Begitu
pula halnya dalam dunia pendidikan. Apa yang dicita-cita akan berbuah pada
masanya. Bisa jadi cepat, mungkin juga butuh waktu lebih lama. Bisa jadi
benar-benar sesuai, dan tidak menutup kemungkinan berbuah lebih manis. Praktisnya,
sebagai seorang guru bersikap optimis terhadap pencapaian anak didik kita.
Bagaimana pun kondisi dan potensi anak, ia tetap punya kesempatan untuk
berhasil. Dan kitalah, sebagai seorang guru, yang berkewajiban memunculkan
harapan itu.
Hal
pertama dan yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan
harapan akan keberhasilan anak dalam diri kita sendiri. Yakinlah bahwa Tuhan
tidak menyiakan-nyiakan ciptaannya dengan mematok takdir buruk terhadapnya.
Bukankah Tuhan itu maha penyayang?
Kesadaran
dan harapan seperti itu akan memacu kita menemukan apa yang bisa dicapai anak
kelak. Dapat dikatakan membuat target bagi anak tersebut. Kemudian kita akan
tergerak untuk mencari strategi dan
menyusun langkah agar anak sampai pada tujuan yang dikehendaki.
Inilah
poin penting dari harapan; ada target dan strategi pencapaiannya. Kalau sudah
demikian, maka tidak ada lagi anak yang tertinggal. Semuanya bergerak maju. Ada
yang bisa berlari cepat, ada juga yang berjalan dengan irama yang membuat ia
bisa mengamati segala sesuatu secara lebih seksama. Yang jelas ada kemajuan,
dan inilah yang disebut tidak tertinggal.
Tidak
tertinggal bukan berarti semua harus sampai di tempat yang sama, pada waktu
yang sama. Cepat atau lambat, keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang
cepat bisa mendapat banyak hal, sedangkan yang lebih lambat bisa belajar banyak
tentang suatu hal.
So,
sudahkah Anda menetapkan harapan pada masing-masing anak didik Anda? Seberapa
dalam dan bermakna harapan itu? Sudahkah jalannya Anda bentangkan? Kalau belum,
tidak ada kata terlambat untuk memulai, selama waktu masih menempuh
perjalanannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar