Kamis, 29 Desember 2016

Bagaimana Seorang Guru Menempatkan Dirinya?


Puji aku, dan aku mungkin tidak akan mempercayaimu. Kritik aku, dan mungkin aku tidak akan menyukaimu. Acuhkan aku, dan mungkin aku tak akan memaafkanmu. Dorong aku, dan aku mungkin tak akan melupakanmu.
>> William Arthur <<

                Dipercaya, disukai, dimaafkan, dan selalu diingat murid adalah beberapa harapan seorang guru. Tapi apa lacur? Banyak guru mendapatkan kenyataan sebaliknya. Kenapa demikian?
                Dogma bahwa guru itu harus digugu (ditaati) dan ditiru dimaknai berbeda. Terutama makna digugu. Ketaatan pada guru kemudian dipandang sebagai sebuah peluang bagi guru untuk menjadi raja atau ratu di kelas. Titah pandita ratu. Segala kata-kata dan kemauanya harus dilakukan. Guru bisa dan boleh melakukan apa saja. Kan raja. Guru tidak bisa bersalah (= dipersalahkan). Namanya juga raja. Otoritas kelas dipegang guru secara mutlak dan otoriter.
                Tentu saja tidak semuanya seperti itu. Tapi bisa jadi juga potret kebanyakan. Kata-kata William Arthur di atas patut direnungkan oleh semua guru. Apakah kekuasaan otoriter yang diperlukan seorang guru? Kenyamanan seperti pa yang dibutuhkan para murid? Apa sebenarnya yang diinginkan dan dibuthkan anak?
                Ada guru suka obral pujian. Salah kah memberi pujian? Ya tentu saja tidak. Pada dasarnya pujian itu pisau bermata dua.  Pujian kalau diberikan pada momen yang tepat maka akan menjadi pemacu motivasi. Pujian yang seperti ini adalah pujian yang spesifik, jelas apa yang dipujinya dan memang layak untuk dipuji. Bukan hanya sekedar kata-kata, “bagus...”. Apanya yang bagus? Kenapa bagus?
                Pujian seperti itu adalah pujian basa-basi. Berhati-hatilah karena anak akan membaca dan menyadari bahwa pujian itu sudah basi. Akhirnya muncullah ketidakpecayaan murid kepada gurunya.
                Setali tiga dua dengan pujian, kritik pun bisa mempunyai kekuatan dahsyat yang membangun, namun juga bisa menghancurkan. Perlu kehatian-hatian juga dalam memberikan kritik, kalau tidak bisa jadi murid tidak akan menyukai gurunya gara-gara kritik yang tidak membangun. Kritik yeng membangun bukan sekedar memberi koreksi, tapi juga memperhatikan pilihan kata yang tidak menyakiti, memperhitungkan waktu dan kondisi sehingga yang dikritik tidak merasa dipermalukan.
                Beda halnya jika yang dilakukan guru adalah mendorong (memotivasi) muridnya. Mendorong untuk selalu lebih baik, selalu berkembang. Dorongan bersifat lebih persuasif dan humanis. Dorongan lebih menentramkan dan menyejukkan. Tujuannya sama dengan pujian dan kritikan, yaitu membuat anak menjadi dan melakukan dengan lebih baik.
Saat berada di kelas, guru berperan sebagai pengarah, pemimpin, dan penemu sekaligus. Ada waktunya mengajar, memberi petunjuk, atau mengilhami. Ketiga peran tersebut berbeda dalam pola bahasa, postur, dan gerak tubuh.
Menjadi pengarah berarti seorang guru dituntut mampu berkomunikasi secara jernih dengan anak didiknya. Komunikasi yang jernih akan mudah dipahami anak, sehingga mengurangi kemungkinan salah persepsi. Di pihak lain membuat suasana pembelajaran lebih efektif dan mendukung kenyamanan kelas. Oleh karena itu instruksi harus disampaikan secara jelas dan lengkap. Tidak sepotong-potong.
Diawali dengan menyebutkan kapan dimulai, misalnya, “Dalam hitungan kelima...” ini bisa membantu anak berkonsentrasi dan fokus pada apa yang akan ia kerjakan. Selain secara tidak langsung mengajak anak bersiap-siap kerja.
Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan secara jelas instruksi itu ditujukan kepada siapa. Misalnya, “Dalam hitungan kelima setiap kelompok...” Penyebutan secara spesifik membantu yang bersangkutan untuk lebih memperhatikan. Lalu diteruskan dengan arahan yang jelas, “Dalam hitungan kelima setiap kelompok mengambil selembar karton putih di meja guru, lalu mulailah membuat grafiknya....” Kalau dirasa perlu, bisa dikuatkan dengan menuliskan kata-kat kunci di papan tulis.
Diakhiri dengan arahan dengan memeriksa tingkat pemahaman, untuk memastikan sudah seperti yang diinginkan atau belum. “Adakah yang belum jelas?” atau “Ada yang ingin ditanyakan?” Setelah yakin instruksi dipahami dengan baik oleh semua anak, ditutup dengan sebuah kata kerja. “Mulai!” “Kerjakan!”
Sebagai pemimpin, guru harus mampu memberi motivasi dan inspirasi. Benar, bahwa motivasi yang paling bagus adalah yang berasal dari diri sendiri (motivasi intrinsik). Ada kesadaran dan rasa tanggung jawab di dalamnya.
Nah, yang harus dilakukan seorang guru adalah menstimulasi agar muncul motivasi intrinsik pada diri anak didiknya. Caranya dengan memunculkan manfaat materi yang akan dipelajari, mengidentifikasi alasan-alasan mengapa harus dipelajari, dan menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Motivasi juga bisa bangkit karena ada tarikan dari luar. Contoh dari kisah-kisah nyata bisa menjadi stimulusnya. Bisa juga dengan presentasi yang powerful, yang memberikan keyakinan dan mendobrak daya juang. Orator-orator ulung memakai teknik ini untuk menggerakkan pendengarnya.
Memotivasi dengan hadiah merupakan alternatif lain. Namun harus hati-hati dan cermat. Jangan sampai hadih menjadi tujuan utama anak. Demikian juga dengan pujian. Pujian bisa menjadikan seorang anak terus meningkat kinerjanya, tetapi kalau tidak tepat bisa berbalik membuat seorang anak merasa begitu mudah mencapai keberhasilan. Akhirnya diapun kehilangan motivasi.
Memberi inspirasi berarti membuka pintu pencerahan dan kreativitas. Sisi penting  memberi inspirasi adalah menghidupkan lampu yang menerangi jalan bagi perkembangan kemampuan anak. Bagaimana wajah bahagia seorang anak ketika mendapatkan ide bagus untuk menyelesaikan tugasnya. Betapa bahagia ia dengan antusias mengerjakan tugasnya.
Menjalankan peran sebagai penemu membawa seorang gruru pada implikasi bahwa dia harus menunjukkan sikap yang antusias. Gaya bahasa, intonasi, gerak tubuh, dan roman muka menunjukkan seseorang yang bersemnagat dan tertarik pada materi pelajaran. Hal ini akan tertangkap oleh anak, kemudian terpancar mempengaruhi suasana kelas. Penuh antusias dan ketertarikan.
Memainkan peran sebagai penemu juga berarti bahwa seorang guru mengajak murid-muridnya bertualang melalui jalur-jalur yang mengasyikkan dan kadang-kadang tidak terduga, penuh kejutan. Kata-kata yang dipilih sebagai arahan dan instruksi juga menunjukkan semangat seorang penemu. “Kita akan memulai petualangan tentang luas lingkaran dengan...”
Selama proses berlangsung, guru terus membangkitkan semangat dan menjaga fokus. “Coba perhatikan...” “Kita lihat...” “OK, coba ulangi lagi dengan cara mengurangi kata-kata yang tidak perlu.”
Guru bukanlah subjek pembelajaran. Ini adalah tumpuan utama ketika memposiskan peran guru. Implikasinya jelas, selain sebagai pengarah, pemimpin, dan penemu, guru juga sebagai fasilitator di kelas. Guru membuat sebuah rencana dan suasana agar anak bisa mengakses pengetahuan dengan berbagai jalan dan cara. Guru hanya memfasilitasi, bukan memberikan pengetahuan, apalagi dogma-dogma.
Sebagai fasilitator, guru mempunyai peran untuk memudahkan anak dalam proses pembelajaran. Agar bisa menjalankan peran tersebut, seorang guru harus memahami berbagai media dan sumber belajar serta fungsinya. Ini diperlukan agar guru bisa membuat rencana pembelajaran dengan beragam metode dan pendekatan. Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru dituntut mampu mengoperasikan berbagai media dan memanfaatkan berbagai sumber.

Kuncinya adalah bersabar terhadap proses dan menjaga diri untuk tidak menjadi sumber utama dalam pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar