Sabtu, 31 Desember 2016

5 Cara Membuat Anak Menjadi Penanya yang Hebat

                Akhir tahun adalah saatnya introspeksi. Seberapa mutu tingkat pengajaran kita? Membincangkan mutu pengajaran berarti kita berbicara tentang seberapa berkualitas pengajaran yang kita berikan. Apakah usaha kita sudah berdampak positif bagi perkembangan anak? Sejauh mana dampaknya? Atau seberapa efektifnya pembelajaran kita?
                Tentu saja ada beberapa hal yang membuat pengajaran kita menjadi lebih bermutu. Yang utama kita pahami adalah fungsi seorang guru adalah membelajarkan, bukan mengajar. Ada perbedaan antara membelajarkan dan mengajar.
                Mengajar bersifat satu arah, memberi sesuatu, transfer pengetahuan. Sedangkan pembelajaran berarti usaha untuk membuat siswa menjadi lebih mampu (berdaya) dengan mengembangkan kemampuan  belajarnya sehingga bukan hanya pengetahuan yang ia peroleh, tetapi juga keterampilan. Mengajar itu mengisi wadah kosong, sedangkan membelajarkan adalah adalah menyalakan api.
                Salah satu indikator bahwa anak berkembang kemmapuan dan ketrampilannya adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan berkualitas. Guru seharusnya mampu mengondisikan anak didiknya supaya mampu membuat pertanyaan relevan dan berbobot.
                Inilah beberapa hal yang bisa dilakukan seorang guru agar siswanya mampu bertanya dengan lebih baik.
1.    Buatlah Suasana yang Aman dan Nyaman
Rasa aman dan nyaman merupakan kebutuhan dasar yang dengannya anak akan lebih mudah memahami materi, mengembangkan ketrampilan, dan mengasah kemampuan.
Pada kondisi inilah anak bisa mengungkapkan ekspresinya secara bebas, termasuk bertanya.
2.    Buatlah Jadi Keren
Bertanya itu keren! Bertanya bukan tanda tidak tahu, bertanya itu tanda ingin tahu banyak hal. Kredo seperti itu perlu terus dialirkan dalam atmosfer pembelajaran di kelas. Bisa saja kita katakan ke anak-anak: “Orang yang keren adalah yang bisa bertanya dengan baik.”
3.    Buatlah Jadi Menyenangkan
Ajari anak bertanya sesuatu yang tidak terduga, yang aneh. Sesuatu yang aneh dan tidak terduga bukan saja menimbulkan rasa penasaran, tetapi juga menggairahkan. Misalnya, mengapa koran ukurannya sebesar itu? Atau, mengapa telinga gajah besa dan bisa digerak-gerakkan?
4.    Buatlah Jadi Berharga
Seremeh apapun pertanyaan, responlah dengan antusias. Kalaulah pertanyaannya tidak nyambung, bantulah dengan beberapa kata kunci dan minta anak untuk bertanya kembali. Intinya tidak murid yang bodoh, dan tentu saja tidak ada pertanyaan yang bodoh pula.
5.    Buatlah Jadi Menempel
Jadikan bertanya adalah sebuah kebiasaan. Sebuah budaya di kelas. Bertanya dengan cara yang benar, bertanya sesuai konteks pembelajaran, bertanya untuk mengukuhkan pengetahuan, bertanya untuk memuaskan kemelitan (rasa ingin tahu).

                Sudahkan Anda mempersiapkan diri menjadi guru yang lebih memberdayakan?



Kamis, 29 Desember 2016

Bagaimana Seorang Guru Menempatkan Dirinya?


Puji aku, dan aku mungkin tidak akan mempercayaimu. Kritik aku, dan mungkin aku tidak akan menyukaimu. Acuhkan aku, dan mungkin aku tak akan memaafkanmu. Dorong aku, dan aku mungkin tak akan melupakanmu.
>> William Arthur <<

                Dipercaya, disukai, dimaafkan, dan selalu diingat murid adalah beberapa harapan seorang guru. Tapi apa lacur? Banyak guru mendapatkan kenyataan sebaliknya. Kenapa demikian?
                Dogma bahwa guru itu harus digugu (ditaati) dan ditiru dimaknai berbeda. Terutama makna digugu. Ketaatan pada guru kemudian dipandang sebagai sebuah peluang bagi guru untuk menjadi raja atau ratu di kelas. Titah pandita ratu. Segala kata-kata dan kemauanya harus dilakukan. Guru bisa dan boleh melakukan apa saja. Kan raja. Guru tidak bisa bersalah (= dipersalahkan). Namanya juga raja. Otoritas kelas dipegang guru secara mutlak dan otoriter.
                Tentu saja tidak semuanya seperti itu. Tapi bisa jadi juga potret kebanyakan. Kata-kata William Arthur di atas patut direnungkan oleh semua guru. Apakah kekuasaan otoriter yang diperlukan seorang guru? Kenyamanan seperti pa yang dibutuhkan para murid? Apa sebenarnya yang diinginkan dan dibuthkan anak?
                Ada guru suka obral pujian. Salah kah memberi pujian? Ya tentu saja tidak. Pada dasarnya pujian itu pisau bermata dua.  Pujian kalau diberikan pada momen yang tepat maka akan menjadi pemacu motivasi. Pujian yang seperti ini adalah pujian yang spesifik, jelas apa yang dipujinya dan memang layak untuk dipuji. Bukan hanya sekedar kata-kata, “bagus...”. Apanya yang bagus? Kenapa bagus?
                Pujian seperti itu adalah pujian basa-basi. Berhati-hatilah karena anak akan membaca dan menyadari bahwa pujian itu sudah basi. Akhirnya muncullah ketidakpecayaan murid kepada gurunya.
                Setali tiga dua dengan pujian, kritik pun bisa mempunyai kekuatan dahsyat yang membangun, namun juga bisa menghancurkan. Perlu kehatian-hatian juga dalam memberikan kritik, kalau tidak bisa jadi murid tidak akan menyukai gurunya gara-gara kritik yang tidak membangun. Kritik yeng membangun bukan sekedar memberi koreksi, tapi juga memperhatikan pilihan kata yang tidak menyakiti, memperhitungkan waktu dan kondisi sehingga yang dikritik tidak merasa dipermalukan.
                Beda halnya jika yang dilakukan guru adalah mendorong (memotivasi) muridnya. Mendorong untuk selalu lebih baik, selalu berkembang. Dorongan bersifat lebih persuasif dan humanis. Dorongan lebih menentramkan dan menyejukkan. Tujuannya sama dengan pujian dan kritikan, yaitu membuat anak menjadi dan melakukan dengan lebih baik.
Saat berada di kelas, guru berperan sebagai pengarah, pemimpin, dan penemu sekaligus. Ada waktunya mengajar, memberi petunjuk, atau mengilhami. Ketiga peran tersebut berbeda dalam pola bahasa, postur, dan gerak tubuh.
Menjadi pengarah berarti seorang guru dituntut mampu berkomunikasi secara jernih dengan anak didiknya. Komunikasi yang jernih akan mudah dipahami anak, sehingga mengurangi kemungkinan salah persepsi. Di pihak lain membuat suasana pembelajaran lebih efektif dan mendukung kenyamanan kelas. Oleh karena itu instruksi harus disampaikan secara jelas dan lengkap. Tidak sepotong-potong.
Diawali dengan menyebutkan kapan dimulai, misalnya, “Dalam hitungan kelima...” ini bisa membantu anak berkonsentrasi dan fokus pada apa yang akan ia kerjakan. Selain secara tidak langsung mengajak anak bersiap-siap kerja.
Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan secara jelas instruksi itu ditujukan kepada siapa. Misalnya, “Dalam hitungan kelima setiap kelompok...” Penyebutan secara spesifik membantu yang bersangkutan untuk lebih memperhatikan. Lalu diteruskan dengan arahan yang jelas, “Dalam hitungan kelima setiap kelompok mengambil selembar karton putih di meja guru, lalu mulailah membuat grafiknya....” Kalau dirasa perlu, bisa dikuatkan dengan menuliskan kata-kat kunci di papan tulis.
Diakhiri dengan arahan dengan memeriksa tingkat pemahaman, untuk memastikan sudah seperti yang diinginkan atau belum. “Adakah yang belum jelas?” atau “Ada yang ingin ditanyakan?” Setelah yakin instruksi dipahami dengan baik oleh semua anak, ditutup dengan sebuah kata kerja. “Mulai!” “Kerjakan!”
Sebagai pemimpin, guru harus mampu memberi motivasi dan inspirasi. Benar, bahwa motivasi yang paling bagus adalah yang berasal dari diri sendiri (motivasi intrinsik). Ada kesadaran dan rasa tanggung jawab di dalamnya.
Nah, yang harus dilakukan seorang guru adalah menstimulasi agar muncul motivasi intrinsik pada diri anak didiknya. Caranya dengan memunculkan manfaat materi yang akan dipelajari, mengidentifikasi alasan-alasan mengapa harus dipelajari, dan menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Motivasi juga bisa bangkit karena ada tarikan dari luar. Contoh dari kisah-kisah nyata bisa menjadi stimulusnya. Bisa juga dengan presentasi yang powerful, yang memberikan keyakinan dan mendobrak daya juang. Orator-orator ulung memakai teknik ini untuk menggerakkan pendengarnya.
Memotivasi dengan hadiah merupakan alternatif lain. Namun harus hati-hati dan cermat. Jangan sampai hadih menjadi tujuan utama anak. Demikian juga dengan pujian. Pujian bisa menjadikan seorang anak terus meningkat kinerjanya, tetapi kalau tidak tepat bisa berbalik membuat seorang anak merasa begitu mudah mencapai keberhasilan. Akhirnya diapun kehilangan motivasi.
Memberi inspirasi berarti membuka pintu pencerahan dan kreativitas. Sisi penting  memberi inspirasi adalah menghidupkan lampu yang menerangi jalan bagi perkembangan kemampuan anak. Bagaimana wajah bahagia seorang anak ketika mendapatkan ide bagus untuk menyelesaikan tugasnya. Betapa bahagia ia dengan antusias mengerjakan tugasnya.
Menjalankan peran sebagai penemu membawa seorang gruru pada implikasi bahwa dia harus menunjukkan sikap yang antusias. Gaya bahasa, intonasi, gerak tubuh, dan roman muka menunjukkan seseorang yang bersemnagat dan tertarik pada materi pelajaran. Hal ini akan tertangkap oleh anak, kemudian terpancar mempengaruhi suasana kelas. Penuh antusias dan ketertarikan.
Memainkan peran sebagai penemu juga berarti bahwa seorang guru mengajak murid-muridnya bertualang melalui jalur-jalur yang mengasyikkan dan kadang-kadang tidak terduga, penuh kejutan. Kata-kata yang dipilih sebagai arahan dan instruksi juga menunjukkan semangat seorang penemu. “Kita akan memulai petualangan tentang luas lingkaran dengan...”
Selama proses berlangsung, guru terus membangkitkan semangat dan menjaga fokus. “Coba perhatikan...” “Kita lihat...” “OK, coba ulangi lagi dengan cara mengurangi kata-kata yang tidak perlu.”
Guru bukanlah subjek pembelajaran. Ini adalah tumpuan utama ketika memposiskan peran guru. Implikasinya jelas, selain sebagai pengarah, pemimpin, dan penemu, guru juga sebagai fasilitator di kelas. Guru membuat sebuah rencana dan suasana agar anak bisa mengakses pengetahuan dengan berbagai jalan dan cara. Guru hanya memfasilitasi, bukan memberikan pengetahuan, apalagi dogma-dogma.
Sebagai fasilitator, guru mempunyai peran untuk memudahkan anak dalam proses pembelajaran. Agar bisa menjalankan peran tersebut, seorang guru harus memahami berbagai media dan sumber belajar serta fungsinya. Ini diperlukan agar guru bisa membuat rencana pembelajaran dengan beragam metode dan pendekatan. Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru dituntut mampu mengoperasikan berbagai media dan memanfaatkan berbagai sumber.

Kuncinya adalah bersabar terhadap proses dan menjaga diri untuk tidak menjadi sumber utama dalam pembelajaran.

Rabu, 28 Desember 2016

Kemampuan, Kita yang Mengondisikannya


Kau bisa belajar hal baru kapan pun bila kau bersedia menjadi pemula. Jika kau belajar menyukai menjadi pemula, maka dunia akan membuka diri padamu.
--- Barbara Sher---


                Salah satu kunci sukses dalam belajar adalah kondisi dimana kita mau membuka diri. Gelas dapat diisi air bila gelas tersebut tidak tertutup. Pengetahuan dapat diserap bila tidak ada tabir yang menghalanginya. Tabirnya bisa jadi pengalaman, ego, menganggap gampang, ataupun sentimen.
                Saat belajar, posisikan diri kita sebagai orang yang tidak tahu, orang yang butuh pengetahuan baru. Maka otak akan mengaktifkan diri untuk menangkap dan memahami serpihan-serpihan pengetahuan yang sedang ditebar.
                Beda halnya kalau menganggap diri sudah jagoan. Karena merasa sudah banyak tahu, otak malas bergerak. Ia pasif menanggapi informasi yang beredar disekelilingnya, dan bisa itu adalah hal baru yang sebenarnya berbeda dari yang ia pahami sebelumnya.
                Nah, saat mengajar sepertinya guru yang banyak memberi sesuatu. Dan memang demikian adanya, tidak salah. Namun cobalah menjadi seorang pemula, seorang yang baru belajar. Berapa belas atau berapa puluh tahun Anda mengajar, jangan jadikan sebuah kebanggaan saat berada di kelas. Sebanyak apapun pengalaman Anda, tetaplah menjadi menjadi seorang guru seperti halnya hari pertama masuk kelas.
                Akan perbedaan besar saat merasa sangat berpengalaman dengan saat merasa butuh banyak pengalaman (baca: pemula). Seorang pemula akan banyak belajar. Ia akan mengaktifkan banyak sensor untuk membuat dirinya lebih mampu. Seorang pemula akan selalu bergerak dan menginstropeksi diri, belajar dari diri sendiri dan orang lain.
                Sedangkan orang yang merasa sangat  berpengalaman akan merasa sudah banyak makan asam garam (ga enak, ya...). Ia cenderung merasa sudah menguasai banyak hal. Namanya juga berpengalaman. Kemudian ia hanya berkutat di seputar dirinya saja. Dari hari ke hari ya begitu saja. Bisa jadi merasa stagnan. Pengalaman belasan atau puluhan tahun tidak berarti apa-apa.
                Guru itu sama dengan profesi lainnya. Ia butuh inovasi, daya kreasi, kemampuan berpikir kritis-imajinatif. Guru harus menyesuaikan diri dengan jiwa jaman. Masa terus bertumbuh dan berkembang. Kemajuan diberbagai bidang harus diantisipasi dan dioptimalkan dalam dunia pendidikan.
                So, jangan puas dengan hanya menjadi guru selama puluhan tahun. Bisa jadi pengalamannya Cuma satu tahun. Jadilah guru baru setiap hari. Guru yang selalu belajar dan up to date. Guru harus berlari, jangan terkencing-kencing saat murid sudah melesat jauh dengan dunianya.


Jumat, 23 Desember 2016

Om Tolelot Om

              Buah jatuh tidak  pernah mendahului waktunya, pasti memang sudah saatnya ia lepas dari tangkainya. Belum tentu karena terlalu masak, bisa saja sebab yang lain. Barang kita yang hilang memang sudah waktu tidak kita miliki lagi.
                Pun halnya ketika dunia maya dipenuhi ocehan ‘Om Tolelot Om’, memang sudah disediakan jatah waktunya. Om Tolelot Om seakan memaksa klakson dibunyikan tidak pada saat yang tepat. Klakson dibunyikan karena ada permintaan. Tapi sejatinya memang sudah waktunya klakson berbunyi. Kebetulan penyebabnya karena diminta. Seperti halnya mangga yang jatuh. Bisa karena sudah terlalu matang. Bisa juga karena sendal kita melayang dan mengenainya. Yang jelas sudah saatnya mangga berpisah dengan tangkai.
                Om Tolelot Om. Memang, sih waktu tidak berkuasa apa-apa. Yang menyediakan waktulah penguasa sebenarnya. Dia yang mengatur kapan sesuatu harus terjadi,  dan apa pemicunya. Dalam kehidupan kita sering begitu kesal, begitu marah, bila ada yang tidak sesuai harapan. Kita sibuk mencari pembenaran. Tak jarang ego yang menjadi panglimanya. Kitalah yang paling benar. Yang lain pasti salah.
                Jangan tolelot mulu. Ketika merasa jalan terhalangi, pencet klakson keras-keras. Kita suruh yang lain pada minggir. Kasih jalan bahasa yang lebih santunnya. Kenapa? Karena kitalah yang paling benar. Yang lain salah.
                Udah, jangan tolelot-tolelot. Waktu memang tidak berkuasa apa-apa. Tapi dia yang akan menjadi saksi sepanjang perjalanan hidup kita. Ia yang menjadi saksi usaha-usaha culas apa yang sudah kita kerjakan. Ia yang menjadi saksi betapa sering kita menempelkan kepentingan pribadi atas nama kepentingan bersama. Ia yang menyaksikan seberapa banyak kita menghasut, membeberkan aib orang lain, menjelek-jelekkan orang lain. Tolelot!!!
                Jangan merasa aman. Waktu akan memberitahu semuanya. Eh, maaf. Penguasa waktu yang mengaturnya. Jangan merasa aman. Kebusukan akan tersebar baunya.  Sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat pasti akana jatuh juga. Siapa menabur angin, ia akan menuai badai. Jangan merasa aman, semuanya akan terbuka. Tinggal tunggu waktu saja. Ya, tinggal tunggu saatnya. Jadi tidak perlu tolelot-lelot. Tidak perlu Om Tolelot Om.

Dan sesungguhnya saat ini semuanya kian terbuka.

Sabtu, 26 November 2016

SIAPAKAH GURU YANG MENGINSPIRASI?

             
Tanggung jawab guru adalah membuat perubahan bagi anak didiknya. Setidaknya itulah secuil pemahaman saya tentang eksistensi profesi guru.  Bagaimana anak didik bisa berubah?
                Berubah adalah sebuah proses. Berubah itu bergerak, berubah itu perlu pemantik. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tahu jadi paham. Dari paham jadi bisa menganalisa. Dari menganalisa jadi bisa mensintesa. Dari mensintesa akhirnya mampu berpikir dan bertindak kritis-kreatif untuk kemudian diejawantahkan dalam perilaku dan produk positif dan bernilai.
                Siapa atau apa yang memantik perubahan? Pemantik perubahan biasanya adalah sosok panutan. Atau setidaknya orang yang mempunyai wewenang. Bisa jadi kepala negara, kepala daerah, pimpinan perusahaan atau instansi, orangtua, atau tokoh masyarakat. Nah, di sekolah, gurulah sosok pemantik perubahan bagi anak didiknya. Agar menjadi sosok pemantik perubahan, guru harus mampu menjadi pribadi yang inspiratif.
                Seperti apakah guru yang menginspirasi? Guru yang menginspirasi adalah guru yang:
1.       Berpikiran terbuka
Berpikir terbuka menyediakan kesempatan untuk melakukan dan menemukan hal-hal baru. Ujung-ujungnya adalah tumbuhnya inovasi dan daya kreasi guru. Dampaknya adalah munculnya pembelajaran yang menyenangkan. Kalau pembelajaran sudah menyenangkan, maka dengan mudah anak mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna.
2.       Menyukai tantangan
Orang yang menyukai tantangan akan terus berusaha meningkatkan kapasitas kemampuan. Guru yang menyukai tantangan akan terus terpacu menjawab permasalahan. Pendidikan adalah dunia dinamis yang selalu berkembang sesuai kemajuan di bidang lainnya, dan sarat dengan tuntutan dan tantangan.
Pribadi yang mampu menyesuaikan diri dan antisipatif (tanggap) merupakan sosok masa depan. Guru yang mempunyai jiwa ini dilihat anak didiknya sebagai orang cerdas dan kekinian, mentor yang asyik untuk tumbuh kembang kemampuannya.
3.       Patut menjadi teladan
Menjadi teladan tidak harus menjadi manusia sempurna. Menjadi teladan adalah selalu berusaha memperbaiki diri dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Kelemahan bukan untuk ditutupi, tapi diperbaiki. Kesalahan bukan untuk disembunyikan, tapi bagaimana ia bisa menjadi sebuah pelajaran. Guru yang patut jadi teladan adalah guru yang nyaman dengan dirinya, nyaman dengan apa yang dikerjakannya. Nyaman karena selalu berjalan dalam trek yang seharusnya.

Tentu saja banyak hal lain yang bisa membuat guru menjadi sosok inspiratif. Bagi saya, ketiga poin tersebut adalah kunci yang akan membuka pintu menjadi guru sejati. Guru sejati, dialah guru yang menginspirasi.

Minggu, 23 Oktober 2016

FIRST Untuk Berpikir Kreatif

                Ketika semua kemudahan -sebagai ekses kemajuan teknologi- tidak disertai kesadaran bahwa ada sisi lain yang siap menggerus kemampuan potensial manusia, maka sebenarnya kita sedang menggali kuburan untuk diri sendiri. Serem? Ah, tidak juga.
                Katanya, manusia baru menggunakan sekitar 10% kapasitas kemampuan otak. Itu dulu, belasan dan puluhan tahun yang lalu, masa ketika manusia belum dimanjakan dengan dunia digital.  Saat dimana segala informasi masih mengandalkan otak sebagai tempat penyimpanan utama. Saat . dimana otak sangat diandalkan untuk merimajinasi dan mengkreasi hal-hal baru.
                Sekarang, masa kini, kita lebih sangat tergantung pada koneksi internet, baik untuk mengakses informasi, menyimpan data, atau pun mencari ide (baca: lihat ide yang sudah ada sebelumnya). Jelas sudah, otak semakin kita kurangi bebannya. Maksudnya kapasitas otak yang kita pakai semakin berkurang. Celakanya, otak bukan barang buatan manusia yang kalau sering dipakai akan semakin aus atau usang. Otak semakin sering dipakai ia akan semakin kuat dan cemerlang. Sama dengan otot.
                Dan kita pun semakin terlena dan kian manja. Sedikit-sedikit googling. Banyak solusi di sana, kenapa harus capek-capek mikir? Tanpa disadari, cara bertindak seperti ini membuat kita menumpulkan kemampuan (potensi) berpikir kreatif yang kita punya. Ketika menulis ini saya juga sadar, bahwa dunia virtual juga membuat orang terpacu untuk berpikir kreatif.
                Apakah berpikir kreatif itu? Berani keluar dari kebiasaan atau cara berpikir yang kita miliki selama ini, itulah kemampuan berpikir kreatif.  Intinya adalah keberanian berpikir bebas dan mengambil risiko. Sama sekali bukan masalah tentang mainstream atau anti mainstream.
                Pikiran yang positif adalah modal utama. Dr. John Langrehr mempunyai formula untuk berpikir positif dengan akronim FIRST. F adalah fantasi. Anak kecil umumnya lebih kuat daya fantasinya dibandingkan dengan orang dewasa. Kenapa? Salah satunya karena orang dewasa sudah terkontaminasi oleh pendidikan formal yang kurang menghargai fantasi.
                Selanjutnya adalah I: inkubasi. Orang yang kreatif itu tidak buru-buru. Ia akan membiarkan ide-idenya mengendap untuk beberapa waktu, sambil memikirkan solusi kreatif lainnya yang bisa jadi lebih baik. Kalau Anda terbiasa menggunakan mind mapping, sangat mudah memahami bahwa satu ide akan memantik ide-ide lainnya.
                R adalah risiko. Bisa jadi ide kreatif akan mengalami kegagalan atau tidak diterima orang lain. Orang yang kreatif harus berani mengambil risiko. Sesuatu yang hebat tidak tercipta begitu saja, ia akan menempuh masa kegagalan dan perbaikan. Dan yang pasti sesuatu tidak akan pernah menjadi kenyataan kalau tidak pernah dibuat, baik itu benda atau ide pemikiran.
                S, sensitivitas. Seorang pemikir kreatif sering mengamati benda, baik yang dibuat manusia atau yang alami. Ia selalu mengajukan pertanyaan kenapa bentuk, bahan, desaainnya seperti itu. Mengapa susunan huruf di keyborad seperti itu? Kenapa tulisan hurufnya tidak di tengah, tapi di sisi kiri atas? Mengapa tombol hurufnya berentuk persegi yang sudutnya tidak tajam? Biasakan menganalisa desain kreatif yang ada di sekitar kita.
                Terakhir T: titillate (bergairah). Ide kreatif akan mengalir saat kita dalam kondisi penuh semangat. Otak memerlukan suasana yang rileks agar dapat berpikir kreatif secara efektif. Dalam keadaan rileks, gelombang yang mengalir dalam otak adalah gelombang theta, dan otak menghasilkan endorfin (molekul bahagia). Dua faktor ini diperlukan saat kita konsentrasi tinggi untuk menghasilkan pemikiran kreatif.
                Kelima hal tersebut dibangun bukan hanya untuk kita sendiri. Ketika kita bekerja sebagai sebuah tim atau kita sedang melatihkan pemikiran kreatif kepada anak-anak kita, maka jadikan kelimanya sebagai fondasi kokoh bagi berdirinya bangunan kreatif.

Selasa, 20 September 2016

Belajar Bukanlah Seperti Sedang Menonton Pertandingan Olahraga Atau Pertunjukkan Film

Ada hal satu hal menarik –diantara banyak hal menarik- yang selalu saja muncul setiap tahun. Momen ketika anak bertanya: “Pak, kapan belajarnya?”
Momen seperti itu adalah saat yang menggelitik, membuat saya tersenyum. Bukan hanya senyum geli, tapi juga getir. Geli karena anak-anak tidak sadar bahwa mereka sedang belajar. Getir, begitu sadar betapa frame yang kurang pas tentang belajar sudah terpatri di benak anak-anak kelas bawah, anak-anak yang baru masuk dunia sekolah.
Ternyata baru dikatakan belajar kalau mengerjakan tugas atau mencatat. Belajar itu tempatnya di ruang kelas. Sehingga kalau belajar dikemas dalam bentuk yang berbeda, maka bukan lagi belajar namanya, tapi bermain.
Kalau sudah seperti ini, apa yang kita lakukan? Bagi saya ini adalah saat yang tepat untuk merubah paradigma anak tentang belajar. Biarlah paradigma anak yang berubah duluan, sementara (bisa jadi) paradigma orangtua masih belum berubah.
Paradigma seperti apa? Bahwa belajar itu bisa dilakukan dengan banyak cara, di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa pun. Saya tanyakan, dari sebuah kegiatan yang baru saja dilakukan adakah hal baru yang mereka dapatkan? Hal baru seperti apa? Ketika kita mendapatkan sesuatu yang baru, itu artinya kita sudah belajar.
Tentu saja tidak selalu belajar itu di luar kelas. Anak-anak juga mendapatkan pengalaman belajar di kelas, dengan beragam metode yang bisa dilakukan.
 Kata kuncinya adalah anak tidak hanya sekedar duduk di kelas untuk  mendengarkan penjelasan guru, menghafal paket materi yang telah dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru. Tetapi mereka harus berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya dalam  kehidupan sehari-hari mereka.
Mereka harus menjadikan  apa yang mereka pelajari  sebagai bagian dari dirinya sendiri. Belajar bukanlah seperti sedang  menonton pertandingan olahraga atau pertunjukkan film.



Selasa, 30 Agustus 2016

20 Metode Mengajar Super Keren dari Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah Uswatun Hasanah (Role Model) bukan hanya bagi Kaum Muslimin, namun juga ummat manusia. itulah mengapa Michael H. Hart dalam bukunya 100 orang yang paling berpengaruh dalam sejarah menjadikan Muhammad SAW sebagai orang nomor 1 sejagad.
Beliau menjadi contoh yang baik dalam seluruh aspek kehidupan, salah satunya adalah pendidikan. Beliau Pengajar yang sangat Luar Biasa.
Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec dalam bukunya Muhammad SAW The Super Leader Super Manager menuliskan 20 metode dan teknik pengajaran sebagai 'holistic learning methods' yang diambil dari Sirah Rasulullah SAW. Inilah 20 metode tersebut :
1. Learning conditioning (meminta diam untuk mengingatkan, menyeru secara langsung dan perintah untuk menyimak dan diam dengan cara tidak langsung);
2. Active interaction (interaksi pendengaran : teknik berbicara, tidak bertele-tele pada ucapan dan tidak terlalu bernada puitis, memperhatikan intonasi, diam sebentar ditengah-tengah penjelasan; interaksi pandangan : eye contact dalam mengajar, memanfaatkan ekspresi wajah, tersenyum);
3. Applied-learning (metode praktikum yang diterapkan oleh guru dan yang dilakukan oleh siswa);
4. Scanning and levelling (memahami siswa secara individu sesuai tingkat kecerdasannya);
5. Discussion and feed-back (metode yang logis dalam memberikan jawaban dan membuat contoh sederhana yang mudah dipahami);
6. Story telling (bercerita);
7. Analogy and case study (memberikan perumpamaan dan studi kasus nyata di sekitar kehidupan);
8. Teaching and Motivating (meningkatkan gairah belajar dan rasa keingintahuan yang tinggi);
9. Body language (membuat penyampaiannya bertambah terang, lebih pasti dan jelas; menarik perhatian pendengar dan membuat makna yang dimaksud melekat pada pikiran; mempersingkat waktu);
10. Picture and graph technology (penjelasan diperkuat dengan gambar atau tulisan);
11. Reasoning and argumentation (mengungkapkan alasan akan memperjelas sesuatu yang sulit dan berat agar dipahami oleh siswa);
12. Self reflection (memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab sendiri suatu pertanyaan agar siswa dapat mengoptimalkan kerja otak dan mengasah pikiran);
13. Affirmation and repetition (pengulangan kalimat dan ucapan nama);
14. Focus and point basis ( menggunakan teknik berdasarkan rumusan-rumusan besar atau poin akan membantu siswa dalam menyerap ilmu dan menjaganya dari lupa);
15. Question and answer method (teknik bertanya untuk menarik perhatian pendengar dan membuat pendengar siap terhadap apa yang akan disampaikan kepadanya);
16. Guessing with question (penting untuk memperkuat pemahaman dan memperbesar keingintahuan);
17. Encouraging student to ask (guru memberikan kesempatan dan motivasi kepada siswa untuk berani mengajukan pertanyaan : bertanya dapat menghapus kebodohan serta memperbaiki pemahaman dan pemikiran dan menjadi alat evaluasi guru atas cara penyampaian pelajarannya);
18. Wisdom in answering question (menyikapi orang-orang yang mengajukan pertanyaan sesuai dengan tingkat pengetahuannya; menyikapi si penyanya dengan sikap yang bermanfaat baginya);
19. Commenting on student answer (memberikan komentar terhadap jawaban siswa);

20. Honesty (seorang guru harus menanamkan sikap mulia berani mengakui ketidaktahuan ke dalam diri siswanya. ucapan 'aku tidak tahu adalah bagian dari ilmu')

Jumat, 26 Agustus 2016

Apa Yang Dihasilkan Sekolah?

Anda sebagai pelaku dalam dunia pendidikan, ataupun selaku orangtua tentu saja sembarangan memilih sekolah sebagai tempat beraktivitas ataupun sebagai tempat yang dipercaya mampu memberikan pendidikan terbaik.
Namun, sudahkah kita sadar produk apa yang dihasilkan sekolah?  Setidaknya sekolah menghasilkan:
a. Pengetahuan. Kita perlu kumpulan fakta yang selalu berkembang untuk memahami apa yang sedang kita pelajari, dan dengannya mampu merangkai solusi yang kreatif.
b. Keterampilan. Keterampilan menjadikan pengetahuan dapat bekerja. Yang termasuk di dalamnya adalah belajar bagaimana belajar, cara berpikir analitis dan kreatif, keterampilan akademis, dan vokasional.
c. Kebijaksanaan. Kemampuan untuk menentukan prioritas, kemampuan menganggarkan waktu secara efektif, kemampuan menafsirkan dan membuat pertimbangan, kemampuan bersikap fleksibel dan berpikiran terbuka. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menganalisis pengalaman dan bertindak atas dasar kesimpulan-kesimpulan. 
d. Karakter. Karakter sangat sering didefinisikan sebagai sifat-sifat seperti jujur, percaya diri, kemampuan bekerja sama, tekun, empati, dan integritas. Singkatnya, semua sifat dan perilaku yang baik.
e. Kematangan emosi. Kemampuan untuk mengenali, mengungkapkan dan mengelola suasana hati dan emosinya dan merespon orang lain secara simpatik; menunda kepuasan sesaat; mengelola stres, rasa marah, dan cemas; menyelesaikan konflik secara rasional dan bersikap tegas tanpa mesti agresif.
Nah, jelas sudah bahwa produk sekolah adalah manusia yang utuh. Sekolah mengembang semua sisi kemanusiaan, jadi tidak adil kalau kualitas sekolah dan produknya hanya dinilai dari satu sisi saja.

Sekolah yang unggul adalah sekolah yang mampu membangun pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memunculkan kebijaksanaan, mengembangkan karakter, dan mematangkan emosi.

Kamis, 04 Agustus 2016

Perjalanan 1000 Mil Dimulai Dari Satu Langkah Kecil


Boleh saja kita bermimpi melakukan atau menghasilkan sesuatu yang besar. Bahkan menurut saya harus. Bukan untuk prestise, tapi impian atau harapan membuat kita tahu apa yang ingin kita dapatkan sekaligus sebagai bahan bakar yang menggerakkan usaha-usaha pencapaian.
Namun tidak jarang kita terlalu fokus pada tujuan yang demikian besar dan tinggi, sehingga kita lupa dengan hal-hal kecil yang sebenarnya merupakan bahan penyusun bangunan yang kita sebut tujuan. Sedemikian kelihatan kecilnya, sampai-sampai sering dipandang hanya akan menghabiskan waktu secara percuma kalau harus mendapat perhatian.
Kemudian dengan sekuat tenaga dan potensi, meloncatlah kita menggapai mimpi besar. Apa yang terjadi? Tak jarang kita hanya tersungkur, lalu bangun dan meloncat lagi untuk jatuh, terjerembab, atau terbentur. Mimpi melayang, harapan tinggal harapan.
Namun apa yang terjadi kalau kita memulai dari hal-hal sederhana yang kita bisa lakukan. Kita titi jalan mendaki menuju puncak dengan menapaki apa yang mampu kita tempuh. Ada saatnya melompat, kadang bisa berlari, namun bisa jadi kita harus merangkak. Tanpa disadari, kita akan semakin dekat dengan tujuan yang diharapkan. Bisa jadi kita sendiri akan terkejut melihat kemajuan yang dicapai.
Dalam dunia pendidikan, yang tujuannya adalah menghasilkan pribadi yang lebih berkembang, generasi yang lebih baik, maka hal pertama yang dilakukan guru adalah memperbaiki kualitas diri. Akan sangat lucu bila mengajarkan kedisiplinan, tapi guru selalu menampilkan sikap indisipliner. Menjadi aneh bila guru menerangkan kesehatan tapi dia perokok. Sungguh mengenaskan ketika guru berbicara tentang ketertiban tapi tidak bisa antri dan berlaku seenaknya di jalannya.
Memperbaiki bangsa ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berapa juta telapk tangan yang harus dibalikkan? Namun kalau kita membalikkan telapak tangan sendiri, tentu saja jauh lebih mudah. Balikkan tangan kita, perbaiki diri kita. Perbaiki cara mengajar kita. Perbaiki tujuan dan niat kita. Ini langkah kecil kita menuju Indonesia lebih baik. Perlu revolusi?
Suka
Komentari

Jumat, 29 Juli 2016

Peraturan, Perlukah?


                Belasan tahun saya mengajar, ada banyak hal yang membuat saya begitu terpukau dengan dunia tersebut. Salah satunya adalah bagaimana kita menertibkan (baca: mengajarkan berlaku tertib) anak. Peraturan adalah sarana yang dipandang efektif dan paling sederhana untuk mencapai tujuan tersebut.

                Maka tak mengherankan ketika masuk ke sebuah kelas di suatu sekolah, saya menemukan ada 36 peraturan berikut konsekuensi. Jidat saya berkerut membacanya, dan tentu saja bengong setelahnya. Namun akhirnya saya merasa geli setelah sejenak menenangkan diri dan mencoba berpikir jernih.
                Bukan bermaksud menertawakan, namun bagi saya semakin banyak peraturan bagi anak berarti semakin lucu diri kita ini. Misalnya begini, di kelas kita bikin peraturan dimana ada lima belas poin larangan. Suatu ketika ada anak yang melakukan sebuah tindakan tidak patut (indispliner) namun belum tercover dalam peraturan yang dibuat, apakah anak tersebut dinyatakan melanggar peraturan? Peraturan mana yang dilanggar, kan tidak ada dalam poin-poin peraturan yang dibuat? Apakah kemudian kita akan menambahkan poin baru? Itu berarti kita tidak antisipatif.
                Inilah yang saya sebut lucu dan membuat saya geli. Peraturan dimana-mana pasti disertai sanksi. Peraturan pasti bersifat membatasi. Di satu sisi, dunia anak adalah tempat yang begitu dinamis. Anak butuh banyak mencoba dan bereksplorasi. Peraturan yang ketat dengan ancaman sanksi akan membatasi ruang gerak anak. Bisa jadi anak takut dengan sanksinya. Dan, ingatkah bahwa pendidikan itu tujuannya mengembangkan anak? Kalau ternyata kita sendiri yang membatasi anak untuk berkembang, bukan kah itu sesuatu yang lucu?
                Benar sekali kita harus mengajarkan anak untuk tahu aturan, tidak berlaku seeenak sendiri, dan menghargai orang lain. Kalau tanpa peraturan, lalu dengan apa? Beruntung saya menemukan jawabannya. Tidak usah bikin peraturan!
                Setiap awal tahun ajaran, saat pertama kali  masuk kelas, saya katakan: “Kalian boleh melakukan apa saja asal tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.” Sudah, cukup itu saja. Pendek, simpel, jelas, dan antisipatif. Disamping itu juga tidak membuat anak takut, bahkan mereka merasa aman dan nyaman. Kan boleh melakukan apa saja.
                Tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Itu kuncinya. Kita ajak anak memahami betul kalimat tersebut dengan contoh perbuatan. Akhirnya anak sadar bahwa apapun yang bersifat merugikan tidak boleh dilakukan. Apa saja itu? Banyak, dan tentu saja tidak akan cukup untuk menuliskan daftarnya. Dan memang tidak perlu didaftar.
                Tentu saja hal ini tidak otomatis membuat anak jadi tertib seratus persen. Justru ketika mereka melakukan tindakan yang merugikan, itulah saatnya menyadarkan dan membelajarkan bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.

                Jadi sebenarnya bukan tanpa aturan, tapi perturan yang dibuat sangat cair (pasal karet maksudnya, he..he..he...). Sehingga apapun perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang merugikan dan tidak boleh dilakukan.

Selasa, 26 Juli 2016

Apa yang Kita Harapkan, Itulah yang Kita Dapatkan


               
             Saya yakin bahwa apa yang kita peroleh nanti adalah buah dari harapan kita saat ini. Bisa jadi tidak benar-benar seperti yang kita harapkan, bisa jadi lebih baik. Tentu saja apa yang lebih baik tidak selalu mampu kita pahami dan terima dengan cepat. Kita perlu menempuh perjalanan waktu dan kejadian yang membuat kita paham. Hikmah tidak datang secara tiba-tiba.
                Begitu pula halnya dalam dunia pendidikan. Apa yang dicita-cita akan berbuah pada masanya. Bisa jadi cepat, mungkin juga butuh waktu lebih lama. Bisa jadi benar-benar sesuai, dan tidak menutup kemungkinan berbuah lebih manis. Praktisnya, sebagai seorang guru bersikap optimis terhadap pencapaian anak didik kita. Bagaimana pun kondisi dan potensi anak, ia tetap punya kesempatan untuk berhasil. Dan kitalah, sebagai seorang guru, yang berkewajiban memunculkan harapan itu.
                Hal pertama dan yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan harapan akan keberhasilan anak dalam diri kita sendiri. Yakinlah bahwa Tuhan tidak menyiakan-nyiakan ciptaannya dengan mematok takdir buruk terhadapnya. Bukankah Tuhan itu maha penyayang?
                Kesadaran dan harapan seperti itu akan memacu kita menemukan apa yang bisa dicapai anak kelak. Dapat dikatakan membuat target bagi anak tersebut. Kemudian kita akan tergerak untuk mencari strategi dan  menyusun langkah agar anak sampai pada tujuan yang dikehendaki.
                Inilah poin penting dari harapan; ada target dan strategi pencapaiannya. Kalau sudah demikian, maka tidak ada lagi anak yang tertinggal. Semuanya bergerak maju. Ada yang bisa berlari cepat, ada juga yang berjalan dengan irama yang membuat ia bisa mengamati segala sesuatu secara lebih seksama. Yang jelas ada kemajuan, dan inilah yang disebut tidak tertinggal.
                Tidak tertinggal bukan berarti semua harus sampai di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Cepat atau lambat, keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang cepat bisa mendapat banyak hal, sedangkan yang lebih lambat bisa belajar banyak tentang suatu hal.

                So, sudahkah Anda menetapkan harapan pada masing-masing anak didik Anda? Seberapa dalam dan bermakna harapan itu? Sudahkah jalannya Anda bentangkan? Kalau belum, tidak ada kata terlambat untuk memulai, selama waktu masih menempuh perjalanannya.

Senin, 25 Juli 2016

Membaca Adalah Dunia Tanpa Batas

             Membaca adalah kemampuan dasar yang sangat penting. Hampir seluruh sendi kehidupan berhubungan dengan membaca. Aksara ada dimana-mana. Bahkan kita merasa tak membaca apapun padahal mata kita melakukan proses baca. Ketika mengetik status di media sosial, kita tak sadar bahwa sebenarnya sedang membaca.
                Begitu pula saat di jalan atau tempat-tempat umum lainnya, semuanya tak lepas dari aktivitas membaca. Jadi jangan bilang “Aku ga suka baca”. Ketika nonton TV, main game, berolahraga, atau belanja adakah yang tanpa aktivitas membaca?
                Dalam tataran belajar, membaca adalah gerbang utama masuknya pengetahuan. Terlebih dalam era digital saat ini, membaca merupakan aktivitas utama dalam mendapatkan informasi. Masalahnya adalah dalam belajar, kemampuan membaca bukan hanya sekedar bisa membunyikan rangkaian huruf. Tidak cukup hanya mengajarkan anak sekedar bisa baca saja.
                Proses belajar hendaknya membuat anak biasa untuk memahami, mampu mengaplikasikan, berpikir kritis analitis, dan mempunyai daya kreativitas. Walaupun bukan satu-satunya jalan, membaca bisa mengembangkan keterampilan-keterampilan tadi. Tentu saja melalui aktivitas yang dibangun secara terencana dan sistematis. Artinya ada target-target yang harus dicapai dan bagaimana mencapainya.
                Saat ini kebanyakan sekolah masih membiasakan anak membaca supaya hapal. Hapal materi pelajaran, dan ketika ulangan bisa menjawab sesuai dengan buku teks yang bacanya. Dan sayangnya, kebanyakan guru puas dan berhenti pada proses ini saja. Sebenarnya hal seperti ini masih jauh dari tujuan belajar membaca itu sendiri.

                Belajar membaca tidak berhenti ketika anak sudah lancar membaca. Lancar membaca baru awal saja, bukan tujuan akhir. Anak perlu terus distimulasi supaya ia bisa memahami isi bacaan dan berpikir kritis-kreatif. Nah, pada tahap inilah justru keseruan membaca terbangun. Anak bisa mengeksplorasi banyak hal dari apa yang ia baca. Imajinasinya berkembang. Daya kritisnya terasah. Membaca adalah dunia yang tanpa batas.

Rabu, 20 Juli 2016

Berjalan Lebih Lambat, Menyelam Lebih Dalam: Indahnya Kampung Halaman

               

Dulu, ketika menghabiskan masa kecil di kampung, terasa tak ada yang istimewa. Menghabiskan waktu di sungai dengan memancing dan mandi adalah hal biasa. Melihat kumpulan ratusan burung pipit, ikan-ikan kecil di selokan dan saluran irigasi sawah adalah hal lumrah. Berlarian di pematang sawah, dan kalau haus minum air sawah sering kami lakukan.










                Pemandangan pagi yang sedikit berkabut, sunrise di punggung Gunung Lawu, petani yang berangkat ke sawah fenomena yang tidak aneh mengawali pagi. Kupu-kupu yang jumlah yang sangat banyak di siang hari, nyanyi burung kutilang yang biasa kami buru  dengan ketapel adalah teman bermain saat pulang sekolah.
                Ketika matahari tenggelam di balik gagahnya Gunung Merapi, kelelawar mulai beterbangan. Bersenjatakan sarung, kami mencoba menjatuhkan salah satu; sesuatu yang sulit dilakukan. Aktivitas menunggu  maghrib tiba tanpa mempedulikan indahnya sunset.
                Kini, ketika kembali ke tempat yang sama membawa kedua anak saya, ada yang berbeda. Sawah masih membentang. Sungai tempat bermain masih mengalirkan air. Pagi tetap temaram oleh kabut tipis.
Tapi burung-burung di sawah tidak sebanyak dahulu. Barisan kupu-kupu kini tak tampak lagi. Kelelawar di langit senja tak lagi menarik untuk diajak bermain. Sebenarnya bukan perubahan seperti ini yang membuat saya sedikit mengernyit. Fenomena tadi adalah hal lumrah yang tak perlu pembahasan bertele-tele. Waktu bergulir, masa berganti, kampung terseret-seret arus globalisasi. Itu saja cukup untuk menjelaskan.
Yang berbeda adalah cara saya memandang semua fenomena alam. Dulu semua tidak saya perhatikan karena setiap hari keadaannya seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Ketika saya katakan pada anak-anak bahwa di sini, dikampung ini, saat cuaca cerah kita bisa menyaksikan sunrise dan sunset , mereka begitu antusias ingin menyaksikannya.
Jadilah kami merencanakan kegiatan tersebut. Beberapa menit sebelum matahari muncul, kami pergi ke sawah, tempat yang tak terhalang rumah penduduk. Kami mengamati saat-saat sebelum matahi muncul dari balik gunung sampai nyalanya mulai terang. Wow, pemandangan pagi yang tak pernah disaksikan anak saya sebelumnya.
Dari sana saya kenalkan mereka dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar. Sawah yang sudah ramai dengan petani yang menanam padi, embun-embun di daun, serangga-serangga kecil, dan binatang-binatang lainnya. Ternyata banyak sekali yang mereka pelajari,  dan saya pelajari juga.
Ketika segala sesuatu kita anggap fenomena yang biasa, maka kita tak akan pernah tertarik untuk melihatnya lebih mendalam. Namun, bila kita melihat sesuatu dengan ketakjuban, maka kita akan menemukan hal-hal menarik lainnya. Saya pun mencoba membuat ketakjuban. Suara air, bentangan sawah yang bergelombang, kuak bebek yang berisik, dan hal yang pada jaman dahulu saya anggap sepele sekarang yang perhatikan sungguh-sungguh.
Dan, oh! Kampung saya ternyata indah. Pemandangan alamnya hanya sawah, tapi indah. Indah karena saya menikmatinya. Saya  senang  menatapnya.
Inilah, yang penting bukan seberapa jauh kita berjalan, tapi seberapa dalam kita menyelam. Anak-anak mengenal aneka semak dan serangga, saya juga menikmatinya. Anak-anak terpukau  dengan kawanan Burung Kuntul (sejenis bangau) yang berputar-putar di atas sawah, saya juga menikmatinya. Saya ingat ketika Burung Puyuh sering dan Tekukur sering di temukan di pematang sawah. Saya rindu kerbau yang dipakai membajak sawah. Sekarang sudah tak ada. Saya ceritakan bahwa dulu di sawah kita bisa mencari ikan dan belut. Sekarang tak ada.

Tapi saya senang membawa anak-anak menyusur pesawahan. Tidak jauh, tapi kami berjalan perlahan memperhatikan semua hal. Banyak yang tidak terperhatikan ketika kita ingin serba cepat. Banyak hal menarik ketika kita tak perlu tergesa.