Dulu, ketika menghabiskan masa kecil di kampung, terasa tak ada yang istimewa. Menghabiskan waktu di sungai dengan memancing dan mandi adalah hal biasa. Melihat kumpulan ratusan burung pipit, ikan-ikan kecil di selokan dan saluran irigasi sawah adalah hal lumrah. Berlarian di pematang sawah, dan kalau haus minum air sawah sering kami lakukan.
Pemandangan
pagi yang sedikit berkabut, sunrise di punggung Gunung Lawu, petani yang berangkat
ke sawah fenomena yang tidak aneh mengawali pagi. Kupu-kupu yang jumlah yang
sangat banyak di siang hari, nyanyi burung kutilang yang biasa kami buru dengan ketapel adalah teman bermain saat
pulang sekolah.
Ketika
matahari tenggelam di balik gagahnya Gunung Merapi, kelelawar mulai
beterbangan. Bersenjatakan sarung, kami mencoba menjatuhkan salah satu; sesuatu
yang sulit dilakukan. Aktivitas menunggu
maghrib tiba tanpa mempedulikan indahnya sunset.
Kini,
ketika kembali ke tempat yang sama membawa kedua anak saya, ada yang berbeda.
Sawah masih membentang. Sungai tempat bermain masih mengalirkan air. Pagi tetap
temaram oleh kabut tipis.
Tapi burung-burung di sawah tidak
sebanyak dahulu. Barisan kupu-kupu kini tak tampak lagi. Kelelawar di langit senja
tak lagi menarik untuk diajak bermain. Sebenarnya bukan perubahan seperti ini
yang membuat saya sedikit mengernyit. Fenomena tadi adalah hal lumrah yang tak
perlu pembahasan bertele-tele. Waktu bergulir, masa berganti, kampung
terseret-seret arus globalisasi. Itu saja cukup untuk menjelaskan.
Yang berbeda adalah cara saya
memandang semua fenomena alam. Dulu semua tidak saya perhatikan karena setiap
hari keadaannya seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Ketika saya katakan pada
anak-anak bahwa di sini, dikampung ini, saat cuaca cerah kita bisa menyaksikan
sunrise dan sunset , mereka begitu antusias ingin menyaksikannya.
Jadilah kami merencanakan
kegiatan tersebut. Beberapa menit sebelum matahari muncul, kami pergi ke sawah,
tempat yang tak terhalang rumah penduduk. Kami mengamati saat-saat sebelum
matahi muncul dari balik gunung sampai nyalanya mulai terang. Wow, pemandangan
pagi yang tak pernah disaksikan anak saya sebelumnya.
Dari sana saya kenalkan mereka
dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar. Sawah yang sudah ramai dengan petani
yang menanam padi, embun-embun di daun, serangga-serangga kecil, dan
binatang-binatang lainnya. Ternyata banyak sekali yang mereka pelajari, dan saya pelajari juga.
Ketika segala sesuatu kita anggap
fenomena yang biasa, maka kita tak akan pernah tertarik untuk melihatnya lebih
mendalam. Namun, bila kita melihat sesuatu dengan ketakjuban, maka kita akan
menemukan hal-hal menarik lainnya. Saya pun mencoba membuat ketakjuban. Suara
air, bentangan sawah yang bergelombang, kuak bebek yang berisik, dan hal yang
pada jaman dahulu saya anggap sepele sekarang yang perhatikan sungguh-sungguh.
Dan, oh! Kampung saya ternyata
indah. Pemandangan alamnya hanya sawah, tapi indah. Indah karena saya
menikmatinya. Saya senang menatapnya.
Inilah, yang penting bukan
seberapa jauh kita berjalan, tapi seberapa dalam kita menyelam. Anak-anak
mengenal aneka semak dan serangga, saya juga menikmatinya. Anak-anak
terpukau dengan kawanan Burung Kuntul
(sejenis bangau) yang berputar-putar di atas sawah, saya juga menikmatinya.
Saya ingat ketika Burung Puyuh sering dan Tekukur sering di temukan di pematang
sawah. Saya rindu kerbau yang dipakai membajak sawah. Sekarang sudah tak ada.
Saya ceritakan bahwa dulu di sawah kita bisa mencari ikan dan belut. Sekarang
tak ada.
Tapi saya senang membawa
anak-anak menyusur pesawahan. Tidak jauh, tapi kami berjalan perlahan
memperhatikan semua hal. Banyak yang tidak terperhatikan ketika kita ingin
serba cepat. Banyak hal menarik ketika kita tak perlu tergesa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar