Puji
aku, dan aku mungkin tidak akan mempercayaimu. Kritik aku, dan mungkin aku
tidak akan menyukaimu. Acuhkan aku, dan mungkin aku tak akan memaafkanmu. Dorong
aku, dan aku mungkin tak akan melupakanmu.
>>
William Arthur <<
Dipercaya, disukai, dimaafkan,
dan selalu diingat murid adalah beberapa harapan seorang guru. Tapi apa lacur?
Banyak guru mendapatkan kenyataan sebaliknya. Kenapa demikian?
Dogma bahwa guru itu harus digugu (ditaati) dan ditiru dimaknai
berbeda. Terutama makna digugu. Ketaatan
pada guru kemudian dipandang sebagai sebuah peluang bagi guru untuk menjadi
raja atau ratu di kelas. Titah pandita ratu. Segala kata-kata dan kemauanya
harus dilakukan. Guru bisa dan boleh melakukan apa saja. Kan raja. Guru tidak
bisa bersalah (= dipersalahkan). Namanya juga raja. Otoritas kelas dipegang
guru secara mutlak dan otoriter.
Tentu saja tidak semuanya seperti
itu. Tapi bisa jadi juga potret kebanyakan. Kata-kata William Arthur di atas
patut direnungkan oleh semua guru. Apakah kekuasaan otoriter yang diperlukan
seorang guru? Kenyamanan seperti pa yang dibutuhkan para murid? Apa sebenarnya
yang diinginkan dan dibuthkan anak?

Ada guru suka obral pujian. Salah
kah memberi pujian? Ya tentu saja tidak. Pada dasarnya pujian itu pisau bermata
dua. Pujian kalau diberikan pada momen
yang tepat maka akan menjadi pemacu motivasi. Pujian yang seperti ini adalah
pujian yang spesifik, jelas apa yang dipujinya dan memang layak untuk dipuji. Bukan
hanya sekedar kata-kata, “bagus...”. Apanya yang bagus? Kenapa bagus?
Pujian seperti itu adalah pujian
basa-basi. Berhati-hatilah karena anak akan membaca dan menyadari bahwa pujian
itu sudah basi. Akhirnya muncullah ketidakpecayaan murid kepada gurunya.
Setali tiga dua dengan pujian,
kritik pun bisa mempunyai kekuatan dahsyat yang membangun, namun juga bisa
menghancurkan. Perlu kehatian-hatian juga dalam memberikan kritik, kalau tidak
bisa jadi murid tidak akan menyukai gurunya gara-gara kritik yang tidak
membangun. Kritik yeng membangun bukan sekedar memberi koreksi, tapi juga
memperhatikan pilihan kata yang tidak menyakiti, memperhitungkan waktu dan
kondisi sehingga yang dikritik tidak merasa dipermalukan.
Beda halnya jika yang dilakukan
guru adalah mendorong (memotivasi) muridnya. Mendorong untuk selalu lebih baik,
selalu berkembang. Dorongan bersifat lebih persuasif dan humanis. Dorongan
lebih menentramkan dan menyejukkan. Tujuannya sama dengan pujian dan kritikan,
yaitu membuat anak menjadi dan melakukan dengan lebih baik.
Saat
berada di kelas, guru berperan sebagai pengarah, pemimpin, dan penemu
sekaligus. Ada waktunya mengajar, memberi petunjuk, atau mengilhami. Ketiga
peran tersebut berbeda dalam pola bahasa, postur, dan gerak tubuh.
Menjadi
pengarah berarti seorang guru dituntut mampu berkomunikasi secara jernih dengan
anak didiknya. Komunikasi yang jernih akan mudah dipahami anak, sehingga
mengurangi kemungkinan salah persepsi. Di pihak lain membuat suasana
pembelajaran lebih efektif dan mendukung kenyamanan kelas. Oleh karena itu
instruksi harus disampaikan secara jelas dan lengkap. Tidak sepotong-potong.
Diawali
dengan menyebutkan kapan dimulai, misalnya, “Dalam
hitungan kelima...” ini bisa membantu anak berkonsentrasi dan fokus pada
apa yang akan ia kerjakan. Selain secara tidak langsung mengajak anak
bersiap-siap kerja.
Kemudian
dilanjutkan dengan menyebutkan secara jelas instruksi itu ditujukan kepada
siapa. Misalnya, “Dalam hitungan kelima
setiap kelompok...” Penyebutan secara spesifik membantu yang bersangkutan
untuk lebih memperhatikan. Lalu diteruskan dengan arahan yang jelas, “Dalam hitungan kelima setiap kelompok
mengambil selembar karton putih di meja guru, lalu mulailah membuat
grafiknya....” Kalau dirasa perlu, bisa dikuatkan dengan menuliskan
kata-kat kunci di papan tulis.
Diakhiri
dengan arahan dengan memeriksa tingkat pemahaman, untuk memastikan sudah
seperti yang diinginkan atau belum. “Adakah
yang belum jelas?” atau “Ada yang
ingin ditanyakan?” Setelah yakin instruksi dipahami dengan baik oleh semua
anak, ditutup dengan sebuah kata kerja. “Mulai!”
“Kerjakan!”
Sebagai
pemimpin, guru harus mampu memberi motivasi dan inspirasi. Benar, bahwa
motivasi yang paling bagus adalah yang berasal dari diri sendiri (motivasi
intrinsik). Ada kesadaran dan rasa tanggung jawab di dalamnya.
Nah,
yang harus dilakukan seorang guru adalah menstimulasi agar muncul motivasi
intrinsik pada diri anak didiknya. Caranya dengan memunculkan manfaat materi
yang akan dipelajari, mengidentifikasi alasan-alasan mengapa harus dipelajari,
dan menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Motivasi
juga bisa bangkit karena ada tarikan dari luar. Contoh dari kisah-kisah nyata
bisa menjadi stimulusnya. Bisa juga dengan presentasi yang powerful, yang memberikan keyakinan dan mendobrak daya juang. Orator-orator
ulung memakai teknik ini untuk menggerakkan pendengarnya.
Memotivasi
dengan hadiah merupakan alternatif lain. Namun harus hati-hati dan cermat.
Jangan sampai hadih menjadi tujuan utama anak. Demikian juga dengan pujian.
Pujian bisa menjadikan seorang anak terus meningkat kinerjanya, tetapi kalau
tidak tepat bisa berbalik membuat seorang anak merasa begitu mudah mencapai
keberhasilan. Akhirnya diapun kehilangan motivasi.
Memberi
inspirasi berarti membuka pintu pencerahan dan kreativitas. Sisi penting memberi inspirasi adalah menghidupkan lampu
yang menerangi jalan bagi perkembangan kemampuan anak. Bagaimana wajah bahagia
seorang anak ketika mendapatkan ide bagus untuk menyelesaikan tugasnya. Betapa
bahagia ia dengan antusias mengerjakan tugasnya.
Menjalankan
peran sebagai penemu membawa seorang gruru pada implikasi bahwa dia harus
menunjukkan sikap yang antusias. Gaya bahasa, intonasi, gerak tubuh, dan roman
muka menunjukkan seseorang yang bersemnagat dan tertarik pada materi pelajaran.
Hal ini akan tertangkap oleh anak, kemudian terpancar mempengaruhi suasana
kelas. Penuh antusias dan ketertarikan.
Memainkan
peran sebagai penemu juga berarti bahwa seorang guru mengajak murid-muridnya
bertualang melalui jalur-jalur yang mengasyikkan dan kadang-kadang tidak
terduga, penuh kejutan. Kata-kata yang dipilih sebagai arahan dan instruksi
juga menunjukkan semangat seorang penemu. “Kita akan memulai petualangan
tentang luas lingkaran dengan...”
Selama
proses berlangsung, guru terus membangkitkan semangat dan menjaga fokus. “Coba perhatikan...” “Kita lihat...” “OK, coba ulangi lagi dengan
cara mengurangi kata-kata yang tidak perlu.”
Guru bukanlah subjek pembelajaran. Ini adalah tumpuan utama
ketika memposiskan peran guru. Implikasinya jelas, selain sebagai pengarah,
pemimpin, dan penemu, guru juga sebagai fasilitator di kelas. Guru membuat
sebuah rencana dan suasana agar anak bisa mengakses pengetahuan dengan berbagai
jalan dan cara. Guru hanya memfasilitasi, bukan memberikan pengetahuan, apalagi
dogma-dogma.
Sebagai fasilitator, guru mempunyai peran untuk memudahkan
anak dalam proses pembelajaran. Agar bisa menjalankan peran tersebut, seorang
guru harus memahami berbagai media dan sumber belajar serta fungsinya. Ini
diperlukan agar guru bisa membuat rencana pembelajaran dengan beragam metode
dan pendekatan. Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru dituntut mampu
mengoperasikan berbagai media dan memanfaatkan berbagai sumber.
Kuncinya adalah bersabar terhadap proses dan menjaga diri
untuk tidak menjadi sumber utama dalam pembelajaran.