Ada beragam kecerdasan. Ada yang
membaginya kedalam Kecerdasan Majemuk, ada juga yang mengkategorisasi menjadi
IQ, EQ, SQ. Bukan hanya jenis dan tingkat kecerdasan saja yang berbeda,
modalitas belajar ternyata juga tak sama. Ada tipe auditori, ada yang tipenya
visual, dan ada juga yang kinestetik.
Kecerdasan dan modalitas belajar
boleh saja dipilah-pilah dan berbeda-beda, namun apa pun tipe kecerdasan ataupun
modalitasnya, dalam belajar ada kesamaan. Kesamaan tersebut adalah perlunya jalan
agar pembelajaran yang dilakukan bisa
efektif.
Efektif berarti ada efeknya, punya dampak positif. Nah, bagaimmana
supaya pembelajaran belrjalan efktif dan menghasilkan perubahan?
Pertama, adanya pengalaman yang menantang. Sesuatu yang menantang
membuat orang jadi bergairah, semangat dan adrenalinnya terpacu. Dalam belajar,
pengalaman yang menantang dapat diartikan tersedianya banyak kesempatan untuk
keluar dari zona nyaman.
Maksudnya, kegiatan belajar bukanlah sesuatu yang monoton, mudah
ditebak. Belajar merupakan petualangan yang penuh pengalaman baru dan tidak
terduga, sehingga setiap waktu ada kemampuan dan keterampilan yang harus
dipertajam.
Kedua, ada kesempatan untuk mempraktikkan. Belajar itu bukan di atas
kertas. Di atas kertas hanya teori. ‘Aku dengar dan aku lupa. Aku lihat dan aku
ingat. Aku melakukannya dan aku paham.’ Kredo ini menjelaskannya. Dalam belajar,
perlu ada pengalaman yang membekas. Pengalaman akan terus lengket kalau pernah
dikerjakan, dipraktikkan.
Dengan melakukan, materi pembelajaran akan terinternalisasi. Sensasinya
tentu saja sangat berbeda dibandingkan jika hanya mendengar atau melihat saja. Sebagian
besar indera, bahkan bisa jadi semua indera, aktif. Efeknya tentu saja munculnya
performa yang lebih baik.
Ketiga, adanya percakapan yang kreatif. Apa lagi, Nih? Inti dari
kreativitas adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, percakapan yang kreatif
boleh diartikan sebagai percakapan yang berisi stimulasi agar terjadi sebuah
pemecahan masalah.
Ingat, kata kuncinya adalah stimulasi. Jadi bukan memberi jalan keluar
atas sebuah masalah, tapi memberi clue yang memantik anak agar mampu mencari
solusi. Memberi jawaban secara langsung memang membuat anak jadi cepat
menyelesaikan pekerjaannya, tapi dampaknya sungguh bertolak belakang dengan
tujuan pembelajaran.
Belajar itu bukan menjawab pertanyaan. Belajar adalah meningkatkan
kemampuan dan kapasitas sehingga mampu menjawab tantangan. Jadi kalau ada anak
meminta tolong atas masalah yang dia dapatkan, jangan langsung ke solusi. Beri clue
agar dia berpikir. Inilah penting, kemampuan berpikir. Bukan minta disuapi.
Terakhir, ada waktu untuk refleksi. Bukan pijat, tapi waktu untuk
merenung dan mengikat makna. Dari pengelaman belajar yang sudah dilalui, pengetahuan
dan keterampilan apa yang sudah didapatkan. Dari kesalahan, anak
mengidentifikasi perbaikan apa yang perlu dilakukan. Dari semua proses,
pengalaman dan refleksi adalah inti belajar.
Keempat cara belajar tersebut bukan berdiri sendiri-sendiri. Keempatnya
merupakan paket yang mestinya ada dalam praktik pembelajaran. O, belum? Ya,
sudah, mari kita mulai dari sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar