Jumat, 29 Juli 2016

Peraturan, Perlukah?


                Belasan tahun saya mengajar, ada banyak hal yang membuat saya begitu terpukau dengan dunia tersebut. Salah satunya adalah bagaimana kita menertibkan (baca: mengajarkan berlaku tertib) anak. Peraturan adalah sarana yang dipandang efektif dan paling sederhana untuk mencapai tujuan tersebut.

                Maka tak mengherankan ketika masuk ke sebuah kelas di suatu sekolah, saya menemukan ada 36 peraturan berikut konsekuensi. Jidat saya berkerut membacanya, dan tentu saja bengong setelahnya. Namun akhirnya saya merasa geli setelah sejenak menenangkan diri dan mencoba berpikir jernih.
                Bukan bermaksud menertawakan, namun bagi saya semakin banyak peraturan bagi anak berarti semakin lucu diri kita ini. Misalnya begini, di kelas kita bikin peraturan dimana ada lima belas poin larangan. Suatu ketika ada anak yang melakukan sebuah tindakan tidak patut (indispliner) namun belum tercover dalam peraturan yang dibuat, apakah anak tersebut dinyatakan melanggar peraturan? Peraturan mana yang dilanggar, kan tidak ada dalam poin-poin peraturan yang dibuat? Apakah kemudian kita akan menambahkan poin baru? Itu berarti kita tidak antisipatif.
                Inilah yang saya sebut lucu dan membuat saya geli. Peraturan dimana-mana pasti disertai sanksi. Peraturan pasti bersifat membatasi. Di satu sisi, dunia anak adalah tempat yang begitu dinamis. Anak butuh banyak mencoba dan bereksplorasi. Peraturan yang ketat dengan ancaman sanksi akan membatasi ruang gerak anak. Bisa jadi anak takut dengan sanksinya. Dan, ingatkah bahwa pendidikan itu tujuannya mengembangkan anak? Kalau ternyata kita sendiri yang membatasi anak untuk berkembang, bukan kah itu sesuatu yang lucu?
                Benar sekali kita harus mengajarkan anak untuk tahu aturan, tidak berlaku seeenak sendiri, dan menghargai orang lain. Kalau tanpa peraturan, lalu dengan apa? Beruntung saya menemukan jawabannya. Tidak usah bikin peraturan!
                Setiap awal tahun ajaran, saat pertama kali  masuk kelas, saya katakan: “Kalian boleh melakukan apa saja asal tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.” Sudah, cukup itu saja. Pendek, simpel, jelas, dan antisipatif. Disamping itu juga tidak membuat anak takut, bahkan mereka merasa aman dan nyaman. Kan boleh melakukan apa saja.
                Tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Itu kuncinya. Kita ajak anak memahami betul kalimat tersebut dengan contoh perbuatan. Akhirnya anak sadar bahwa apapun yang bersifat merugikan tidak boleh dilakukan. Apa saja itu? Banyak, dan tentu saja tidak akan cukup untuk menuliskan daftarnya. Dan memang tidak perlu didaftar.
                Tentu saja hal ini tidak otomatis membuat anak jadi tertib seratus persen. Justru ketika mereka melakukan tindakan yang merugikan, itulah saatnya menyadarkan dan membelajarkan bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.

                Jadi sebenarnya bukan tanpa aturan, tapi perturan yang dibuat sangat cair (pasal karet maksudnya, he..he..he...). Sehingga apapun perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang merugikan dan tidak boleh dilakukan.

Selasa, 26 Juli 2016

Apa yang Kita Harapkan, Itulah yang Kita Dapatkan


               
             Saya yakin bahwa apa yang kita peroleh nanti adalah buah dari harapan kita saat ini. Bisa jadi tidak benar-benar seperti yang kita harapkan, bisa jadi lebih baik. Tentu saja apa yang lebih baik tidak selalu mampu kita pahami dan terima dengan cepat. Kita perlu menempuh perjalanan waktu dan kejadian yang membuat kita paham. Hikmah tidak datang secara tiba-tiba.
                Begitu pula halnya dalam dunia pendidikan. Apa yang dicita-cita akan berbuah pada masanya. Bisa jadi cepat, mungkin juga butuh waktu lebih lama. Bisa jadi benar-benar sesuai, dan tidak menutup kemungkinan berbuah lebih manis. Praktisnya, sebagai seorang guru bersikap optimis terhadap pencapaian anak didik kita. Bagaimana pun kondisi dan potensi anak, ia tetap punya kesempatan untuk berhasil. Dan kitalah, sebagai seorang guru, yang berkewajiban memunculkan harapan itu.
                Hal pertama dan yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan harapan akan keberhasilan anak dalam diri kita sendiri. Yakinlah bahwa Tuhan tidak menyiakan-nyiakan ciptaannya dengan mematok takdir buruk terhadapnya. Bukankah Tuhan itu maha penyayang?
                Kesadaran dan harapan seperti itu akan memacu kita menemukan apa yang bisa dicapai anak kelak. Dapat dikatakan membuat target bagi anak tersebut. Kemudian kita akan tergerak untuk mencari strategi dan  menyusun langkah agar anak sampai pada tujuan yang dikehendaki.
                Inilah poin penting dari harapan; ada target dan strategi pencapaiannya. Kalau sudah demikian, maka tidak ada lagi anak yang tertinggal. Semuanya bergerak maju. Ada yang bisa berlari cepat, ada juga yang berjalan dengan irama yang membuat ia bisa mengamati segala sesuatu secara lebih seksama. Yang jelas ada kemajuan, dan inilah yang disebut tidak tertinggal.
                Tidak tertinggal bukan berarti semua harus sampai di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Cepat atau lambat, keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang cepat bisa mendapat banyak hal, sedangkan yang lebih lambat bisa belajar banyak tentang suatu hal.

                So, sudahkah Anda menetapkan harapan pada masing-masing anak didik Anda? Seberapa dalam dan bermakna harapan itu? Sudahkah jalannya Anda bentangkan? Kalau belum, tidak ada kata terlambat untuk memulai, selama waktu masih menempuh perjalanannya.

Senin, 25 Juli 2016

Membaca Adalah Dunia Tanpa Batas

             Membaca adalah kemampuan dasar yang sangat penting. Hampir seluruh sendi kehidupan berhubungan dengan membaca. Aksara ada dimana-mana. Bahkan kita merasa tak membaca apapun padahal mata kita melakukan proses baca. Ketika mengetik status di media sosial, kita tak sadar bahwa sebenarnya sedang membaca.
                Begitu pula saat di jalan atau tempat-tempat umum lainnya, semuanya tak lepas dari aktivitas membaca. Jadi jangan bilang “Aku ga suka baca”. Ketika nonton TV, main game, berolahraga, atau belanja adakah yang tanpa aktivitas membaca?
                Dalam tataran belajar, membaca adalah gerbang utama masuknya pengetahuan. Terlebih dalam era digital saat ini, membaca merupakan aktivitas utama dalam mendapatkan informasi. Masalahnya adalah dalam belajar, kemampuan membaca bukan hanya sekedar bisa membunyikan rangkaian huruf. Tidak cukup hanya mengajarkan anak sekedar bisa baca saja.
                Proses belajar hendaknya membuat anak biasa untuk memahami, mampu mengaplikasikan, berpikir kritis analitis, dan mempunyai daya kreativitas. Walaupun bukan satu-satunya jalan, membaca bisa mengembangkan keterampilan-keterampilan tadi. Tentu saja melalui aktivitas yang dibangun secara terencana dan sistematis. Artinya ada target-target yang harus dicapai dan bagaimana mencapainya.
                Saat ini kebanyakan sekolah masih membiasakan anak membaca supaya hapal. Hapal materi pelajaran, dan ketika ulangan bisa menjawab sesuai dengan buku teks yang bacanya. Dan sayangnya, kebanyakan guru puas dan berhenti pada proses ini saja. Sebenarnya hal seperti ini masih jauh dari tujuan belajar membaca itu sendiri.

                Belajar membaca tidak berhenti ketika anak sudah lancar membaca. Lancar membaca baru awal saja, bukan tujuan akhir. Anak perlu terus distimulasi supaya ia bisa memahami isi bacaan dan berpikir kritis-kreatif. Nah, pada tahap inilah justru keseruan membaca terbangun. Anak bisa mengeksplorasi banyak hal dari apa yang ia baca. Imajinasinya berkembang. Daya kritisnya terasah. Membaca adalah dunia yang tanpa batas.

Rabu, 20 Juli 2016

Berjalan Lebih Lambat, Menyelam Lebih Dalam: Indahnya Kampung Halaman

               

Dulu, ketika menghabiskan masa kecil di kampung, terasa tak ada yang istimewa. Menghabiskan waktu di sungai dengan memancing dan mandi adalah hal biasa. Melihat kumpulan ratusan burung pipit, ikan-ikan kecil di selokan dan saluran irigasi sawah adalah hal lumrah. Berlarian di pematang sawah, dan kalau haus minum air sawah sering kami lakukan.










                Pemandangan pagi yang sedikit berkabut, sunrise di punggung Gunung Lawu, petani yang berangkat ke sawah fenomena yang tidak aneh mengawali pagi. Kupu-kupu yang jumlah yang sangat banyak di siang hari, nyanyi burung kutilang yang biasa kami buru  dengan ketapel adalah teman bermain saat pulang sekolah.
                Ketika matahari tenggelam di balik gagahnya Gunung Merapi, kelelawar mulai beterbangan. Bersenjatakan sarung, kami mencoba menjatuhkan salah satu; sesuatu yang sulit dilakukan. Aktivitas menunggu  maghrib tiba tanpa mempedulikan indahnya sunset.
                Kini, ketika kembali ke tempat yang sama membawa kedua anak saya, ada yang berbeda. Sawah masih membentang. Sungai tempat bermain masih mengalirkan air. Pagi tetap temaram oleh kabut tipis.
Tapi burung-burung di sawah tidak sebanyak dahulu. Barisan kupu-kupu kini tak tampak lagi. Kelelawar di langit senja tak lagi menarik untuk diajak bermain. Sebenarnya bukan perubahan seperti ini yang membuat saya sedikit mengernyit. Fenomena tadi adalah hal lumrah yang tak perlu pembahasan bertele-tele. Waktu bergulir, masa berganti, kampung terseret-seret arus globalisasi. Itu saja cukup untuk menjelaskan.
Yang berbeda adalah cara saya memandang semua fenomena alam. Dulu semua tidak saya perhatikan karena setiap hari keadaannya seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Ketika saya katakan pada anak-anak bahwa di sini, dikampung ini, saat cuaca cerah kita bisa menyaksikan sunrise dan sunset , mereka begitu antusias ingin menyaksikannya.
Jadilah kami merencanakan kegiatan tersebut. Beberapa menit sebelum matahari muncul, kami pergi ke sawah, tempat yang tak terhalang rumah penduduk. Kami mengamati saat-saat sebelum matahi muncul dari balik gunung sampai nyalanya mulai terang. Wow, pemandangan pagi yang tak pernah disaksikan anak saya sebelumnya.
Dari sana saya kenalkan mereka dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar. Sawah yang sudah ramai dengan petani yang menanam padi, embun-embun di daun, serangga-serangga kecil, dan binatang-binatang lainnya. Ternyata banyak sekali yang mereka pelajari,  dan saya pelajari juga.
Ketika segala sesuatu kita anggap fenomena yang biasa, maka kita tak akan pernah tertarik untuk melihatnya lebih mendalam. Namun, bila kita melihat sesuatu dengan ketakjuban, maka kita akan menemukan hal-hal menarik lainnya. Saya pun mencoba membuat ketakjuban. Suara air, bentangan sawah yang bergelombang, kuak bebek yang berisik, dan hal yang pada jaman dahulu saya anggap sepele sekarang yang perhatikan sungguh-sungguh.
Dan, oh! Kampung saya ternyata indah. Pemandangan alamnya hanya sawah, tapi indah. Indah karena saya menikmatinya. Saya  senang  menatapnya.
Inilah, yang penting bukan seberapa jauh kita berjalan, tapi seberapa dalam kita menyelam. Anak-anak mengenal aneka semak dan serangga, saya juga menikmatinya. Anak-anak terpukau  dengan kawanan Burung Kuntul (sejenis bangau) yang berputar-putar di atas sawah, saya juga menikmatinya. Saya ingat ketika Burung Puyuh sering dan Tekukur sering di temukan di pematang sawah. Saya rindu kerbau yang dipakai membajak sawah. Sekarang sudah tak ada. Saya ceritakan bahwa dulu di sawah kita bisa mencari ikan dan belut. Sekarang tak ada.

Tapi saya senang membawa anak-anak menyusur pesawahan. Tidak jauh, tapi kami berjalan perlahan memperhatikan semua hal. Banyak yang tidak terperhatikan ketika kita ingin serba cepat. Banyak hal menarik ketika kita tak perlu tergesa.

Selasa, 19 Juli 2016

Hilangnya Ruang Tamu Di Rumah Kita


                Hmm..., tentu saja tak lazim jika ada yang membangun rumah tanpa menyediakan tempat khusus untuk menjamu tamu, yang biasa kita sebut ruang tamu. Sengaja dibuat ruang tamu supaya orang yang berkunjung merasa nyaman.
Maka kebanyakan ruang tamu dibuat sengaja dengan penampilan yang lebih wah dari pada ruangan lain di dalam rumah. Bahkan kadang ruang tamu menjadi galeri ataupun showroom yang memperlihatkan tingkat kekayaan harta pemiliknya. Namun apapun itu, ruang tamu pada hakikatnya untuk tamu.
Musim lebaran menjadikan ruang tamu sebagai sebuah fenomena menarik. Tentu saja bagi yang jeli melihatnya. Tidak kalah fenomenalnya dengan tradisi mudik atau belanja baju baru. Ada apa dengan ruang tamu di saat lebaran?
Lihatlah beberapa bulan ke belakang sebelum lebaran, berfungsi sebagaimana mestinyakah ruang tamu kita? Berapa banyak orang yang berkunjung ke rumah kita?  Seberapa sering kita menjamu tamu? Berapa kali sofa yang tiap hari kita bersihkan dari debu diduduki tamu?
Di masa sekarang ini sudah jarang kerabat yang berkunjung ke rumah kerabatnya, teman yang sengaja mampir untuk berbincang. Buat apa? Semua urusan  bisa diselesaikan dengan ponsel ditangan. Sekadar menyapa sampai urusan bisnis ataupun yang lainnya bisa diselesaikan tanpa repot-repot datang ke rumah orang. Ini jaman simpel. Semua serba mudah.
Betul sekali. Kemudahan membuat orang akhirnya malas bergerak. Semua urusan diselesaikan tanpa bertatap muka secara langsung. Maka, timbul pertanyaan menggelitik; berapa tamu yang datang ke rumah kita? Berapa kali kita bertandang ke rumah teman atau kerabat?
Ruang tamu yang kita bangun sedemikian bagus akhirnya kurang berfungsi. Hilang ditelan hebatnya gawai. Dan saat lebaran adalah masa dimana ruang tamu kembali semarak. Beragam jamuan tersaji, orang datang pergi silih berganti. Ruang tamu yang biasanya sunyi sepi mendadak ramai dengan sapaan, candaan, dan suara-suara tawa.
Lihatlah seminggu setelah lebaran. Kursi tamu kembali kesepian. Bahkan lampu ruang tamu jarang dinyalakan. Makanan kecil sengaja disimpan. Gelas-gelas kembali jadi pajangan.

Masih adakah orang yang datang? Ada, yakni sales dan peminta sumbangan. Maka hilanglah ruang tamu kita sampai datang lebaran tahun depan.