Kamis, 05 Januari 2017

life skills

Menurut definisi World Health Organization (WHO), life skills atau ketrampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif. Definisi itu adalah menurut World Health Organization (WHO).
LifeSkills
Berikut ini beberapa kelompok ketrampilan yang termasuk life skills menurut UNICEF dan UNESCO:
1.    LEARNING TO KNOW: Cognitive abilities
a.    Ketrampilan memecahkan masalah dan membuat keputusan
§  Ketrampilan mengumpulkan informasi
§  Ketrampilan mengevaluasi dampak pada masa depan dari keputusan yang dilakukan pada saat ini pada diri sendiri dan orang lain
§  Ketrampilan menentukan solusi alternatif untuk sebuah masalah
§  Ketrampilan melakukan analisis terhadap pengaruh nilai dan sikap diri & orang lain mengenai motivasi
b.    Ketrampilan berfikir kritis (critical thinking)
§  Ketrampilan menganalisis pengaruh sebaya dan media
§  Ketrampilan menganalisis sikap, nilai, norma-norma sosial, dan keyakinan; dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
§  Ketrampilan mengidentifikasi informasi yang relevan dan sumber-sumber informasi
2.    LEARNING TO BE: Personal abilities
a.    Ketrampilan meningkatkan pusat kontrol internal
§  Kepercayaan diri (self-esteem) dan ketrampilan membangun kepercayaan diri (confidence)
§  Ketrampilan sadar-diri (self-awareness skills), termasuk kesadaran akan hak, pengaruh, nilai-nilai, sikap, kekuatan, dan kelemahan
§  Ketrampilan menentukan tujuan (goal-setting skills)
§  Ketrampilan evaluasi diri, penilaian diri, dan monitoring diri
b.    Ketrampilan mengelola perasaan
§  Ketrampilan mengelola amarah (anger management)
§  Ketrampilan mengelola keluhan dan keresahan
§  Ketrampilan mengelola kehilangan, penghinaan (abuse), dan trauma
c.    Ketrampilan mengelola stress
§  Ketrampilan manajemen waktu
§  Ketrampilan berfikir positif
§  Menguasai teknik-teknik relaksasi
3.    LEARNING TO LIVE TOGETHER: Interpersonal abilities
a.    Ketrampilan komunikasi interpersonal
§  Komunikasi verbal dan nonverbal
§  Ketrampilan mendengarkan aktif
§  Ketrampilan mengekspresikan perasaaan; memberikan umpan balik (tanpa menyalahkan) dan menerima umpan balik
b.     Ketrampilan negosiasi dan menolak
§  Negosiasi dan manajemen konflik
§  Ketrampilan bersikap asertif
§  Ketrampilan menolak
c.     Ketrampilan berempati
§  Kemampuan mendengarkan dan memahami kebutuhan dan kondisi orang lain dan mengekspresikan pengertiannya.
d.     Kerjasama dan kerja kelompok
§  Ketrampilan mengekspresikan penghargaan atas kontribusi orang lain dan gaya yang berbeda-beda.
§  Ketrampilan menilai kemampuan diri dan berkontribusi pada kelompok
e.     Ketrampilan advokasi
§  Ketrampilan mempengaruhi orang lain (influence) dan melakukan persuasi
§  Ketrampilan membangun jaringan dan memotivasi orang lain

Sumber:

http://rumahinspirasi.com/apa-itu-life-skills/

Selasa, 03 Januari 2017

Berdamai Dengan Diri Sendiri


Yang lebih penting dari bakat, pengetahuan, ataupun kekuatan adalah kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan menikmati mengajar sebuah impian.
--Amy Grant—

                Manusia itu serba tidak tahu, dan karenanya ia diwajibkan belajar. Bahkan kewajiban itu berlaku seumur hidup. Dan karena serba tidak tahu ini pula manusia diajarakan untuk berusaha (ikhtiar) , meski pada dasarnya tidak bisa memilih sesuai dengan keinginan. Manusia wajib bermimpi. Mimpi tersebut bisa dikatakan sebuah harapan (doa). Ya, harapan, sebab pada titik terakhir manusia tidak kuasa menentukan, hanya bisa  menerima apa yang diberikan padanya.
                Kita baru mengetahui sesuatu itu baik atau tidak setelah terjadi. Namun sayangnya, kita sering bergerak begitu cepat, sehingga tanda-tanda peringatan yang memberitahu bahwa kita sudah menyimpang, tak terlihat oleh kita. Kita tidak bisa melihat bahwa kita harus kembali ke jalan yang sudah kita bentangkan.
                Artinya apa? Kita tidak bisa terus melaju. Kita butuh waktu untuk diam sejenak. Ketika sedang melesat dengan kesibukan mengajar, kita butuh rehat. Bukan sekedar melepas penat, tapi kita perlu waktu merenung. Berapa lama? Sebanyak waktu yang cukup bagi kita untuk melihat diri sendiri, ‘apa yang terbaik dari diriku?’
                Efeknya adalah kita akan mampu melihat, mengenali, dan mempunyai keyakinan bahwa diri ini hebat. Bukan untuk sombong, karena bukan untuk dipamerkan ke orang lain. Cukup untuk diri sendiri. Keyakinan seperti menjadi pupuk bagi tumbuhnya percaya diri. Dan ini tentu saja sangat penting bagi seorang guru, dan juga bagi semua orang.
                Kepercayaan diri yang dibangun karena kesadaran akan kemampuannya, membuat seorang guru semakin nyaman. Ia akan lebih yakin saat membuat rencana pembelajaran, mengekskusinya, dan membuta evaluasi. Dan ini akan terbaca oleh anak didiknya. Mereka melihat bahwa gurunya adalah seorang dengan kepercayaan diri yang kuat. Anak akan semakin respek pada kita.
                Keterampilan mencari sesuatu yang terbaik dari diri sendiri juga harus ditularkan kepada murid. Anak-anak perlu dibiasakan melakukan refleksi. Bukan hanya tentang pengalaman dan materi belajar, tetapi juga hal terbaik apa yang mereka miliki atau lakukan pada hari itu. Ya, setiap hari refleksi seperti ini perlu dilakukan untuk meneguhkan keyakinan pada diri sendiri.

                Pada akhirnya, diharapkan setiap orang mampu berdamai dan mengurus diri sendiri. Inilah cara terbaik bagi kita untuk membantu orang lain. Maksud Amy Grant mengatakan menertawakan diri sendiri adalah seseorang yang nyaman dengan dirinya, karena ia tahu apa yang terbaik. Mungkin.

Minggu, 01 Januari 2017

Bagaimana Kita Belajar?

                Ada beragam kecerdasan. Ada yang membaginya kedalam Kecerdasan Majemuk, ada juga yang mengkategorisasi menjadi IQ, EQ, SQ. Bukan hanya jenis dan tingkat kecerdasan saja yang berbeda, modalitas belajar ternyata juga tak sama. Ada tipe auditori, ada yang tipenya visual, dan ada juga yang kinestetik.
                Kecerdasan dan modalitas belajar boleh saja dipilah-pilah dan berbeda-beda, namun apa pun tipe kecerdasan ataupun modalitasnya, dalam belajar ada kesamaan. Kesamaan tersebut adalah perlunya jalan agar pembelajaran yang dilakukan  bisa efektif.
Efektif berarti ada efeknya, punya dampak positif. Nah, bagaimmana supaya pembelajaran belrjalan efktif dan menghasilkan perubahan?
Pertama, adanya pengalaman yang menantang. Sesuatu yang menantang membuat orang jadi bergairah, semangat dan adrenalinnya terpacu. Dalam belajar, pengalaman yang menantang dapat diartikan tersedianya banyak kesempatan untuk keluar dari zona nyaman.
Maksudnya, kegiatan belajar bukanlah sesuatu yang monoton, mudah ditebak. Belajar merupakan petualangan yang penuh pengalaman baru dan tidak terduga, sehingga setiap waktu ada kemampuan dan keterampilan yang harus dipertajam.
Kedua, ada kesempatan untuk mempraktikkan. Belajar itu bukan di atas kertas. Di atas kertas hanya teori. ‘Aku dengar dan aku lupa. Aku lihat dan aku ingat. Aku melakukannya dan aku paham.’ Kredo ini menjelaskannya. Dalam belajar, perlu ada pengalaman yang membekas. Pengalaman akan terus lengket kalau pernah dikerjakan, dipraktikkan.
Dengan melakukan, materi pembelajaran akan terinternalisasi. Sensasinya tentu saja sangat berbeda dibandingkan jika hanya mendengar atau melihat saja. Sebagian besar indera, bahkan bisa jadi semua indera, aktif. Efeknya tentu saja munculnya performa yang lebih baik.
Ketiga, adanya percakapan yang kreatif. Apa lagi, Nih? Inti dari kreativitas adalah pemecahan masalah. Dengan demikian, percakapan yang kreatif boleh diartikan sebagai percakapan yang berisi stimulasi agar terjadi sebuah pemecahan masalah.
Ingat, kata kuncinya adalah stimulasi. Jadi bukan memberi jalan keluar atas sebuah masalah, tapi memberi clue yang memantik anak agar mampu mencari solusi. Memberi jawaban secara langsung memang membuat anak jadi cepat menyelesaikan pekerjaannya, tapi dampaknya sungguh bertolak belakang dengan tujuan pembelajaran.
Belajar itu bukan menjawab pertanyaan. Belajar adalah meningkatkan kemampuan dan kapasitas sehingga mampu menjawab tantangan. Jadi kalau ada anak meminta tolong atas masalah yang dia dapatkan, jangan langsung ke solusi. Beri clue agar dia berpikir. Inilah penting, kemampuan berpikir. Bukan minta disuapi.
Terakhir, ada waktu untuk refleksi. Bukan pijat, tapi waktu untuk merenung dan mengikat makna. Dari pengelaman belajar yang sudah dilalui, pengetahuan dan keterampilan apa yang sudah didapatkan. Dari kesalahan, anak mengidentifikasi perbaikan apa yang perlu dilakukan. Dari semua proses, pengalaman dan refleksi adalah inti belajar.

Keempat cara belajar tersebut bukan berdiri sendiri-sendiri. Keempatnya merupakan paket yang mestinya ada dalam praktik pembelajaran. O, belum? Ya, sudah, mari kita mulai dari sekarang.

Sabtu, 31 Desember 2016

5 Cara Membuat Anak Menjadi Penanya yang Hebat

                Akhir tahun adalah saatnya introspeksi. Seberapa mutu tingkat pengajaran kita? Membincangkan mutu pengajaran berarti kita berbicara tentang seberapa berkualitas pengajaran yang kita berikan. Apakah usaha kita sudah berdampak positif bagi perkembangan anak? Sejauh mana dampaknya? Atau seberapa efektifnya pembelajaran kita?
                Tentu saja ada beberapa hal yang membuat pengajaran kita menjadi lebih bermutu. Yang utama kita pahami adalah fungsi seorang guru adalah membelajarkan, bukan mengajar. Ada perbedaan antara membelajarkan dan mengajar.
                Mengajar bersifat satu arah, memberi sesuatu, transfer pengetahuan. Sedangkan pembelajaran berarti usaha untuk membuat siswa menjadi lebih mampu (berdaya) dengan mengembangkan kemampuan  belajarnya sehingga bukan hanya pengetahuan yang ia peroleh, tetapi juga keterampilan. Mengajar itu mengisi wadah kosong, sedangkan membelajarkan adalah adalah menyalakan api.
                Salah satu indikator bahwa anak berkembang kemmapuan dan ketrampilannya adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan berkualitas. Guru seharusnya mampu mengondisikan anak didiknya supaya mampu membuat pertanyaan relevan dan berbobot.
                Inilah beberapa hal yang bisa dilakukan seorang guru agar siswanya mampu bertanya dengan lebih baik.
1.    Buatlah Suasana yang Aman dan Nyaman
Rasa aman dan nyaman merupakan kebutuhan dasar yang dengannya anak akan lebih mudah memahami materi, mengembangkan ketrampilan, dan mengasah kemampuan.
Pada kondisi inilah anak bisa mengungkapkan ekspresinya secara bebas, termasuk bertanya.
2.    Buatlah Jadi Keren
Bertanya itu keren! Bertanya bukan tanda tidak tahu, bertanya itu tanda ingin tahu banyak hal. Kredo seperti itu perlu terus dialirkan dalam atmosfer pembelajaran di kelas. Bisa saja kita katakan ke anak-anak: “Orang yang keren adalah yang bisa bertanya dengan baik.”
3.    Buatlah Jadi Menyenangkan
Ajari anak bertanya sesuatu yang tidak terduga, yang aneh. Sesuatu yang aneh dan tidak terduga bukan saja menimbulkan rasa penasaran, tetapi juga menggairahkan. Misalnya, mengapa koran ukurannya sebesar itu? Atau, mengapa telinga gajah besa dan bisa digerak-gerakkan?
4.    Buatlah Jadi Berharga
Seremeh apapun pertanyaan, responlah dengan antusias. Kalaulah pertanyaannya tidak nyambung, bantulah dengan beberapa kata kunci dan minta anak untuk bertanya kembali. Intinya tidak murid yang bodoh, dan tentu saja tidak ada pertanyaan yang bodoh pula.
5.    Buatlah Jadi Menempel
Jadikan bertanya adalah sebuah kebiasaan. Sebuah budaya di kelas. Bertanya dengan cara yang benar, bertanya sesuai konteks pembelajaran, bertanya untuk mengukuhkan pengetahuan, bertanya untuk memuaskan kemelitan (rasa ingin tahu).

                Sudahkan Anda mempersiapkan diri menjadi guru yang lebih memberdayakan?



Kamis, 29 Desember 2016

Bagaimana Seorang Guru Menempatkan Dirinya?


Puji aku, dan aku mungkin tidak akan mempercayaimu. Kritik aku, dan mungkin aku tidak akan menyukaimu. Acuhkan aku, dan mungkin aku tak akan memaafkanmu. Dorong aku, dan aku mungkin tak akan melupakanmu.
>> William Arthur <<

                Dipercaya, disukai, dimaafkan, dan selalu diingat murid adalah beberapa harapan seorang guru. Tapi apa lacur? Banyak guru mendapatkan kenyataan sebaliknya. Kenapa demikian?
                Dogma bahwa guru itu harus digugu (ditaati) dan ditiru dimaknai berbeda. Terutama makna digugu. Ketaatan pada guru kemudian dipandang sebagai sebuah peluang bagi guru untuk menjadi raja atau ratu di kelas. Titah pandita ratu. Segala kata-kata dan kemauanya harus dilakukan. Guru bisa dan boleh melakukan apa saja. Kan raja. Guru tidak bisa bersalah (= dipersalahkan). Namanya juga raja. Otoritas kelas dipegang guru secara mutlak dan otoriter.
                Tentu saja tidak semuanya seperti itu. Tapi bisa jadi juga potret kebanyakan. Kata-kata William Arthur di atas patut direnungkan oleh semua guru. Apakah kekuasaan otoriter yang diperlukan seorang guru? Kenyamanan seperti pa yang dibutuhkan para murid? Apa sebenarnya yang diinginkan dan dibuthkan anak?
                Ada guru suka obral pujian. Salah kah memberi pujian? Ya tentu saja tidak. Pada dasarnya pujian itu pisau bermata dua.  Pujian kalau diberikan pada momen yang tepat maka akan menjadi pemacu motivasi. Pujian yang seperti ini adalah pujian yang spesifik, jelas apa yang dipujinya dan memang layak untuk dipuji. Bukan hanya sekedar kata-kata, “bagus...”. Apanya yang bagus? Kenapa bagus?
                Pujian seperti itu adalah pujian basa-basi. Berhati-hatilah karena anak akan membaca dan menyadari bahwa pujian itu sudah basi. Akhirnya muncullah ketidakpecayaan murid kepada gurunya.
                Setali tiga dua dengan pujian, kritik pun bisa mempunyai kekuatan dahsyat yang membangun, namun juga bisa menghancurkan. Perlu kehatian-hatian juga dalam memberikan kritik, kalau tidak bisa jadi murid tidak akan menyukai gurunya gara-gara kritik yang tidak membangun. Kritik yeng membangun bukan sekedar memberi koreksi, tapi juga memperhatikan pilihan kata yang tidak menyakiti, memperhitungkan waktu dan kondisi sehingga yang dikritik tidak merasa dipermalukan.
                Beda halnya jika yang dilakukan guru adalah mendorong (memotivasi) muridnya. Mendorong untuk selalu lebih baik, selalu berkembang. Dorongan bersifat lebih persuasif dan humanis. Dorongan lebih menentramkan dan menyejukkan. Tujuannya sama dengan pujian dan kritikan, yaitu membuat anak menjadi dan melakukan dengan lebih baik.
Saat berada di kelas, guru berperan sebagai pengarah, pemimpin, dan penemu sekaligus. Ada waktunya mengajar, memberi petunjuk, atau mengilhami. Ketiga peran tersebut berbeda dalam pola bahasa, postur, dan gerak tubuh.
Menjadi pengarah berarti seorang guru dituntut mampu berkomunikasi secara jernih dengan anak didiknya. Komunikasi yang jernih akan mudah dipahami anak, sehingga mengurangi kemungkinan salah persepsi. Di pihak lain membuat suasana pembelajaran lebih efektif dan mendukung kenyamanan kelas. Oleh karena itu instruksi harus disampaikan secara jelas dan lengkap. Tidak sepotong-potong.
Diawali dengan menyebutkan kapan dimulai, misalnya, “Dalam hitungan kelima...” ini bisa membantu anak berkonsentrasi dan fokus pada apa yang akan ia kerjakan. Selain secara tidak langsung mengajak anak bersiap-siap kerja.
Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan secara jelas instruksi itu ditujukan kepada siapa. Misalnya, “Dalam hitungan kelima setiap kelompok...” Penyebutan secara spesifik membantu yang bersangkutan untuk lebih memperhatikan. Lalu diteruskan dengan arahan yang jelas, “Dalam hitungan kelima setiap kelompok mengambil selembar karton putih di meja guru, lalu mulailah membuat grafiknya....” Kalau dirasa perlu, bisa dikuatkan dengan menuliskan kata-kat kunci di papan tulis.
Diakhiri dengan arahan dengan memeriksa tingkat pemahaman, untuk memastikan sudah seperti yang diinginkan atau belum. “Adakah yang belum jelas?” atau “Ada yang ingin ditanyakan?” Setelah yakin instruksi dipahami dengan baik oleh semua anak, ditutup dengan sebuah kata kerja. “Mulai!” “Kerjakan!”
Sebagai pemimpin, guru harus mampu memberi motivasi dan inspirasi. Benar, bahwa motivasi yang paling bagus adalah yang berasal dari diri sendiri (motivasi intrinsik). Ada kesadaran dan rasa tanggung jawab di dalamnya.
Nah, yang harus dilakukan seorang guru adalah menstimulasi agar muncul motivasi intrinsik pada diri anak didiknya. Caranya dengan memunculkan manfaat materi yang akan dipelajari, mengidentifikasi alasan-alasan mengapa harus dipelajari, dan menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Motivasi juga bisa bangkit karena ada tarikan dari luar. Contoh dari kisah-kisah nyata bisa menjadi stimulusnya. Bisa juga dengan presentasi yang powerful, yang memberikan keyakinan dan mendobrak daya juang. Orator-orator ulung memakai teknik ini untuk menggerakkan pendengarnya.
Memotivasi dengan hadiah merupakan alternatif lain. Namun harus hati-hati dan cermat. Jangan sampai hadih menjadi tujuan utama anak. Demikian juga dengan pujian. Pujian bisa menjadikan seorang anak terus meningkat kinerjanya, tetapi kalau tidak tepat bisa berbalik membuat seorang anak merasa begitu mudah mencapai keberhasilan. Akhirnya diapun kehilangan motivasi.
Memberi inspirasi berarti membuka pintu pencerahan dan kreativitas. Sisi penting  memberi inspirasi adalah menghidupkan lampu yang menerangi jalan bagi perkembangan kemampuan anak. Bagaimana wajah bahagia seorang anak ketika mendapatkan ide bagus untuk menyelesaikan tugasnya. Betapa bahagia ia dengan antusias mengerjakan tugasnya.
Menjalankan peran sebagai penemu membawa seorang gruru pada implikasi bahwa dia harus menunjukkan sikap yang antusias. Gaya bahasa, intonasi, gerak tubuh, dan roman muka menunjukkan seseorang yang bersemnagat dan tertarik pada materi pelajaran. Hal ini akan tertangkap oleh anak, kemudian terpancar mempengaruhi suasana kelas. Penuh antusias dan ketertarikan.
Memainkan peran sebagai penemu juga berarti bahwa seorang guru mengajak murid-muridnya bertualang melalui jalur-jalur yang mengasyikkan dan kadang-kadang tidak terduga, penuh kejutan. Kata-kata yang dipilih sebagai arahan dan instruksi juga menunjukkan semangat seorang penemu. “Kita akan memulai petualangan tentang luas lingkaran dengan...”
Selama proses berlangsung, guru terus membangkitkan semangat dan menjaga fokus. “Coba perhatikan...” “Kita lihat...” “OK, coba ulangi lagi dengan cara mengurangi kata-kata yang tidak perlu.”
Guru bukanlah subjek pembelajaran. Ini adalah tumpuan utama ketika memposiskan peran guru. Implikasinya jelas, selain sebagai pengarah, pemimpin, dan penemu, guru juga sebagai fasilitator di kelas. Guru membuat sebuah rencana dan suasana agar anak bisa mengakses pengetahuan dengan berbagai jalan dan cara. Guru hanya memfasilitasi, bukan memberikan pengetahuan, apalagi dogma-dogma.
Sebagai fasilitator, guru mempunyai peran untuk memudahkan anak dalam proses pembelajaran. Agar bisa menjalankan peran tersebut, seorang guru harus memahami berbagai media dan sumber belajar serta fungsinya. Ini diperlukan agar guru bisa membuat rencana pembelajaran dengan beragam metode dan pendekatan. Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru dituntut mampu mengoperasikan berbagai media dan memanfaatkan berbagai sumber.

Kuncinya adalah bersabar terhadap proses dan menjaga diri untuk tidak menjadi sumber utama dalam pembelajaran.

Rabu, 28 Desember 2016

Kemampuan, Kita yang Mengondisikannya


Kau bisa belajar hal baru kapan pun bila kau bersedia menjadi pemula. Jika kau belajar menyukai menjadi pemula, maka dunia akan membuka diri padamu.
--- Barbara Sher---


                Salah satu kunci sukses dalam belajar adalah kondisi dimana kita mau membuka diri. Gelas dapat diisi air bila gelas tersebut tidak tertutup. Pengetahuan dapat diserap bila tidak ada tabir yang menghalanginya. Tabirnya bisa jadi pengalaman, ego, menganggap gampang, ataupun sentimen.
                Saat belajar, posisikan diri kita sebagai orang yang tidak tahu, orang yang butuh pengetahuan baru. Maka otak akan mengaktifkan diri untuk menangkap dan memahami serpihan-serpihan pengetahuan yang sedang ditebar.
                Beda halnya kalau menganggap diri sudah jagoan. Karena merasa sudah banyak tahu, otak malas bergerak. Ia pasif menanggapi informasi yang beredar disekelilingnya, dan bisa itu adalah hal baru yang sebenarnya berbeda dari yang ia pahami sebelumnya.
                Nah, saat mengajar sepertinya guru yang banyak memberi sesuatu. Dan memang demikian adanya, tidak salah. Namun cobalah menjadi seorang pemula, seorang yang baru belajar. Berapa belas atau berapa puluh tahun Anda mengajar, jangan jadikan sebuah kebanggaan saat berada di kelas. Sebanyak apapun pengalaman Anda, tetaplah menjadi menjadi seorang guru seperti halnya hari pertama masuk kelas.
                Akan perbedaan besar saat merasa sangat berpengalaman dengan saat merasa butuh banyak pengalaman (baca: pemula). Seorang pemula akan banyak belajar. Ia akan mengaktifkan banyak sensor untuk membuat dirinya lebih mampu. Seorang pemula akan selalu bergerak dan menginstropeksi diri, belajar dari diri sendiri dan orang lain.
                Sedangkan orang yang merasa sangat  berpengalaman akan merasa sudah banyak makan asam garam (ga enak, ya...). Ia cenderung merasa sudah menguasai banyak hal. Namanya juga berpengalaman. Kemudian ia hanya berkutat di seputar dirinya saja. Dari hari ke hari ya begitu saja. Bisa jadi merasa stagnan. Pengalaman belasan atau puluhan tahun tidak berarti apa-apa.
                Guru itu sama dengan profesi lainnya. Ia butuh inovasi, daya kreasi, kemampuan berpikir kritis-imajinatif. Guru harus menyesuaikan diri dengan jiwa jaman. Masa terus bertumbuh dan berkembang. Kemajuan diberbagai bidang harus diantisipasi dan dioptimalkan dalam dunia pendidikan.
                So, jangan puas dengan hanya menjadi guru selama puluhan tahun. Bisa jadi pengalamannya Cuma satu tahun. Jadilah guru baru setiap hari. Guru yang selalu belajar dan up to date. Guru harus berlari, jangan terkencing-kencing saat murid sudah melesat jauh dengan dunianya.


Jumat, 23 Desember 2016

Om Tolelot Om

              Buah jatuh tidak  pernah mendahului waktunya, pasti memang sudah saatnya ia lepas dari tangkainya. Belum tentu karena terlalu masak, bisa saja sebab yang lain. Barang kita yang hilang memang sudah waktu tidak kita miliki lagi.
                Pun halnya ketika dunia maya dipenuhi ocehan ‘Om Tolelot Om’, memang sudah disediakan jatah waktunya. Om Tolelot Om seakan memaksa klakson dibunyikan tidak pada saat yang tepat. Klakson dibunyikan karena ada permintaan. Tapi sejatinya memang sudah waktunya klakson berbunyi. Kebetulan penyebabnya karena diminta. Seperti halnya mangga yang jatuh. Bisa karena sudah terlalu matang. Bisa juga karena sendal kita melayang dan mengenainya. Yang jelas sudah saatnya mangga berpisah dengan tangkai.
                Om Tolelot Om. Memang, sih waktu tidak berkuasa apa-apa. Yang menyediakan waktulah penguasa sebenarnya. Dia yang mengatur kapan sesuatu harus terjadi,  dan apa pemicunya. Dalam kehidupan kita sering begitu kesal, begitu marah, bila ada yang tidak sesuai harapan. Kita sibuk mencari pembenaran. Tak jarang ego yang menjadi panglimanya. Kitalah yang paling benar. Yang lain pasti salah.
                Jangan tolelot mulu. Ketika merasa jalan terhalangi, pencet klakson keras-keras. Kita suruh yang lain pada minggir. Kasih jalan bahasa yang lebih santunnya. Kenapa? Karena kitalah yang paling benar. Yang lain salah.
                Udah, jangan tolelot-tolelot. Waktu memang tidak berkuasa apa-apa. Tapi dia yang akan menjadi saksi sepanjang perjalanan hidup kita. Ia yang menjadi saksi usaha-usaha culas apa yang sudah kita kerjakan. Ia yang menjadi saksi betapa sering kita menempelkan kepentingan pribadi atas nama kepentingan bersama. Ia yang menyaksikan seberapa banyak kita menghasut, membeberkan aib orang lain, menjelek-jelekkan orang lain. Tolelot!!!
                Jangan merasa aman. Waktu akan memberitahu semuanya. Eh, maaf. Penguasa waktu yang mengaturnya. Jangan merasa aman. Kebusukan akan tersebar baunya.  Sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat pasti akana jatuh juga. Siapa menabur angin, ia akan menuai badai. Jangan merasa aman, semuanya akan terbuka. Tinggal tunggu waktu saja. Ya, tinggal tunggu saatnya. Jadi tidak perlu tolelot-lelot. Tidak perlu Om Tolelot Om.

Dan sesungguhnya saat ini semuanya kian terbuka.