Minggu, 01 Januari 2017

Bagaimana Kita Belajar?

                Ada beragam kecerdasan. Ada yang membaginya kedalam Kecerdasan Majemuk, ada juga yang mengkategorisasi menjadi IQ, EQ, SQ. Bukan hanya jenis dan tingkat kecerdasan saja yang berbeda, modalitas belajar ternyata juga tak sama. Ada tipe auditori, ada yang tipenya visual, dan ada juga yang kinestetik.
                Kecerdasan dan modalitas belajar boleh saja dipilah-pilah dan berbeda-beda, namun apa pun tipe kecerdasan ataupun modalitasnya, dalam belajar ada kesamaan. Kesamaan tersebut adalah perlunya jalan agar pembelajaran yang dilakukan  bisa efektif.
Efektif berarti ada efeknya, punya dampak positif. Nah, bagaimmana supaya pembelajaran belrjalan efktif dan menghasilkan perubahan?
Pertama, adanya pengalaman yang menantang. Sesuatu yang menantang membuat orang jadi bergairah, semangat dan adrenalinnya terpacu. Dalam belajar, pengalaman yang menantang dapat diartikan tersedianya banyak kesempatan untuk keluar dari zona nyaman.
Maksudnya, kegiatan belajar bukanlah sesuatu yang monoton, mudah ditebak. Belajar merupakan petualangan yang penuh pengalaman baru dan tidak terduga, sehingga setiap waktu ada kemampuan dan keterampilan yang harus dipertajam.
Kedua, ada kesempatan untuk mempraktikkan. Belajar itu bukan di atas kertas. Di atas kertas hanya teori. ‘Aku dengar dan aku lupa. Aku lihat dan aku ingat. Aku melakukannya dan aku paham.’ Kredo ini menjelaskannya. Dalam belajar, perlu ada pengalaman yang membekas. Pengalaman akan terus lengket kalau pernah dikerjakan, dipraktikkan.
Dengan melakukan, materi pembelajaran akan terinternalisasi. Sensasinya tentu saja sangat berbeda dibandingkan jika hanya mendengar atau melihat saja. Sebagian besar indera, bahkan bisa jadi semua indera, aktif. Efeknya tentu saja munculnya performa yang lebih baik.
Ketiga, adanya percakapan yang kreatif. Apa lagi, Nih? Inti dari kreativitas adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, percakapan yang kreatif boleh diartikan sebagai percakapan yang berisi stimulasi agar terjadi sebuah pemecahan masalah.
Ingat, kata kuncinya adalah stimulasi. Jadi bukan memberi jalan keluar atas sebuah masalah, tapi memberi clue yang memantik anak agar mampu mencari solusi. Memberi jawaban secara langsung memang membuat anak jadi cepat menyelesaikan pekerjaannya, tapi dampaknya sungguh bertolak belakang dengan tujuan pembelajaran.
Belajar itu bukan menjawab pertanyaan. Belajar adalah meningkatkan kemampuan dan kapasitas sehingga mampu menjawab tantangan. Jadi kalau ada anak meminta tolong atas masalah yang dia dapatkan, jangan langsung ke solusi. Beri clue agar dia berpikir. Inilah penting, kemampuan berpikir. Bukan minta disuapi.
Terakhir, ada waktu untuk refleksi. Bukan pijat, tapi waktu untuk merenung dan mengikat makna. Dari pengelaman belajar yang sudah dilalui, pengetahuan dan keterampilan apa yang sudah didapatkan. Dari kesalahan, anak mengidentifikasi perbaikan apa yang perlu dilakukan. Dari semua proses, pengalaman dan refleksi adalah inti belajar.

Keempat cara belajar tersebut bukan berdiri sendiri-sendiri. Keempatnya merupakan paket yang mestinya ada dalam praktik pembelajaran. O, belum? Ya, sudah, mari kita mulai dari sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar