilangin kok malah
teriak-teriak. Tidak sopan, tahu nggak?” Mang Daman ikut-ikutan kesal.
“Maafin Rudi, Mang.” Rudi menyadari
kesalahannya. “Tapi bukan yang Mang Daman katakan tadi yang membuat Rudi ada
disini.”
“Iya, deh Mang Daman maafin..” Mang
Daman tersenyum. “Asal kamu juga mau memaafkan Mang Daman.”
Rudi tersenyum menjabat tangan Mang
Daman.
“Eh, sepatumu baru, ya Rud? Bagus
sekali, pasti harganya mahal.”
“Iya, ini sepatu baru. Tapi nggak
mahal kok Mang.” Rudi menjawab gembira. Ahkirnya ada juga yang memperhatikan
sepatunya. “Eh, Mang Daman tahu nggak, sepatu ini……….” Tet……..! waktunya masuk
kelas lagi. Rudi belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Siang ini Bu Fina memberi tugas untuk menceritakan
kemandirian yang pernah dilakukan. Satu per satu menceritakan di depan kelas.
Giliran Rudi.
“Teman-teman, kemarin aku membeli
sepatu baru.” Teman-teman Rudipun serentak melihat ke kaki Rudi, memperhatikan
sepasang sepatu berwarna hitam dengan dua garis perak di sisi luarnya. Bagian
dalamnya berwarna merah, sebagian terlihat dari luar.. sepasang sepatu itu
tampak serasi dengan tubuh Rudi.
Rudi jadi grogi. Kini ia jadi pusat
perhatian. Perlahan-lahan keringat mulai membasahi wajahnya. Ia kuatkan pijakan
untuk menahan getaran di kakinya.
“Sepatu ini aku beli dari hasil
menjual koran bekas” Rudi berhenti sebentar, mengumpulkan kekuatannya. “Sebenarnya
aku bisa saja meminta sepatu baru ke orangtuaku. Apalagi papaku sedang ke luar
negeri.” Suara Rudi semakin pelan. Buat apa aku ceritan ayahku, pikirnya.
“Aku…..aku….,” Rudi mulai kehilangan
kata. Keringat kini telah membuat bajunya basah. Seluruh kelas yang
memperhatikan dirinya membuat Rudi semakin gugup. Ia tidak bisa lagi menahan
getaran kakinya. Tubuhnya juga ikut bergetar.
“Aku….,” mata Rudi berkaca-kaca. Ia
tidak berani melihat ke depan. Rudi tertunduk melihat lantai kelas.
“Hebat, bagus sekali, Rudi.” Kata bu
Fina. “Benar sekali, meskipun orangtua mampu memenuhi kebutuhan kita, tapi
bukan berarti kita hanya bisa meminta.” Bu Fina berhenti sebentar, lalu menoleh
ke Rudi.”Rudi contohnya” tepuk tangan meriah menemani Rudi menuju tempat duduknya
lagi.
Tepuk tangan itu tak membuat Rudi
bahagia. Ternyata menjadi pusat perhatian tidak seenak yang dibayangkan
sebelumnya.
“Amir, kamu mau menceritakan
kemandirianmu?” Bu Fina mempersilakan
Amir ke depan.
“Saya menjahit sendiri sepatu yang
telah lepas alasnya. Ini hal kecil yang bisa say lakukan sendiri.” Amir berkata
dengan tidak ragu-ragu. Tidak ada yang ditutupi atau dilebihkan.
Amir anak yang sederhana. Sepatunya hanya sepasang, itupun terpaksa
ia jahit sendiri karena sudah terbuka. Tasnya sudah tiga tahun belum
diganti. Padahal orangtuanya adalah
salah satu anggota dewan di kota itu. Aku bukan orangtuaku, kata Amir. Ke
sekolahpun ia memilih jalan kaki. Rudi semakin diam.
Pulang sekolah, Rudi langsung berganti baju. Tak lama ia berpamitan
pada mamanya. “Makan dulu, Nak.” Kata mamanya. “Iya, Ma. Tapi Rudi buru-buru,
nih. Ntar aja.” Rudi menenteng keresek hitam yang tidak terlihat apa isinya.
“Tenang, Ma. Nggak lama, kok. Rudi pergi dulu, ya.” Sambil lari
keluar dan cepat-cepat mengayuh sepedanya.
Besok paginya, Rudi berdendang naik sepeda menuju sekolahnya. Tak
ada sepatu baru di kakinya. Tapi ia bahagia, sebab ketika melintasi rel kereta
dia melihat seorang anak seusianya dengan sepatu yang mirip sepatunya. Bukan
mirip, itu memang sepatu baru Rudi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar