Membaca adalah kemampuan dasar yang sangat penting. Hampir
seluruh sendi kehidupan berhubungan dengan membaca. Aksara ada dimana-mana.
Bahkan kita merasa tak membaca apapun padahal mata kita melakukan proses baca.
Ketika mengetik status di media sosial, kita tak sadar bahwa sebenarnya sedang
membaca.
Begitu
pula saat di jalan atau tempat-tempat umum lainnya, semuanya tak lepas dari
aktivitas membaca. Jadi jangan bilang “Aku ga suka baca”. Ketika nonton TV,
main game, berolahraga, atau belanja adakah yang tanpa aktivitas membaca?
Dalam
tataran belajar, membaca adalah gerbang utama masuknya pengetahuan. Terlebih dalam
era digital saat ini, membaca merupakan aktivitas utama dalam mendapatkan
informasi. Masalahnya adalah dalam belajar, kemampuan membaca bukan hanya
sekedar bisa membunyikan rangkaian huruf. Tidak cukup hanya mengajarkan anak
sekedar bisa baca saja.
Proses
belajar hendaknya membuat anak biasa untuk memahami, mampu mengaplikasikan,
berpikir kritis analitis, dan mempunyai daya kreativitas. Walaupun bukan
satu-satunya jalan, membaca bisa mengembangkan keterampilan-keterampilan tadi.
Tentu saja melalui aktivitas yang dibangun secara terencana dan sistematis.
Artinya ada target-target yang harus dicapai dan bagaimana mencapainya.
Saat
ini kebanyakan sekolah masih membiasakan anak membaca supaya hapal. Hapal
materi pelajaran, dan ketika ulangan bisa menjawab sesuai dengan buku teks yang
bacanya. Dan sayangnya, kebanyakan guru puas dan berhenti pada proses ini saja.
Sebenarnya hal seperti ini masih jauh dari tujuan belajar membaca itu sendiri.
Belajar
membaca tidak berhenti ketika anak sudah lancar membaca. Lancar membaca baru
awal saja, bukan tujuan akhir. Anak perlu terus distimulasi supaya ia bisa
memahami isi bacaan dan berpikir kritis-kreatif. Nah, pada tahap inilah justru
keseruan membaca terbangun. Anak bisa mengeksplorasi banyak hal dari apa yang
ia baca. Imajinasinya berkembang. Daya kritisnya terasah. Membaca adalah dunia
yang tanpa batas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar