Boleh saja kita bermimpi melakukan atau menghasilkan sesuatu yang besar. Bahkan menurut saya harus. Bukan untuk prestise, tapi impian atau harapan membuat kita tahu apa yang ingin kita dapatkan sekaligus sebagai bahan bakar yang menggerakkan usaha-usaha pencapaian.
Namun tidak jarang kita terlalu fokus pada tujuan yang demikian besar dan tinggi, sehingga kita lupa dengan hal-hal kecil yang sebenarnya merupakan bahan penyusun bangunan yang kita sebut tujuan. Sedemikian kelihatan kecilnya, sampai-sampai sering dipandang hanya akan menghabiskan waktu secara percuma kalau harus mendapat perhatian.
Kemudian dengan sekuat tenaga dan potensi, meloncatlah kita menggapai mimpi besar. Apa yang terjadi? Tak jarang kita hanya tersungkur, lalu bangun dan meloncat lagi untuk jatuh, terjerembab, atau terbentur. Mimpi melayang, harapan tinggal harapan.
Namun apa yang terjadi kalau kita memulai dari hal-hal sederhana yang kita bisa lakukan. Kita titi jalan mendaki menuju puncak dengan menapaki apa yang mampu kita tempuh. Ada saatnya melompat, kadang bisa berlari, namun bisa jadi kita harus merangkak. Tanpa disadari, kita akan semakin dekat dengan tujuan yang diharapkan. Bisa jadi kita sendiri akan terkejut melihat kemajuan yang dicapai.
Dalam dunia pendidikan, yang tujuannya adalah menghasilkan pribadi yang lebih berkembang, generasi yang lebih baik, maka hal pertama yang dilakukan guru adalah memperbaiki kualitas diri. Akan sangat lucu bila mengajarkan kedisiplinan, tapi guru selalu menampilkan sikap indisipliner. Menjadi aneh bila guru menerangkan kesehatan tapi dia perokok. Sungguh mengenaskan ketika guru berbicara tentang ketertiban tapi tidak bisa antri dan berlaku seenaknya di jalannya.
Memperbaiki bangsa ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berapa juta telapk tangan yang harus dibalikkan? Namun kalau kita membalikkan telapak tangan sendiri, tentu saja jauh lebih mudah. Balikkan tangan kita, perbaiki diri kita. Perbaiki cara mengajar kita. Perbaiki tujuan dan niat kita. Ini langkah kecil kita menuju Indonesia lebih baik. Perlu revolusi?
Namun tidak jarang kita terlalu fokus pada tujuan yang demikian besar dan tinggi, sehingga kita lupa dengan hal-hal kecil yang sebenarnya merupakan bahan penyusun bangunan yang kita sebut tujuan. Sedemikian kelihatan kecilnya, sampai-sampai sering dipandang hanya akan menghabiskan waktu secara percuma kalau harus mendapat perhatian.
Kemudian dengan sekuat tenaga dan potensi, meloncatlah kita menggapai mimpi besar. Apa yang terjadi? Tak jarang kita hanya tersungkur, lalu bangun dan meloncat lagi untuk jatuh, terjerembab, atau terbentur. Mimpi melayang, harapan tinggal harapan.
Namun apa yang terjadi kalau kita memulai dari hal-hal sederhana yang kita bisa lakukan. Kita titi jalan mendaki menuju puncak dengan menapaki apa yang mampu kita tempuh. Ada saatnya melompat, kadang bisa berlari, namun bisa jadi kita harus merangkak. Tanpa disadari, kita akan semakin dekat dengan tujuan yang diharapkan. Bisa jadi kita sendiri akan terkejut melihat kemajuan yang dicapai.
Dalam dunia pendidikan, yang tujuannya adalah menghasilkan pribadi yang lebih berkembang, generasi yang lebih baik, maka hal pertama yang dilakukan guru adalah memperbaiki kualitas diri. Akan sangat lucu bila mengajarkan kedisiplinan, tapi guru selalu menampilkan sikap indisipliner. Menjadi aneh bila guru menerangkan kesehatan tapi dia perokok. Sungguh mengenaskan ketika guru berbicara tentang ketertiban tapi tidak bisa antri dan berlaku seenaknya di jalannya.
Memperbaiki bangsa ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berapa juta telapk tangan yang harus dibalikkan? Namun kalau kita membalikkan telapak tangan sendiri, tentu saja jauh lebih mudah. Balikkan tangan kita, perbaiki diri kita. Perbaiki cara mengajar kita. Perbaiki tujuan dan niat kita. Ini langkah kecil kita menuju Indonesia lebih baik. Perlu revolusi?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar