Rabu, 20 Juli 2016

Berjalan Lebih Lambat, Menyelam Lebih Dalam: Indahnya Kampung Halaman

               

Dulu, ketika menghabiskan masa kecil di kampung, terasa tak ada yang istimewa. Menghabiskan waktu di sungai dengan memancing dan mandi adalah hal biasa. Melihat kumpulan ratusan burung pipit, ikan-ikan kecil di selokan dan saluran irigasi sawah adalah hal lumrah. Berlarian di pematang sawah, dan kalau haus minum air sawah sering kami lakukan.










                Pemandangan pagi yang sedikit berkabut, sunrise di punggung Gunung Lawu, petani yang berangkat ke sawah fenomena yang tidak aneh mengawali pagi. Kupu-kupu yang jumlah yang sangat banyak di siang hari, nyanyi burung kutilang yang biasa kami buru  dengan ketapel adalah teman bermain saat pulang sekolah.
                Ketika matahari tenggelam di balik gagahnya Gunung Merapi, kelelawar mulai beterbangan. Bersenjatakan sarung, kami mencoba menjatuhkan salah satu; sesuatu yang sulit dilakukan. Aktivitas menunggu  maghrib tiba tanpa mempedulikan indahnya sunset.
                Kini, ketika kembali ke tempat yang sama membawa kedua anak saya, ada yang berbeda. Sawah masih membentang. Sungai tempat bermain masih mengalirkan air. Pagi tetap temaram oleh kabut tipis.
Tapi burung-burung di sawah tidak sebanyak dahulu. Barisan kupu-kupu kini tak tampak lagi. Kelelawar di langit senja tak lagi menarik untuk diajak bermain. Sebenarnya bukan perubahan seperti ini yang membuat saya sedikit mengernyit. Fenomena tadi adalah hal lumrah yang tak perlu pembahasan bertele-tele. Waktu bergulir, masa berganti, kampung terseret-seret arus globalisasi. Itu saja cukup untuk menjelaskan.
Yang berbeda adalah cara saya memandang semua fenomena alam. Dulu semua tidak saya perhatikan karena setiap hari keadaannya seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Ketika saya katakan pada anak-anak bahwa di sini, dikampung ini, saat cuaca cerah kita bisa menyaksikan sunrise dan sunset , mereka begitu antusias ingin menyaksikannya.
Jadilah kami merencanakan kegiatan tersebut. Beberapa menit sebelum matahari muncul, kami pergi ke sawah, tempat yang tak terhalang rumah penduduk. Kami mengamati saat-saat sebelum matahi muncul dari balik gunung sampai nyalanya mulai terang. Wow, pemandangan pagi yang tak pernah disaksikan anak saya sebelumnya.
Dari sana saya kenalkan mereka dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar. Sawah yang sudah ramai dengan petani yang menanam padi, embun-embun di daun, serangga-serangga kecil, dan binatang-binatang lainnya. Ternyata banyak sekali yang mereka pelajari,  dan saya pelajari juga.
Ketika segala sesuatu kita anggap fenomena yang biasa, maka kita tak akan pernah tertarik untuk melihatnya lebih mendalam. Namun, bila kita melihat sesuatu dengan ketakjuban, maka kita akan menemukan hal-hal menarik lainnya. Saya pun mencoba membuat ketakjuban. Suara air, bentangan sawah yang bergelombang, kuak bebek yang berisik, dan hal yang pada jaman dahulu saya anggap sepele sekarang yang perhatikan sungguh-sungguh.
Dan, oh! Kampung saya ternyata indah. Pemandangan alamnya hanya sawah, tapi indah. Indah karena saya menikmatinya. Saya  senang  menatapnya.
Inilah, yang penting bukan seberapa jauh kita berjalan, tapi seberapa dalam kita menyelam. Anak-anak mengenal aneka semak dan serangga, saya juga menikmatinya. Anak-anak terpukau  dengan kawanan Burung Kuntul (sejenis bangau) yang berputar-putar di atas sawah, saya juga menikmatinya. Saya ingat ketika Burung Puyuh sering dan Tekukur sering di temukan di pematang sawah. Saya rindu kerbau yang dipakai membajak sawah. Sekarang sudah tak ada. Saya ceritakan bahwa dulu di sawah kita bisa mencari ikan dan belut. Sekarang tak ada.

Tapi saya senang membawa anak-anak menyusur pesawahan. Tidak jauh, tapi kami berjalan perlahan memperhatikan semua hal. Banyak yang tidak terperhatikan ketika kita ingin serba cepat. Banyak hal menarik ketika kita tak perlu tergesa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar