Kamis, 05 Januari 2017

life skills

Menurut definisi World Health Organization (WHO), life skills atau ketrampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif. Definisi itu adalah menurut World Health Organization (WHO).
LifeSkills
Berikut ini beberapa kelompok ketrampilan yang termasuk life skills menurut UNICEF dan UNESCO:
1.    LEARNING TO KNOW: Cognitive abilities
a.    Ketrampilan memecahkan masalah dan membuat keputusan
§  Ketrampilan mengumpulkan informasi
§  Ketrampilan mengevaluasi dampak pada masa depan dari keputusan yang dilakukan pada saat ini pada diri sendiri dan orang lain
§  Ketrampilan menentukan solusi alternatif untuk sebuah masalah
§  Ketrampilan melakukan analisis terhadap pengaruh nilai dan sikap diri & orang lain mengenai motivasi
b.    Ketrampilan berfikir kritis (critical thinking)
§  Ketrampilan menganalisis pengaruh sebaya dan media
§  Ketrampilan menganalisis sikap, nilai, norma-norma sosial, dan keyakinan; dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
§  Ketrampilan mengidentifikasi informasi yang relevan dan sumber-sumber informasi
2.    LEARNING TO BE: Personal abilities
a.    Ketrampilan meningkatkan pusat kontrol internal
§  Kepercayaan diri (self-esteem) dan ketrampilan membangun kepercayaan diri (confidence)
§  Ketrampilan sadar-diri (self-awareness skills), termasuk kesadaran akan hak, pengaruh, nilai-nilai, sikap, kekuatan, dan kelemahan
§  Ketrampilan menentukan tujuan (goal-setting skills)
§  Ketrampilan evaluasi diri, penilaian diri, dan monitoring diri
b.    Ketrampilan mengelola perasaan
§  Ketrampilan mengelola amarah (anger management)
§  Ketrampilan mengelola keluhan dan keresahan
§  Ketrampilan mengelola kehilangan, penghinaan (abuse), dan trauma
c.    Ketrampilan mengelola stress
§  Ketrampilan manajemen waktu
§  Ketrampilan berfikir positif
§  Menguasai teknik-teknik relaksasi
3.    LEARNING TO LIVE TOGETHER: Interpersonal abilities
a.    Ketrampilan komunikasi interpersonal
§  Komunikasi verbal dan nonverbal
§  Ketrampilan mendengarkan aktif
§  Ketrampilan mengekspresikan perasaaan; memberikan umpan balik (tanpa menyalahkan) dan menerima umpan balik
b.     Ketrampilan negosiasi dan menolak
§  Negosiasi dan manajemen konflik
§  Ketrampilan bersikap asertif
§  Ketrampilan menolak
c.     Ketrampilan berempati
§  Kemampuan mendengarkan dan memahami kebutuhan dan kondisi orang lain dan mengekspresikan pengertiannya.
d.     Kerjasama dan kerja kelompok
§  Ketrampilan mengekspresikan penghargaan atas kontribusi orang lain dan gaya yang berbeda-beda.
§  Ketrampilan menilai kemampuan diri dan berkontribusi pada kelompok
e.     Ketrampilan advokasi
§  Ketrampilan mempengaruhi orang lain (influence) dan melakukan persuasi
§  Ketrampilan membangun jaringan dan memotivasi orang lain

Sumber:

http://rumahinspirasi.com/apa-itu-life-skills/

Selasa, 03 Januari 2017

Berdamai Dengan Diri Sendiri


Yang lebih penting dari bakat, pengetahuan, ataupun kekuatan adalah kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan menikmati mengajar sebuah impian.
--Amy Grant—

                Manusia itu serba tidak tahu, dan karenanya ia diwajibkan belajar. Bahkan kewajiban itu berlaku seumur hidup. Dan karena serba tidak tahu ini pula manusia diajarakan untuk berusaha (ikhtiar) , meski pada dasarnya tidak bisa memilih sesuai dengan keinginan. Manusia wajib bermimpi. Mimpi tersebut bisa dikatakan sebuah harapan (doa). Ya, harapan, sebab pada titik terakhir manusia tidak kuasa menentukan, hanya bisa  menerima apa yang diberikan padanya.
                Kita baru mengetahui sesuatu itu baik atau tidak setelah terjadi. Namun sayangnya, kita sering bergerak begitu cepat, sehingga tanda-tanda peringatan yang memberitahu bahwa kita sudah menyimpang, tak terlihat oleh kita. Kita tidak bisa melihat bahwa kita harus kembali ke jalan yang sudah kita bentangkan.
                Artinya apa? Kita tidak bisa terus melaju. Kita butuh waktu untuk diam sejenak. Ketika sedang melesat dengan kesibukan mengajar, kita butuh rehat. Bukan sekedar melepas penat, tapi kita perlu waktu merenung. Berapa lama? Sebanyak waktu yang cukup bagi kita untuk melihat diri sendiri, ‘apa yang terbaik dari diriku?’
                Efeknya adalah kita akan mampu melihat, mengenali, dan mempunyai keyakinan bahwa diri ini hebat. Bukan untuk sombong, karena bukan untuk dipamerkan ke orang lain. Cukup untuk diri sendiri. Keyakinan seperti menjadi pupuk bagi tumbuhnya percaya diri. Dan ini tentu saja sangat penting bagi seorang guru, dan juga bagi semua orang.
                Kepercayaan diri yang dibangun karena kesadaran akan kemampuannya, membuat seorang guru semakin nyaman. Ia akan lebih yakin saat membuat rencana pembelajaran, mengekskusinya, dan membuta evaluasi. Dan ini akan terbaca oleh anak didiknya. Mereka melihat bahwa gurunya adalah seorang dengan kepercayaan diri yang kuat. Anak akan semakin respek pada kita.
                Keterampilan mencari sesuatu yang terbaik dari diri sendiri juga harus ditularkan kepada murid. Anak-anak perlu dibiasakan melakukan refleksi. Bukan hanya tentang pengalaman dan materi belajar, tetapi juga hal terbaik apa yang mereka miliki atau lakukan pada hari itu. Ya, setiap hari refleksi seperti ini perlu dilakukan untuk meneguhkan keyakinan pada diri sendiri.

                Pada akhirnya, diharapkan setiap orang mampu berdamai dan mengurus diri sendiri. Inilah cara terbaik bagi kita untuk membantu orang lain. Maksud Amy Grant mengatakan menertawakan diri sendiri adalah seseorang yang nyaman dengan dirinya, karena ia tahu apa yang terbaik. Mungkin.

Minggu, 01 Januari 2017

Bagaimana Kita Belajar?

                Ada beragam kecerdasan. Ada yang membaginya kedalam Kecerdasan Majemuk, ada juga yang mengkategorisasi menjadi IQ, EQ, SQ. Bukan hanya jenis dan tingkat kecerdasan saja yang berbeda, modalitas belajar ternyata juga tak sama. Ada tipe auditori, ada yang tipenya visual, dan ada juga yang kinestetik.
                Kecerdasan dan modalitas belajar boleh saja dipilah-pilah dan berbeda-beda, namun apa pun tipe kecerdasan ataupun modalitasnya, dalam belajar ada kesamaan. Kesamaan tersebut adalah perlunya jalan agar pembelajaran yang dilakukan  bisa efektif.
Efektif berarti ada efeknya, punya dampak positif. Nah, bagaimmana supaya pembelajaran belrjalan efktif dan menghasilkan perubahan?
Pertama, adanya pengalaman yang menantang. Sesuatu yang menantang membuat orang jadi bergairah, semangat dan adrenalinnya terpacu. Dalam belajar, pengalaman yang menantang dapat diartikan tersedianya banyak kesempatan untuk keluar dari zona nyaman.
Maksudnya, kegiatan belajar bukanlah sesuatu yang monoton, mudah ditebak. Belajar merupakan petualangan yang penuh pengalaman baru dan tidak terduga, sehingga setiap waktu ada kemampuan dan keterampilan yang harus dipertajam.
Kedua, ada kesempatan untuk mempraktikkan. Belajar itu bukan di atas kertas. Di atas kertas hanya teori. ‘Aku dengar dan aku lupa. Aku lihat dan aku ingat. Aku melakukannya dan aku paham.’ Kredo ini menjelaskannya. Dalam belajar, perlu ada pengalaman yang membekas. Pengalaman akan terus lengket kalau pernah dikerjakan, dipraktikkan.
Dengan melakukan, materi pembelajaran akan terinternalisasi. Sensasinya tentu saja sangat berbeda dibandingkan jika hanya mendengar atau melihat saja. Sebagian besar indera, bahkan bisa jadi semua indera, aktif. Efeknya tentu saja munculnya performa yang lebih baik.
Ketiga, adanya percakapan yang kreatif. Apa lagi, Nih? Inti dari kreativitas adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, percakapan yang kreatif boleh diartikan sebagai percakapan yang berisi stimulasi agar terjadi sebuah pemecahan masalah.
Ingat, kata kuncinya adalah stimulasi. Jadi bukan memberi jalan keluar atas sebuah masalah, tapi memberi clue yang memantik anak agar mampu mencari solusi. Memberi jawaban secara langsung memang membuat anak jadi cepat menyelesaikan pekerjaannya, tapi dampaknya sungguh bertolak belakang dengan tujuan pembelajaran.
Belajar itu bukan menjawab pertanyaan. Belajar adalah meningkatkan kemampuan dan kapasitas sehingga mampu menjawab tantangan. Jadi kalau ada anak meminta tolong atas masalah yang dia dapatkan, jangan langsung ke solusi. Beri clue agar dia berpikir. Inilah penting, kemampuan berpikir. Bukan minta disuapi.
Terakhir, ada waktu untuk refleksi. Bukan pijat, tapi waktu untuk merenung dan mengikat makna. Dari pengelaman belajar yang sudah dilalui, pengetahuan dan keterampilan apa yang sudah didapatkan. Dari kesalahan, anak mengidentifikasi perbaikan apa yang perlu dilakukan. Dari semua proses, pengalaman dan refleksi adalah inti belajar.

Keempat cara belajar tersebut bukan berdiri sendiri-sendiri. Keempatnya merupakan paket yang mestinya ada dalam praktik pembelajaran. O, belum? Ya, sudah, mari kita mulai dari sekarang.