Pun
halnya ketika dunia maya dipenuhi ocehan ‘Om Tolelot Om’, memang sudah
disediakan jatah waktunya. Om Tolelot Om seakan memaksa klakson dibunyikan
tidak pada saat yang tepat. Klakson dibunyikan karena ada permintaan. Tapi sejatinya
memang sudah waktunya klakson berbunyi. Kebetulan penyebabnya karena diminta. Seperti
halnya mangga yang jatuh. Bisa karena sudah terlalu matang. Bisa juga karena
sendal kita melayang dan mengenainya. Yang jelas sudah saatnya mangga berpisah
dengan tangkai.
Om Tolelot
Om. Memang, sih waktu tidak berkuasa apa-apa. Yang menyediakan waktulah
penguasa sebenarnya. Dia yang mengatur kapan sesuatu harus terjadi, dan apa pemicunya. Dalam kehidupan kita sering
begitu kesal, begitu marah, bila ada yang tidak sesuai harapan. Kita sibuk
mencari pembenaran. Tak jarang ego yang menjadi panglimanya. Kitalah yang
paling benar. Yang lain pasti salah.
Jangan tolelot
mulu. Ketika merasa jalan terhalangi, pencet klakson keras-keras. Kita suruh
yang lain pada minggir. Kasih jalan bahasa yang lebih santunnya. Kenapa? Karena
kitalah yang paling benar. Yang lain salah.
Udah,
jangan tolelot-tolelot. Waktu memang tidak berkuasa apa-apa. Tapi dia yang akan
menjadi saksi sepanjang perjalanan hidup kita. Ia yang menjadi saksi
usaha-usaha culas apa yang sudah kita kerjakan. Ia yang menjadi saksi betapa
sering kita menempelkan kepentingan pribadi atas nama kepentingan bersama. Ia yang
menyaksikan seberapa banyak kita menghasut, membeberkan aib orang lain,
menjelek-jelekkan orang lain. Tolelot!!!
Jangan merasa
aman. Waktu akan memberitahu semuanya. Eh, maaf. Penguasa waktu yang
mengaturnya. Jangan merasa aman. Kebusukan akan tersebar baunya. Sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat
pasti akana jatuh juga. Siapa menabur angin, ia akan menuai badai. Jangan merasa
aman, semuanya akan terbuka. Tinggal tunggu waktu saja. Ya, tinggal tunggu
saatnya. Jadi tidak perlu tolelot-lelot. Tidak perlu Om Tolelot Om.
Dan sesungguhnya saat ini
semuanya kian terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar