Rabu, 28 Desember 2016

Kemampuan, Kita yang Mengondisikannya


Kau bisa belajar hal baru kapan pun bila kau bersedia menjadi pemula. Jika kau belajar menyukai menjadi pemula, maka dunia akan membuka diri padamu.
--- Barbara Sher---


                Salah satu kunci sukses dalam belajar adalah kondisi dimana kita mau membuka diri. Gelas dapat diisi air bila gelas tersebut tidak tertutup. Pengetahuan dapat diserap bila tidak ada tabir yang menghalanginya. Tabirnya bisa jadi pengalaman, ego, menganggap gampang, ataupun sentimen.
                Saat belajar, posisikan diri kita sebagai orang yang tidak tahu, orang yang butuh pengetahuan baru. Maka otak akan mengaktifkan diri untuk menangkap dan memahami serpihan-serpihan pengetahuan yang sedang ditebar.
                Beda halnya kalau menganggap diri sudah jagoan. Karena merasa sudah banyak tahu, otak malas bergerak. Ia pasif menanggapi informasi yang beredar disekelilingnya, dan bisa itu adalah hal baru yang sebenarnya berbeda dari yang ia pahami sebelumnya.
                Nah, saat mengajar sepertinya guru yang banyak memberi sesuatu. Dan memang demikian adanya, tidak salah. Namun cobalah menjadi seorang pemula, seorang yang baru belajar. Berapa belas atau berapa puluh tahun Anda mengajar, jangan jadikan sebuah kebanggaan saat berada di kelas. Sebanyak apapun pengalaman Anda, tetaplah menjadi menjadi seorang guru seperti halnya hari pertama masuk kelas.
                Akan perbedaan besar saat merasa sangat berpengalaman dengan saat merasa butuh banyak pengalaman (baca: pemula). Seorang pemula akan banyak belajar. Ia akan mengaktifkan banyak sensor untuk membuat dirinya lebih mampu. Seorang pemula akan selalu bergerak dan menginstropeksi diri, belajar dari diri sendiri dan orang lain.
                Sedangkan orang yang merasa sangat  berpengalaman akan merasa sudah banyak makan asam garam (ga enak, ya...). Ia cenderung merasa sudah menguasai banyak hal. Namanya juga berpengalaman. Kemudian ia hanya berkutat di seputar dirinya saja. Dari hari ke hari ya begitu saja. Bisa jadi merasa stagnan. Pengalaman belasan atau puluhan tahun tidak berarti apa-apa.
                Guru itu sama dengan profesi lainnya. Ia butuh inovasi, daya kreasi, kemampuan berpikir kritis-imajinatif. Guru harus menyesuaikan diri dengan jiwa jaman. Masa terus bertumbuh dan berkembang. Kemajuan diberbagai bidang harus diantisipasi dan dioptimalkan dalam dunia pendidikan.
                So, jangan puas dengan hanya menjadi guru selama puluhan tahun. Bisa jadi pengalamannya Cuma satu tahun. Jadilah guru baru setiap hari. Guru yang selalu belajar dan up to date. Guru harus berlari, jangan terkencing-kencing saat murid sudah melesat jauh dengan dunianya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar